Wuwuk, 9 Maret 2026 — KUMA Tawaang kembali memperkuat langkahnya dalam membangun ekonomi Masyarakat Adat melalui dukungan terhadap anggota yang memelihara babi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KUMA Tawaang untuk mengembangkan usaha produktif berbasis keluarga, komunitas, dan sumber daya lokal. Wuwuk, 9 March 2026 — KUMA Tawaang continued strengthening its efforts to build an Indigenous community economy by supporting members who raise pigs. The activity forms part of KUMA Tawaang’s work to develop productive enterprises rooted in families, the community, and local resources.
Dukungan terhadap anggota yang memelihara babi tidak hanya dilihat sebagai bantuan ternak, tetapi sebagai modal awal untuk membangun kemandirian ekonomi. Melalui usaha peternakan kecil, anggota diharapkan dapat memiliki sumber pendapatan tambahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Support for members raising pigs is not seen merely as livestock assistance, but as initial capital for building economic self-reliance. Through small-scale livestock enterprises, members are expected to develop additional sources of income that remain closely connected to everyday community life.
Dalam kegiatan ini, KUMA Tawaang mulai mendukung pemeliharaan babi secara bertahap, dimulai dari tiga ekor. Langkah ini dipilih agar usaha dapat dijalankan dengan lebih hati-hati, terukur, dan sesuai dengan kemampuan anggota dalam merawat ternak. In this activity, KUMA Tawaang began supporting pig raising gradually, starting with three animals. This approach was chosen so the enterprise could be managed more carefully, at a measured scale, and in line with members’ capacity to care for the livestock.
Menurut Stevan Wuisan, memelihara babi masih menjadi usaha yang sangat menguntungkan bagi masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa usaha ini tetap harus dijalankan dengan kewaspadaan, terutama karena ancaman penyakit babi seperti Demam Babi Afrika atau African Swine Fever masih perlu diperhatikan. According to Stevan Wuisan, raising pigs remains a potentially profitable livelihood for the community. He cautioned, however, that it must be managed carefully, particularly because diseases such as African Swine Fever remain a concern.
“Memelihara babi itu masih sangat menguntungkan. Tapi kita juga harus hati-hati, karena virus yang menyerang babi masih mengintai. Karena itu, lebih baik kita mulai dari tiga ekor dulu, supaya bisa dijaga dan dikelola dengan baik,” ujar Stevan. “Raising pigs can still be very profitable. But we also have to be careful because viruses that affect pigs are still a threat. That is why it is better to start with three animals first, so they can be properly cared for and managed,” Stevan said.
Menurutnya, memulai dari jumlah kecil bukan berarti tidak memiliki target besar. Justru dengan memulai dari tiga ekor, anggota dapat belajar mengelola pakan, kebersihan kandang, kesehatan ternak, dan perhitungan usaha secara lebih baik. He explained that starting on a small scale does not mean lacking larger goals. By beginning with three pigs, members can learn to manage feed, pen cleanliness, animal health, and the economics of the enterprise more effectively.
“Kalau langsung banyak, risikonya juga besar. Tapi kalau mulai dari sedikit, kita bisa belajar dulu. Yang penting ternaknya sehat, kandangnya bersih, dan anggota yang memelihara benar-benar siap,” tambahnya. “If we start with too many at once, the risk is also greater. But if we begin with a small number, we can learn first. What matters is that the animals are healthy, the pens are clean, and the members raising them are truly prepared,” he added.
Bagi KUMA Tawaang, peternakan babi merupakan salah satu bagian penting dari sistem ekonomi terpadu yang sedang dibangun. Usaha ini dapat dihubungkan dengan unit pertanian, perikanan, dan pangan lokal. Hasil dari sawah dan kebun dapat membantu kebutuhan pakan, sementara limbah ternak dapat dikelola kembali untuk mendukung pertanian. For KUMA Tawaang, pig farming is an important part of the integrated economic system being developed. It can be connected with agriculture, fisheries, and local food activities. Products from rice fields and gardens can help meet feed needs, while livestock waste can be managed and returned to agriculture.
Dengan cara ini, KUMA Tawaang tidak melihat peternakan sebagai usaha yang berdiri sendiri. Peternakan babi menjadi bagian dari siklus ekonomi komunitas yang saling mendukung antara tanah, pangan, ternak, tenaga kerja, dan pengetahuan lokal. In this way, KUMA Tawaang does not see livestock as a stand-alone enterprise. Pig farming becomes part of a community economic cycle in which land, food, animals, labour, and local knowledge support one another.
Kegiatan pada 9 Maret 2026 ini juga memperlihatkan bahwa KUMA Tawaang mendorong anggota untuk membangun usaha dari skala kecil, tetapi dengan arah yang jelas. Prinsip kehati-hatian menjadi penting agar usaha dapat bertahan, berkembang, dan tidak membebani anggota. The activity on 9 March 2026 also shows that KUMA Tawaang encourages members to build enterprises from a small scale but with a clear direction. A cautious approach is important so that the enterprise can survive, grow, and avoid becoming a burden on members.
Selain memperkuat ekonomi keluarga, usaha peternakan babi juga diharapkan dapat menjadi ruang belajar bersama bagi anggota KUMA Tawaang. Dari proses pemeliharaan, anggota dapat memahami bagaimana menghitung biaya pakan, menjaga kesehatan ternak, mengatur waktu pemeliharaan, hingga melihat peluang pasar. In addition to strengthening household economies, pig farming is also expected to become a shared learning space for KUMA Tawaang members. Through the process of raising livestock, members can learn how to calculate feed costs, maintain animal health, manage the production cycle, and assess market opportunities.
Semangat yang dibangun KUMA Tawaang adalah semangat ekonomi yang tumbuh dari kampung sendiri. Bukan ekonomi yang hanya bergantung pada bantuan dari luar, tetapi ekonomi yang lahir dari kerja anggota, sumber daya lokal, dan kebersamaan komunitas. KUMA Tawaang is building an economy that grows from the village itself. It is not an economy dependent only on outside assistance, but one built through members’ work, local resources, and community solidarity.
Melalui dukungan terhadap anggota yang memelihara babi, KUMA Tawaang sedang memperkuat salah satu fondasi ekonomi Masyarakat Adat. Dari tiga ekor babi, KUMA Tawaang ingin membangun harapan yang lebih besar: anggota yang lebih mandiri, keluarga yang lebih kuat, dan komunitas yang mampu mengelola sumber ekonominya sendiri. By supporting members who raise pigs, KUMA Tawaang is strengthening one of the foundations of the Indigenous community economy. From three pigs, KUMA Tawaang seeks to build a larger hope: more self-reliant members, stronger families, and a community capable of managing its own economic resources.
Kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan KUMA Tawaang untuk mewujudkan masyarakat yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya. This activity forms part of KUMA Tawaang’s journey toward a community that is politically sovereign, economically self-reliant, and culturally dignified.
KUMA Tawaang: Berdaulat, Mandiri, Bermartabat. KUMA Tawaang: Sovereign, Self-Reliant, Dignified.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar