Profil WUWUK FILM
Wuwuk Film adalah komunitas film Masyarakat Adat yang digerakkan oleh Pemuda dan Pemudi Adat Minahasa. Komunitas ini berbasis di Komunitas Adat Ro'ong Wuwuk, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Indonesia. Wuwuk Film menjadi ruang kreatif, ruang belajar, sekaligus rumah produksi bagi karya-karya audiovisual yang berakar pada kehidupan, pengetahuan, dan pengalaman Masyarakat Adat.
Nama Wuwuk berasal dari nama Komunitas Masyarakat Adat Wuwuk. Nama ini sendiri berakar dari nama sebuah pohon, yaitu pohon Wuwuk, yang dikenal memiliki aroma harum dan menghasilkan getah beraroma. Pohon ini juga dikenal sebagai salah satu pohon penghasil damar. Karena itu, nama Wuwuk bukan hanya penanda tempat, tetapi juga simbol akar, kehidupan, ingatan, dan hubungan antara Masyarakat Adat dengan alam.
Sementara itu, kata Film merepresentasikan identitas komunitas ini sebagai komunitas film Masyarakat Adat. Wuwuk Film didirikan untuk menjadi rumah produksi bagi karya-karya audiovisual yang mengangkat cerita, pengetahuan, budaya, dan kehidupan Masyarakat Adat Minahasa secara khusus, serta Masyarakat Adat di Nusantara secara lebih luas.
Wuwuk Film merupakan bagian dari unit kreatif KUMA Tawaang, sebuah gerakan ekonomi, budaya, dan pengetahuan Masyarakat Adat yang berbasis di Ro’ong Wuwuk, Minahasa Selatan. Dalam ekosistem KUMA Tawaang, Wuwuk Film berperan sebagai ruang dokumentasi, produksi audiovisual, pendidikan kreatif, dan penguatan narasi Masyarakat Adat. Melalui film, fotografi, dokumenter, dan karya audiovisual lainnya, Wuwuk Film mendukung kerja-kerja KUMA Tawaang dalam merawat pengetahuan leluhur, memperkuat identitas budaya, mendokumentasikan praktik agroekologi, serta menyuarakan hubungan Masyarakat Adat dengan tanah, pangan, alam, dan kehidupan komunitas.
Tujuan utama Wuwuk Film adalah menciptakan ruang bagi Masyarakat Adat untuk memproduksi dan menceritakan kisah mereka sendiri. Wuwuk Film percaya pada prinsip:
“Nothing about us without us.”
Tidak ada cerita tentang kami tanpa kami sendiri.
Prinsip ini menjadi dasar kerja kreatif Wuwuk Film. Film tidak hanya dipandang sebagai bentuk seni atau media hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk merawat ingatan, mendokumentasikan pengetahuan leluhur, memperkuat identitas, dan menyuarakan pengalaman Masyarakat Adat dari perspektif mereka sendiri.
Melalui film, dokumenter, fotografi, dan karya audiovisual lainnya, Wuwuk Film berupaya menghadirkan cerita-cerita yang lahir dari dalam komunitas. Cerita-cerita ini mencakup sistem pengetahuan Masyarakat Adat, hubungan antara manusia, tanah, dan alam, bahasa, tradisi lisan, spiritualitas, pangan, pertanian, perubahan iklim, serta berbagai karya yang terinspirasi dari cara hidup Masyarakat Adat.
Wuwuk Film juga menjadi ruang bagi para pembuat film Masyarakat Adat untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan membangun kepercayaan diri dalam menceritakan dunia mereka sendiri. Dengan semangat berkarya dari kampung, Wuwuk Film ingin menunjukkan bahwa Masyarakat Adat bukan sekadar objek cerita, melainkan subjek utama, pencerita, pemegang pengetahuan, dan pencipta narasi mereka sendiri.
Dengan akar yang kuat di Komunitas Masyarakat Adat Wuwuk, Wuwuk Film terus bergerak maju untuk menciptakan film-film yang jujur, dekat dengan kehidupan masyarakat, serta berpihak pada Masyarakat Adat, alam, dan generasi muda.
Mengenal Tim Wuwuk Film
Para sineas Masyarakat Adat di balik Wuwuk Film memiliki cerita dan perspektif yang unik. Bersama-sama, kami membawa semangat dan kreativitas dalam setiap karya.
Kalfein Maikel Wuisan
Kalfein Wuisan adalah pemuda adat Minahasa dari Sulawesi Utara, Indonesia. Ia adalah sineas Masyarakat Adat, penulis, dan pencerita. Sejak 2009, ia telah memproduksi 10 film untuk mendorong dan memperkuat budaya serta identitas Masyarakat Adat. Ia adalah pendiri Smartphone Movement, sebuah gerakan budaya yang dipimpin oleh pemuda adat untuk berbagi pengetahuan tentang penggunaan smartphone dalam menciptakan fotografi, film, dan desain grafis sebagai alat untuk melindungi dan memperkuat Masyarakat Adat.
Kalfein telah terlibat dalam berbagai kegiatan perfilman di tingkat lokal, nasional, dan internasional, serta pernah diundang sebagai fasilitator, pelatih, dan pembicara dalam bidang pembuatan film, fotografi, dan storytelling. Karya-karyanya telah diputar di berbagai platform nasional dan internasional, termasuk Konferensi Perubahan Iklim PBB, Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB, dan berbagai festival film. Ia juga aktif terlibat dalam kampanye global yang berkaitan dengan Masyarakat Adat.
Lisah Rumengan
Keterlibatannya dalam storytelling budaya tidak hanya terbatas pada seni, tetapi juga meluas melalui keanggotaannya dalam beberapa organisasi adat, termasuk Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Lisah juga merupakan anggota aktif Komunitas Film Orang Gunung, sebuah kolektif kreatif yang berdedikasi memproduksi film-film yang berakar pada narasi lokal dan perspektif Masyarakat Adat. Melalui karyanya, Lisah terus berkontribusi pada pelestarian dan ekspresi identitas Minahasa dalam ruang budaya kontemporer.
Rendy Iroth
Rendy Iroth adalah Pemuda Adat, sound designer, dan produser musik dari Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Pada tahun 2017, ia mulai menjadi editor dan sound engineer untuk film-film pendek tentang kehidupan sosial masyarakat Minahasa. Ia juga telah memproduksi beberapa video dokumenter tentang tradisi kuliner Minahasa yang kemudian diunggah ke YouTube.
Rendy terlibat dalam berbagai pertunjukan teater dan pernah menerima penghargaan sebagai Penata Artistik Terbaik di beberapa festival teater di Sulawesi Utara. Sebagai produser musik, ia memadukan musik etnik Minahasa, termasuk makaaruyen dan kolintang, dengan nuansa orkestra modern untuk soundtrack teater bertema budaya Minahasa. Ia juga aktif dalam penulisan bahasa adat Minahasa.
Petra Rondonuwu
Petra Rondonuwu adalah Pemuda Adat Minahasa dari Sulawesi Utara, Indonesia, yang dikenal melalui karyanya sebagai pembuat film, fotografer, dan desainer grafis. Ia memulai kariernya di bidang audiovisual pada tahun 2017 dan terus berkomitmen mengangkat isu-isu budaya serta identitas lokal melalui karya kreatifnya.
Aktif dalam berbagai gerakan budaya, Petra menjadikan kampung halamannya sebagai sumber inspirasi dan dasar perjalanan artistiknya. Melalui fotografi dan film, ia membawa narasi identitas Minahasa ke panggung nasional serta memperkuat peran pemuda adat dalam ruang kreatif dan budaya kontemporer.
Petra juga terlibat dalam organisasi perfilman nasional, termasuk Digital Cinematography Indonesia (DCI). Ia menjabat sebagai Direktur Congregational Art Center, sebuah komunitas seni berbasis di Minahasa yang berfokus pada seni digital, pembuatan film, dan teater. Pada April 2025, Petra terpilih sebagai salah satu Local Directors untuk proyek global A Day On Earth, yang diselenggarakan oleh organisasi berbasis di Amerika Serikat, If Not Us Then Who? Keterlibatannya mencerminkan pengaruhnya yang semakin berkembang dalam menghadirkan narasi lokal dari perspektif pemuda adat di Indonesia.
Aldi Egeten
Aldi Egeten adalah Pemuda Adat dari masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia, yang sejak usia muda telah memiliki keterlibatan mendalam dalam dunia sastra dan teater. Dengan latar belakang akademik di bidang Sastra Inggris, Aldi mengembangkan jalan kreatifnya sebagai pembuat film sekaligus seniman teater yang berdedikasi.
Pada tahun 2017, ia ikut mendirikan Manado Expression, sebuah kolektif konten kreatif yang berfokus pada pembuatan film dan storytelling digital. Kecintaannya pada sinema dan narasi budaya juga membawanya aktif dalam berbagai komunitas film, termasuk Komunitas Film Orang Gunung.
Aldi merupakan mantan Ketua Congregational Theater Center, sebuah kolektif seni berbasis Minahasa yang bergerak dalam seni digital dan pertunjukan. Selain itu, Aldi juga pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Daerah Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Minahasa Selatan periode 2019–2024.
Sebagai seniman adat dan penggerak budaya, Aldi terus menciptakan film dan karya fotografi yang berpusat pada ingatan budaya, identitas lokal, dan pengalaman hidup komunitasnya, dengan landasan pengetahuan leluhur dan tradisi bercerita Minahasa.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar