Uru: Pengetahuan Masyarakat Adat Menjaga Kebun Cabe
Harga cabe pernah mencapai sekitar Rp150 ribu per kilogram. Pada saat harga sedang tinggi, kebun cabe KUMA Tawaang menjadi sasaran pencurian. Cabe yang dirawat berbulan-bulan dan menjadi salah satu sumber ekonomi komunitas mulai diambil orang tanpa izin.
KUMA Tawaang kemudian menggunakan pengetahuan Masyarakat Adat untuk menjaga kebun. Pengetahuan itu dikenal sebagai Uru. Dalam beberapa penyebutan di masyarakat, pengetahuan ini juga dikenal sebagai A’weng.
Dalam pengetahuan yang hidup di Masyarakat Adat, Uru digunakan untuk menjaga suatu tempat agar orang yang datang dengan niat mengambil sesuatu tidak dapat membawa hasil curian keluar dari tempat tersebut. Orang itu bisa masuk ke kebun, memetik cabe, bahkan mengumpulkannya. Namun setelah itu, orang tersebut tidak pergi membawa cabe yang sudah diambil.
Dalam cerita yang hidup di masyarakat, orang yang terkena Uru akan tetap berada di sekitar kebun. Cabe yang sudah dipetik justru diletakkan kembali, misalnya di pondok yang ada di kebun. Setelah itu orang tersebut pulang tanpa membawa apa-apa.
Bagi KUMA Tawaang, pengalaman ini menunjukkan bahwa menjaga hasil kebun tidak selalu hanya dilakukan dengan pagar, kunci, kamera, atau penjagaan malam. Masyarakat Adat juga mempunyai pengetahuan sendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk menjaga kebun dan hasil kerja komunitas.
Pengetahuan seperti Uru adalah bagian dari pengetahuan Masyarakat Adat yang lahir dari hubungan panjang dengan wilayah adat. Pengetahuan itu hidup bersama kebun, hutan, tanaman, batas-batas ruang, aturan sosial, dan cara masyarakat menjaga hubungan dengan sesama.
Karena itu, ketika berbicara tentang ekonomi Masyarakat Adat, yang dijaga bukan hanya cabe atau nilai jualnya. Yang dijaga juga adalah pengetahuan yang memungkinkan masyarakat mempertahankan hasil kerja sendiri.
Cabe KUMA Tawaang mungkin memiliki harga di pasar. Pada saat itu, harganya bahkan mencapai sekitar Rp150 ribu per kilogram. Tetapi pengetahuan yang digunakan untuk menjaganya tidak bisa dihitung hanya dengan rupiah.
Uru mengingatkan bahwa ekonomi Masyarakat Adat tidak berdiri sendiri. Ekonomi hidup bersama wilayah adat, pengetahuan, aturan masyarakat, dan cara Masyarakat Adat menjaga apa yang menjadi hasil kerja bersama.
Uru: Indigenous Knowledge for Protecting the Chilli Garden
Chilli prices once reached around Rp150,000 per kilogram. When the price was high, KUMA Tawaang’s chilli garden became a target for theft. Chillies that had been cared for for months and had become one of the community’s sources of income began to be taken without permission.
KUMA Tawaang then used Indigenous knowledge to protect the garden. This knowledge is known as Uru. In some community usage, it is also known as A’weng.
In knowledge that lives within the Indigenous community, Uru is used to protect a place so that someone who enters with the intention of taking something cannot carry the stolen harvest away from that place. A person may enter the garden, pick the chillies, and even gather them together. But afterwards, that person does not leave with the chillies that were taken.
In stories that continue to live in the community, a person affected by Uru remains around the garden. The chillies that have already been picked are instead placed back, for example in the garden hut. After that, the person goes home without taking anything.
For KUMA Tawaang, this experience shows that protecting a harvest is not always done only with fences, locks, cameras, or night guards. Indigenous Peoples also have knowledge passed down from generation to generation for protecting gardens and the results of community work.
Knowledge such as Uru is part of Indigenous knowledge that has grown from a long relationship with Indigenous territory. It lives together with gardens, forests, plants, spatial boundaries, social rules, and the ways communities maintain relationships with one another.
For that reason, when speaking about the Indigenous economy, what is being protected is not only the chillies or their market value. What is also being protected is the knowledge that allows the community to defend the results of its own work.
KUMA Tawaang’s chillies may have a price in the market. At that time, the price reached around Rp150,000 per kilogram. But the knowledge used to protect them cannot be measured only in rupiah.
Uru reminds us that the Indigenous economy does not stand alone. It lives together with Indigenous territory, knowledge, community rules, and the ways Indigenous Peoples protect what has been produced through collective work.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar