KUMA Tawaang Harvests Common Carp, Strengthening Food and the Community Economy

Wuwuk, 25 Mei 2026 — KUMA Tawaang melaksanakan kegiatan panen ikan mas sebagai bagian dari upaya memperkuat pangan lokal, kerja kolektif, dan ekonomi Masyarakat Adat berbasis sumber daya yang dimiliki sendiri. Wuwuk, 25 May 2026 — KUMA Tawaang harvested common carp as part of its efforts to strengthen local food systems, collective work, and an Indigenous community economy built from resources the community already owns.

Sejak pagi, anggota KUMA Tawaang mulai berkumpul di sekitar kolam ikan. Suasana panen berlangsung sederhana, tetapi penuh semangat. Beberapa anggota turun langsung ke kolam untuk menangkap ikan, sementara yang lain membantu menyiapkan wadah, mengangkat hasil panen, dan membersihkan area sekitar kolam. From the morning, KUMA Tawaang members began gathering around the fish pond. The harvest was simple but full of energy. Some members entered the pond to catch the fish, while others prepared containers, carried the harvest, and cleaned the area around the pond.

Kegiatan ini memperlihatkan semangat mapalus, yaitu kerja saling membantu yang menjadi salah satu kekuatan sosial Masyarakat Adat Minahasa. Panen ikan mas tidak hanya dilihat sebagai kegiatan mengambil hasil dari kolam, tetapi juga sebagai proses belajar bersama untuk membangun kemandirian ekonomi komunitas. The activity reflects the spirit of mapalus, a practice of mutual assistance that remains one of the social strengths of Minahasa Indigenous Peoples. Harvesting common carp is not seen only as taking fish from a pond, but also as a shared learning process for building community economic self-reliance.

Ketua KUMA Tawaang, Masri Sumondakh, mengatakan bahwa panen ikan mas ini menjadi bukti bahwa usaha kecil yang dikerjakan bersama dapat menghasilkan sesuatu yang nyata bagi kebutuhan masyarakat. KUMA Tawaang Chair Masri Sumondakh said the harvest shows that a small enterprise managed collectively can produce tangible benefits for community needs.

“Panen ikan mas ini bukan hanya soal hasil dari kolam, tetapi tentang bagaimana KUMA Tawaang belajar membangun kemandirian dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa kalau dikerjakan bersama dengan semangat mapalus, usaha kecil seperti ini bisa menjadi bagian dari kekuatan ekonomi Masyarakat Adat,” ujar Masri. “This common carp harvest is not only about what comes out of the pond, but about how KUMA Tawaang is learning to build self-reliance from things that are close to community life. We want to show that when an enterprise like this is managed collectively in the spirit of mapalus, it can become part of the economic strength of Indigenous Peoples,” Masri said.

Menurut Masri, kegiatan perikanan merupakan bagian dari rencana besar KUMA Tawaang untuk membangun ekonomi terpadu. KUMA Tawaang tidak hanya bergerak pada satu jenis usaha, tetapi berupaya menghubungkan pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha pangan lokal lainnya agar saling mendukung. According to Masri, fisheries are part of KUMA Tawaang’s broader plan to build an integrated economy. KUMA Tawaang does not focus on only one kind of enterprise, but seeks to connect agriculture, livestock, fisheries, and other local food activities so that they support one another.

“KUMA Tawaang tidak hanya melihat satu jenis usaha saja. Sawah, kebun, ternak, ikan, dan usaha lain harus saling mendukung. Dari situ kita membangun ekonomi yang berdaulat, mandiri, dan bermartabat. Panen ikan mas ini adalah salah satu langkah kecil menuju cita-cita itu,” tambahnya. “KUMA Tawaang does not look at only one kind of enterprise. Rice fields, gardens, livestock, fish, and other activities must support one another. From there we build an economy that is sovereign, self-reliant, and dignified. This common carp harvest is one small step toward that goal,” he added.

Melalui unit perikanan, KUMA Tawaang berupaya mengembangkan sumber pangan yang dapat memperkuat kebutuhan anggota, keluarga, dan komunitas. Ikan mas yang dipanen menjadi tanda bahwa potensi lokal dapat dikelola secara bersama dan memberi manfaat bagi masyarakat. Through its fisheries unit, KUMA Tawaang is developing a food source that can support members, families, and the wider community. The common carp harvest demonstrates that local potential can be managed collectively and provide benefits for the community.

Salah satu anggota KUMA Tawaang yang ikut langsung dalam kegiatan panen, Ongky Regar, mengatakan bahwa kegiatan ini memberi semangat baru bagi anggota. Menurutnya, panen ikan mas memperlihatkan bahwa usaha bersama memiliki harapan untuk terus dikembangkan. Ongky Regar, a KUMA Tawaang member who took part directly in the harvest, said the activity gave members renewed motivation. In his view, the common carp harvest shows that a collective enterprise has real potential to keep growing.

“Kami senang bisa ikut panen ikan mas ini. Dari awal dipelihara sampai akhirnya bisa dipanen, kami melihat bahwa usaha seperti ini punya harapan. Memang tidak langsung besar, tetapi kalau dijaga dan dikerjakan bersama, hasilnya bisa membantu anggota dan keluarga,” kata Ongky. “We are happy to take part in this common carp harvest. From the beginning of raising the fish until they were finally ready to harvest, we could see that an enterprise like this has promise. It may not become large immediately, but if it is cared for and managed together, the results can help members and their families,” Ongky said.

Ongky juga menyampaikan bahwa kegiatan panen ini menjadi ruang belajar bagi anggota KUMA Tawaang. Dari proses pemeliharaan hingga panen, anggota dapat melihat langsung apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki ke depan. Ongky also said the harvest creates a learning space for KUMA Tawaang members. From raising the fish through to harvesting them, members can directly evaluate what has worked well and what needs to be improved.

“Dari panen ini kami juga belajar. Apa yang masih kurang akan diperbaiki. Ke depan, kami ingin kolam ikan ini bisa lebih berkembang, supaya hasilnya lebih baik dan bisa menjadi salah satu sumber ekonomi bagi KUMA Tawaang,” ujarnya. “We are also learning from this harvest. Whatever is still lacking will be improved. Going forward, we want this fish pond to develop further so that the results improve and it can become one of KUMA Tawaang’s sources of income,” he said.

Selain melakukan panen, KUMA Tawaang juga melepaskan puluhan bibit ikan mas di sawah milik anggota yang berada di dekat kolam pemeliharaan. Pelepasan bibit ini dilakukan sebagai modal awal bagi anggota, agar mereka dapat mengembangkan usaha perikanan kecil di lahan masing-masing. In addition to harvesting fish, KUMA Tawaang also released dozens of young common carp into a member’s rice field near the main pond. The fish were provided as an initial resource so that members could begin developing small-scale fisheries on their own land.

Langkah ini memperlihatkan bahwa KUMA Tawaang tidak hanya memikirkan hasil panen hari itu, tetapi juga keberlanjutan usaha ke depan. Bibit ikan mas yang dilepaskan di sawah anggota diharapkan dapat tumbuh menjadi sumber pangan dan tambahan ekonomi bagi keluarga anggota. This step shows that KUMA Tawaang is thinking not only about the day’s harvest but also about the future of the enterprise. The young common carp released into members’ rice fields are expected to grow into a source of food and additional household income.

Dengan cara ini, unit perikanan KUMA Tawaang mulai berkembang dari satu kolam bersama menuju lahan-lahan anggota. Model ini sejalan dengan semangat mapalus, karena manfaat usaha bersama tidak hanya kembali kepada kelompok, tetapi juga memperkuat anggota dan keluarga mereka satu per satu. In this way, KUMA Tawaang’s fisheries unit is beginning to expand from one shared pond into members’ own land. This model reflects the spirit of mapalus, because the benefits of collective enterprise do not return only to the group but also strengthen individual members and their families.

Panen ikan mas ini menjadi bagian dari perjalanan KUMA Tawaang dalam membangun sistem ekonomi Masyarakat Adat yang berangkat dari kekuatan sendiri. Tanah, air, tenaga, pengetahuan lokal, dan kebersamaan komunitas menjadi modal penting dalam membangun usaha yang tidak tercerabut dari kehidupan masyarakat. This common carp harvest is part of KUMA Tawaang’s journey toward building an Indigenous economic system rooted in its own strengths. Land, water, labour, local knowledge, and community solidarity are important forms of capital for enterprises that remain connected to community life.

Dalam gagasan KUMA Tawaang, pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha kreatif tidak berjalan sendiri-sendiri. Semua unit usaha diharapkan dapat membentuk satu sistem yang saling menguatkan. Hasil dari sawah, kebun, ternak, dan kolam ikan dapat menjadi bagian dari siklus ekonomi yang lebih hemat, produktif, dan berkelanjutan. In KUMA Tawaang’s approach, agriculture, livestock, fisheries, and creative enterprises do not operate separately. All economic units are expected to form a mutually reinforcing system. The outputs of rice fields, gardens, livestock, and fish ponds can become part of an economic cycle that is more efficient, productive, and sustainable.

KUMA Tawaang juga telah menjadwalkan panen ikan mas berikutnya pada Desember 2026. Jadwal ini menunjukkan bahwa unit perikanan mulai diarahkan sebagai usaha yang lebih terencana dan berkelanjutan. Panen berikutnya diharapkan dapat memberi hasil yang lebih baik, sekaligus memperkuat pengalaman anggota dalam mengelola kolam ikan secara bersama. KUMA Tawaang has also scheduled its next common carp harvest for December 2026. This schedule shows that the fisheries unit is being developed as a more planned and sustainable enterprise. The next harvest is expected to produce better results while strengthening members’ experience in managing fish ponds collectively.

Kegiatan panen ikan mas pada 25 Mei 2026 ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi KUMA Tawaang, kegiatan ini adalah langkah penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat bahwa ekonomi dapat dibangun dari kampung, dari kerja bersama, dan dari sumber daya yang sudah dimiliki. The common carp harvest on 25 May 2026 may appear simple. For KUMA Tawaang, however, it is an important step in building community confidence that an economy can be developed from the village, through collective work, and from resources people already possess.

Dari kolam sederhana, KUMA Tawaang sedang menumbuhkan harapan yang lebih besar: masyarakat yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya. From a simple fish pond, KUMA Tawaang is nurturing a larger hope: a community that is politically sovereign, economically self-reliant, and culturally dignified.

KUMA Tawaang: Berdaulat, Mandiri, Bermartabat. KUMA Tawaang: Sovereign, Self-Reliant, Dignified.

Panen Ikan Mas KUMA Tawaang: Dari Kolam Bersama, Menyebar ke Sawah Anggota

KUMA Tawaang Harvests Common Carp, Strengthening Food and the Community Economy

Wuwuk, 25 Mei 2026 — KUMA Tawaang melaksanakan kegiatan panen ikan mas sebagai bagian dari upaya memperkuat pangan lokal, kerja kolektif, dan ekonomi Masyarakat Adat berbasis sumber daya yang dimiliki sendiri. Wuwuk, 25 May 2026 — KUMA Tawaang harvested common carp as part of its efforts to strengthen local food systems, collective work, and an Indigenous community economy built from resources the community already owns.

Sejak pagi, anggota KUMA Tawaang mulai berkumpul di sekitar kolam ikan. Suasana panen berlangsung sederhana, tetapi penuh semangat. Beberapa anggota turun langsung ke kolam untuk menangkap ikan, sementara yang lain membantu menyiapkan wadah, mengangkat hasil panen, dan membersihkan area sekitar kolam. From the morning, KUMA Tawaang members began gathering around the fish pond. The harvest was simple but full of energy. Some members entered the pond to catch the fish, while others prepared containers, carried the harvest, and cleaned the area around the pond.

Kegiatan ini memperlihatkan semangat mapalus, yaitu kerja saling membantu yang menjadi salah satu kekuatan sosial Masyarakat Adat Minahasa. Panen ikan mas tidak hanya dilihat sebagai kegiatan mengambil hasil dari kolam, tetapi juga sebagai proses belajar bersama untuk membangun kemandirian ekonomi komunitas. The activity reflects the spirit of mapalus, a practice of mutual assistance that remains one of the social strengths of Minahasa Indigenous Peoples. Harvesting common carp is not seen only as taking fish from a pond, but also as a shared learning process for building community economic self-reliance.

Ketua KUMA Tawaang, Masri Sumondakh, mengatakan bahwa panen ikan mas ini menjadi bukti bahwa usaha kecil yang dikerjakan bersama dapat menghasilkan sesuatu yang nyata bagi kebutuhan masyarakat. KUMA Tawaang Chair Masri Sumondakh said the harvest shows that a small enterprise managed collectively can produce tangible benefits for community needs.

“Panen ikan mas ini bukan hanya soal hasil dari kolam, tetapi tentang bagaimana KUMA Tawaang belajar membangun kemandirian dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa kalau dikerjakan bersama dengan semangat mapalus, usaha kecil seperti ini bisa menjadi bagian dari kekuatan ekonomi Masyarakat Adat,” ujar Masri. “This common carp harvest is not only about what comes out of the pond, but about how KUMA Tawaang is learning to build self-reliance from things that are close to community life. We want to show that when an enterprise like this is managed collectively in the spirit of mapalus, it can become part of the economic strength of Indigenous Peoples,” Masri said.

Menurut Masri, kegiatan perikanan merupakan bagian dari rencana besar KUMA Tawaang untuk membangun ekonomi terpadu. KUMA Tawaang tidak hanya bergerak pada satu jenis usaha, tetapi berupaya menghubungkan pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha pangan lokal lainnya agar saling mendukung. According to Masri, fisheries are part of KUMA Tawaang’s broader plan to build an integrated economy. KUMA Tawaang does not focus on only one kind of enterprise, but seeks to connect agriculture, livestock, fisheries, and other local food activities so that they support one another.

“KUMA Tawaang tidak hanya melihat satu jenis usaha saja. Sawah, kebun, ternak, ikan, dan usaha lain harus saling mendukung. Dari situ kita membangun ekonomi yang berdaulat, mandiri, dan bermartabat. Panen ikan mas ini adalah salah satu langkah kecil menuju cita-cita itu,” tambahnya. “KUMA Tawaang does not look at only one kind of enterprise. Rice fields, gardens, livestock, fish, and other activities must support one another. From there we build an economy that is sovereign, self-reliant, and dignified. This common carp harvest is one small step toward that goal,” he added.

Melalui unit perikanan, KUMA Tawaang berupaya mengembangkan sumber pangan yang dapat memperkuat kebutuhan anggota, keluarga, dan komunitas. Ikan mas yang dipanen menjadi tanda bahwa potensi lokal dapat dikelola secara bersama dan memberi manfaat bagi masyarakat. Through its fisheries unit, KUMA Tawaang is developing a food source that can support members, families, and the wider community. The common carp harvest demonstrates that local potential can be managed collectively and provide benefits for the community.

Salah satu anggota KUMA Tawaang yang ikut langsung dalam kegiatan panen, Ongky Regar, mengatakan bahwa kegiatan ini memberi semangat baru bagi anggota. Menurutnya, panen ikan mas memperlihatkan bahwa usaha bersama memiliki harapan untuk terus dikembangkan. Ongky Regar, a KUMA Tawaang member who took part directly in the harvest, said the activity gave members renewed motivation. In his view, the common carp harvest shows that a collective enterprise has real potential to keep growing.

“Kami senang bisa ikut panen ikan mas ini. Dari awal dipelihara sampai akhirnya bisa dipanen, kami melihat bahwa usaha seperti ini punya harapan. Memang tidak langsung besar, tetapi kalau dijaga dan dikerjakan bersama, hasilnya bisa membantu anggota dan keluarga,” kata Ongky. “We are happy to take part in this common carp harvest. From the beginning of raising the fish until they were finally ready to harvest, we could see that an enterprise like this has promise. It may not become large immediately, but if it is cared for and managed together, the results can help members and their families,” Ongky said.

Ongky juga menyampaikan bahwa kegiatan panen ini menjadi ruang belajar bagi anggota KUMA Tawaang. Dari proses pemeliharaan hingga panen, anggota dapat melihat langsung apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki ke depan. Ongky also said the harvest creates a learning space for KUMA Tawaang members. From raising the fish through to harvesting them, members can directly evaluate what has worked well and what needs to be improved.

“Dari panen ini kami juga belajar. Apa yang masih kurang akan diperbaiki. Ke depan, kami ingin kolam ikan ini bisa lebih berkembang, supaya hasilnya lebih baik dan bisa menjadi salah satu sumber ekonomi bagi KUMA Tawaang,” ujarnya. “We are also learning from this harvest. Whatever is still lacking will be improved. Going forward, we want this fish pond to develop further so that the results improve and it can become one of KUMA Tawaang’s sources of income,” he said.

Selain melakukan panen, KUMA Tawaang juga melepaskan puluhan bibit ikan mas di sawah milik anggota yang berada di dekat kolam pemeliharaan. Pelepasan bibit ini dilakukan sebagai modal awal bagi anggota, agar mereka dapat mengembangkan usaha perikanan kecil di lahan masing-masing. In addition to harvesting fish, KUMA Tawaang also released dozens of young common carp into a member’s rice field near the main pond. The fish were provided as an initial resource so that members could begin developing small-scale fisheries on their own land.

Langkah ini memperlihatkan bahwa KUMA Tawaang tidak hanya memikirkan hasil panen hari itu, tetapi juga keberlanjutan usaha ke depan. Bibit ikan mas yang dilepaskan di sawah anggota diharapkan dapat tumbuh menjadi sumber pangan dan tambahan ekonomi bagi keluarga anggota. This step shows that KUMA Tawaang is thinking not only about the day’s harvest but also about the future of the enterprise. The young common carp released into members’ rice fields are expected to grow into a source of food and additional household income.

Dengan cara ini, unit perikanan KUMA Tawaang mulai berkembang dari satu kolam bersama menuju lahan-lahan anggota. Model ini sejalan dengan semangat mapalus, karena manfaat usaha bersama tidak hanya kembali kepada kelompok, tetapi juga memperkuat anggota dan keluarga mereka satu per satu. In this way, KUMA Tawaang’s fisheries unit is beginning to expand from one shared pond into members’ own land. This model reflects the spirit of mapalus, because the benefits of collective enterprise do not return only to the group but also strengthen individual members and their families.

Panen ikan mas ini menjadi bagian dari perjalanan KUMA Tawaang dalam membangun sistem ekonomi Masyarakat Adat yang berangkat dari kekuatan sendiri. Tanah, air, tenaga, pengetahuan lokal, dan kebersamaan komunitas menjadi modal penting dalam membangun usaha yang tidak tercerabut dari kehidupan masyarakat. This common carp harvest is part of KUMA Tawaang’s journey toward building an Indigenous economic system rooted in its own strengths. Land, water, labour, local knowledge, and community solidarity are important forms of capital for enterprises that remain connected to community life.

Dalam gagasan KUMA Tawaang, pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha kreatif tidak berjalan sendiri-sendiri. Semua unit usaha diharapkan dapat membentuk satu sistem yang saling menguatkan. Hasil dari sawah, kebun, ternak, dan kolam ikan dapat menjadi bagian dari siklus ekonomi yang lebih hemat, produktif, dan berkelanjutan. In KUMA Tawaang’s approach, agriculture, livestock, fisheries, and creative enterprises do not operate separately. All economic units are expected to form a mutually reinforcing system. The outputs of rice fields, gardens, livestock, and fish ponds can become part of an economic cycle that is more efficient, productive, and sustainable.

KUMA Tawaang juga telah menjadwalkan panen ikan mas berikutnya pada Desember 2026. Jadwal ini menunjukkan bahwa unit perikanan mulai diarahkan sebagai usaha yang lebih terencana dan berkelanjutan. Panen berikutnya diharapkan dapat memberi hasil yang lebih baik, sekaligus memperkuat pengalaman anggota dalam mengelola kolam ikan secara bersama. KUMA Tawaang has also scheduled its next common carp harvest for December 2026. This schedule shows that the fisheries unit is being developed as a more planned and sustainable enterprise. The next harvest is expected to produce better results while strengthening members’ experience in managing fish ponds collectively.

Kegiatan panen ikan mas pada 25 Mei 2026 ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi KUMA Tawaang, kegiatan ini adalah langkah penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat bahwa ekonomi dapat dibangun dari kampung, dari kerja bersama, dan dari sumber daya yang sudah dimiliki. The common carp harvest on 25 May 2026 may appear simple. For KUMA Tawaang, however, it is an important step in building community confidence that an economy can be developed from the village, through collective work, and from resources people already possess.

Dari kolam sederhana, KUMA Tawaang sedang menumbuhkan harapan yang lebih besar: masyarakat yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya. From a simple fish pond, KUMA Tawaang is nurturing a larger hope: a community that is politically sovereign, economically self-reliant, and culturally dignified.

KUMA Tawaang: Berdaulat, Mandiri, Bermartabat. KUMA Tawaang: Sovereign, Self-Reliant, Dignified.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.Let us work from the village, for the future.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi yang menghormati hak Masyarakat Adat, keputusan komunitas, pengetahuan, wilayah adat, dan pembagian peran yang adil.Contact KUMA Tawaang for collaboration that respects Indigenous rights, community decisions, knowledge, customary territory, and fair roles.

Buka halaman kontakOpen contact page