Kelompok Mapalus Perempuan Adat Buka Lahan dan Tanam Jagung

Wuwuk, 28 April 2026 — Kelompok mapalus perempuan adat KUMA Tawaang melaksanakan kegiatan membuka lahan dan menanam jagung di lahan milik Kalfein Wuisan. Kegiatan ini melibatkan tujuh perempuan adat yang bekerja bersama sejak pagi untuk membersihkan lahan, menyiapkan tanah, dan mulai menanam jagung.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KUMA Tawaang dalam memperkuat pertanian lokal berbasis mapalus. Mapalus merupakan tradisi kerja bersama Masyarakat Adat Minahasa, di mana anggota saling membantu mengerjakan lahan secara bergiliran. Dalam kegiatan ini, perempuan adat menjadi penggerak utama kerja kolektif di lahan.

Sejak awal kegiatan, tujuh perempuan adat yang ikut bekerja tampak membagi peran. Ada yang membersihkan rumput, mengatur jalur tanam, menyiapkan benih, dan menanam jagung di lahan yang sudah dibuka. Suasana kerja berlangsung sederhana, tetapi penuh kebersamaan. Mereka bekerja sambil saling membantu, menunjukkan bahwa pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang relasi sosial, solidaritas, dan ikatan dengan tanah.

Lahan dan jagung yang ditanam dalam kegiatan ini merupakan milik Kalfein Wuisan. Namun proses pengerjaannya dilakukan bersama oleh kelompok mapalus perempuan adat. Dengan cara ini, lahan pribadi tetap menjadi ruang kerja kolektif yang memperkuat semangat saling membantu dalam komunitas.

Menurut Aneke Tombokan, kegiatan membuka lahan dan menanam jagung ini menunjukkan bahwa perempuan adat memiliki peran penting dalam membangun ekonomi keluarga dan komunitas.

“Perempuan adat dari dulu sudah terbiasa bekerja di kebun dan di lahan. Jadi kegiatan seperti ini bukan hal baru bagi kami. Tetapi melalui KUMA Tawaang, kerja bersama ini menjadi lebih teratur. Kami saling membantu, supaya lahan bisa ditanam dan hasilnya nanti bisa memberi manfaat,” ujar Aneke.

Aneke juga menyampaikan bahwa kerja mapalus membuat pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan. Menurutnya, membuka lahan dan menanam jagung akan terasa sulit jika dilakukan sendiri, tetapi menjadi lebih mudah ketika dikerjakan bersama.

“Kalau kerja sendiri, membuka lahan itu berat. Tapi kalau tujuh orang perempuan bekerja bersama, pekerjaan menjadi lebih cepat selesai. Di situlah kekuatan mapalus. Kita tidak hanya bekerja, tetapi juga saling memberi semangat,” tambahnya.

Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa perempuan adat bukan hanya pendukung dalam kerja pertanian, tetapi pelaku utama yang menjaga keberlanjutan pangan keluarga. Dari tangan perempuan adat, tanah diolah, benih ditanam, dan harapan ekonomi mulai ditumbuhkan.

Bagi KUMA Tawaang, penanaman jagung ini merupakan bagian dari model ekonomi terpadu yang sedang dibangun. Jagung dapat menjadi sumber pangan, sumber pendapatan, dan juga bagian dari dukungan terhadap unit peternakan. Dalam gagasan ekonomi KUMA Tawaang, pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha pangan lokal diharapkan saling terhubung dan saling menguatkan.

Jagung yang ditanam di lahan Kalfein Wuisan menjadi salah satu contoh bagaimana sumber daya yang dimiliki anggota dapat dikelola melalui semangat bersama. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan tanaman, tetapi juga memperkuat pengalaman organisasi, kerja kolektif, dan rasa percaya diri anggota dalam mengelola tanah.

Melalui kegiatan pada 28 April 2026 ini, kelompok mapalus perempuan adat KUMA Tawaang menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi dapat dimulai dari kerja sederhana: membuka lahan, menanam benih, dan merawatnya bersama. Dari lahan anggota, perempuan adat menanam bukan hanya jagung, tetapi juga harapan bagi ekonomi komunitas.

Kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan KUMA Tawaang untuk membangun masyarakat yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya.

KUMA Tawaang: Berdaulat, Mandiri, Bermartabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi, pertukaran pengetahuan, kunjungan komunitas, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.

Hubungi melalui email