Planting Local Chilli, Reviving Ancestral Knowledge

Wuwuk, 13 Juni 2026 — Pagi itu, tanah kembali disentuh dengan cara yang tidak tergesa-gesa. Di Tawaang, KUMA Tawaang melaksanakan penanaman rica atau cabe lokal sebanyak sekitar 800 pohon. Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya tentang menaruh bibit ke dalam tanah, menunggu tumbuh, lalu memanen. Penanaman rica lokal ini adalah cara untuk merawat kembali pengetahuan leluhur, memperkuat pangan kampung, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat dari tanah sendiri.Wuwuk, 13 June 2026 — That morning, the soil was touched again without haste. In Tawaang, KUMA Tawaang planted around 800 local chilli plants. For the community, this work is not simply about placing seedlings in the soil, waiting for them to grow, and harvesting them. Planting local chilli is a way of renewing ancestral knowledge, strengthening village food systems, and building community economic self-reliance from their own land.

Rica lokal dipilih karena sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Di Minahasa, rica bukan sekadar bahan dapur. Rica hadir dalam rasa, dalam masakan, dalam kebiasaan makan, dan dalam identitas kuliner orang kampung. Hampir setiap rumah mengenal rica. Namun bagi KUMA Tawaang, rica lokal memiliki makna yang lebih dalam. Ia adalah tanaman yang tumbuh bersama tanah, musim, dan cara hidup masyarakat setempat.Local chilli was chosen because it is deeply connected to everyday community life. In Minahasa, rica is more than a kitchen ingredient. It is present in flavour, cooking, eating habits, and the culinary identity of village life. Almost every household knows rica. For KUMA Tawaang, however, local chilli carries a deeper meaning: it is a crop that has grown together with the land, the seasons, and local ways of life.

Penanaman sekitar 800 pohon rica ini dilakukan dengan cara tradisional, mengikuti pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur. Waktu menanam tidak dipilih sembarangan. KUMA Tawaang memperhatikan bulan, jam, musim, cuaca, dan tanda-tanda alam yang dianggap tepat. Cara ini lahir dari pengalaman panjang orang tua-tua dalam membaca hubungan antara tanah, tanaman, air, udara, dan waktu.The planting of around 800 chilli plants was carried out using traditional methods informed by knowledge passed down from ancestors. Planting time is not chosen arbitrarily. KUMA Tawaang pays attention to the moon, time of day, season, weather, and natural signs considered appropriate. This practice comes from generations of experience in reading the relationships among soil, plants, water, air, and time.

Ketua KUMA Tawaang, Masri Sumondakh, mengatakan bahwa penanaman rica lokal ini adalah bagian dari usaha membangun kembali kekuatan kampung melalui pengetahuan sendiri.KUMA Tawaang Chair Masri Sumondakh said that planting local chilli is part of an effort to rebuild the strength of the village through its own knowledge.

“Kami menanam rica lokal ini bukan hanya untuk panen, tetapi untuk menghidupkan kembali pengetahuan leluhur. Orang tua-tua kita dulu menanam dengan membaca bulan, musim, dan waktu. Mereka tidak sembarang menaruh bibit di tanah. Ada pengetahuan di situ. KUMA Tawaang ingin menjaga itu, karena dari pengetahuan seperti inilah kampung bisa kuat,” ujar Masri.“We are planting this local chilli not only for the harvest, but to bring ancestral knowledge back into practice. Our elders planted by reading the moon, the seasons, and time. They did not simply put seedlings into the soil. There is knowledge in that. KUMA Tawaang wants to protect it, because this kind of knowledge is part of what makes a village strong,” Masri said.

Menurut Masri, tanaman lokal memiliki arti penting karena menjadi bagian dari kedaulatan pangan masyarakat. Ketika masyarakat masih memiliki tanaman lokal, bibit lokal, dan cara menanam sendiri, maka kampung tidak sepenuhnya bergantung pada pasar atau bibit dari luar. Tanaman lokal memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap mandiri dan percaya pada kekuatan tanahnya sendiri.According to Masri, local crops are important because they are part of community food sovereignty. When people still have local crops, local seeds, and their own ways of planting, the village does not have to depend entirely on markets or seeds from outside. Local crops create space for communities to remain self-reliant and trust the strength of their own land.

“Tanaman lokal itu penting karena dia bagian dari hidup kita sendiri. Kalau kita tidak jaga, lama-lama kita hanya bergantung pada bibit dan hasil dari luar. Rica lokal ini bukan hanya soal pedas atau panen, tetapi soal identitas, kemandirian, dan pengetahuan leluhur yang harus terus kita rawat,” tambah Masri.“Local crops matter because they are part of our own lives. If we do not care for them, over time we will depend only on seeds and produce from outside. Local rica is not only about heat or harvests; it is about identity, self-reliance, and ancestral knowledge that we must continue to care for,” Masri added.

Dalam praktik pertanian tradisional, alam tidak diperlakukan sebagai benda mati. Tanah tidak hanya dilihat sebagai tempat menanam, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dihormati. Karena itu, menanam juga berarti membaca tanda-tanda alam. Ada waktu untuk membuka tanah, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk merawat, dan ada waktu untuk menunggu.In traditional agricultural practice, nature is not treated as an inanimate object. Land is not seen merely as a place to plant, but as a living space that must be respected. Planting therefore also means reading natural signs. There is a time to open the land, a time to plant, a time to care for crops, and a time to wait.

Bagi Clief Rumengan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masyarakat kampung memiliki hubungan panjang dengan tanah dan tanaman lokal. Menurutnya, cara leluhur dalam menanam tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang tertinggal, tetapi sebagai pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup bersama alam.For Clief Rumengan, the activity is a reminder that village communities have a long relationship with the land and local crops. He said ancestral planting practices should not be treated as something outdated, but as knowledge formed through generations of living with nature.

“Tanah bukan hanya tempat tinggal. Tanah adalah sumber hidup. Ketika kita menanam, kita belajar lagi untuk menghargai tanah, air, dan musim. Cara leluhur dalam menanam mengajarkan kita bahwa manusia tidak boleh memaksa alam, tetapi harus menyesuaikan diri dengan alam,” kata Clief.“Land is not only a place to live. Land is a source of life. When we plant, we learn again to respect the soil, water, and seasons. The way our ancestors planted teaches us that people should not force nature, but must learn to live in accordance with it,” Clief said.

Clief juga menekankan bahwa tanaman lokal menyimpan cerita dan hubungan dengan tempat asalnya. Rica lokal tidak hanya tumbuh karena ditanam, tetapi karena ia mengenal tanah, cuaca, dan musim di kampung. Karena itu, menjaga tanaman lokal berarti menjaga hubungan masyarakat dengan wilayahnya sendiri.Clief also emphasised that local crops carry stories and relationships with the places they come from. Local rica does not grow simply because it is planted; it has adapted to the village’s soil, weather, and seasons. Caring for local crops therefore also means maintaining the community’s relationship with its own territory.

“Setiap tanaman lokal punya cerita dengan tanahnya. Ia tumbuh bersama musim, bersama cara hidup masyarakat, dan bersama pengetahuan orang tua-tua. Karena itu, menanam tanaman lokal adalah bagian dari menjaga hubungan kita dengan alam,” ujarnya.“Every local crop has a story with its land. It grows with the seasons, with the community’s way of life, and with the knowledge of our elders. That is why planting local crops is part of maintaining our relationship with nature,” he said.

Di tengah perubahan iklim dan perubahan cara hidup masyarakat, tanaman lokal menjadi semakin penting. Banyak tanaman lokal memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan setempat karena telah lama tumbuh dan dirawat di wilayah tersebut. Selain itu, tanaman lokal juga menyimpan rasa, ingatan, dan identitas yang tidak bisa digantikan begitu saja oleh tanaman dari luar.Amid climate change and shifts in community life, local crops are becoming increasingly important. Many have adapted to local environmental conditions because they have been grown and cared for in the territory over generations. Local crops also carry flavours, memories, and identities that cannot simply be replaced by crops introduced from elsewhere.

Rica lokal, misalnya, bukan hanya bernilai ekonomi. Ia juga menjaga rasa kampung. Dari rica, masyarakat mengenal masakan rumah, kebersamaan di dapur, dan makanan yang tumbuh dari tanah sendiri. Jika tanaman lokal hilang, maka yang hilang bukan hanya satu jenis tanaman, tetapi juga sebagian dari pengetahuan, kebiasaan, dan identitas masyarakat.Local rica, for example, has more than economic value. It also preserves the flavour of the village. Through rica, people know home cooking, togetherness in the kitchen, and food grown from their own soil. If local crops disappear, what is lost is not only a plant variety, but also part of the community’s knowledge, habits, and identity.

Sementara itu, Ongky Regar melihat penanaman rica lokal ini sebagai langkah nyata untuk membangun ekonomi kampung dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, KUMA Tawaang tidak harus selalu memulai dari sesuatu yang besar dan jauh. Justru kekuatan kampung dapat dimulai dari tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat dan dirawat secara bersama.Ongky Regar sees the planting of local rica as a practical step toward building the village economy from things already close to community life. In his view, KUMA Tawaang does not always have to begin with something large or distant. The strength of the village can begin with crops growing around the community and cared for collectively.

“Kita mulai dari apa yang ada di sekitar kita. Rica lokal ini dekat dengan masyarakat, bisa dirawat bersama, dan punya nilai ekonomi. Kalau dikerjakan serius, ini bisa menjadi salah satu sumber penguatan ekonomi keluarga dan komunitas,” kata Ongky.“We begin with what is around us. Local rica is close to the community, it can be cared for together, and it has economic value. If we work on it seriously, it can become one source of economic strength for families and the community,” Ongky said.

Ongky menambahkan bahwa nilai penting dari kegiatan ini bukan hanya terletak pada jumlah tanaman, tetapi juga pada semangat kerja bersama. Menanam 800 pohon rica membutuhkan tenaga, waktu, dan komitmen. Karena itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat kembali kebersamaan masyarakat.Ongky added that the value of the activity lies not only in the number of plants, but also in the spirit of working together. Planting 800 chilli plants requires labour, time, and commitment. The activity therefore becomes a space for strengthening community solidarity.

“KUMA Tawaang bukan hanya bicara tentang usaha, tetapi juga tentang kebersamaan. Kalau tanaman ini dirawat bersama, maka hasilnya juga akan menjadi kebanggaan bersama. Ini cara kita membangun dari kampung,” tambahnya.“KUMA Tawaang is not only about enterprise; it is also about togetherness. If these plants are cared for together, the harvest will also become a shared source of pride. This is how we build from the village,” he added.

Penanaman rica lokal ini menjadi bagian dari langkah panjang KUMA Tawaang dalam memperkuat ekonomi masyarakat berbasis kampung. Melalui tanaman lokal, KUMA Tawaang ingin menunjukkan bahwa kampung memiliki sumber daya, pengetahuan, dan kemampuan untuk membangun dirinya sendiri. Tanah, tanaman, kerja bersama, dan pengetahuan leluhur adalah modal yang sangat berharga.Planting local rica is part of KUMA Tawaang’s long-term work to strengthen a village-based community economy. Through local crops, KUMA Tawaang wants to show that the village has the resources, knowledge, and capacity to build from within. Land, crops, collective work, and ancestral knowledge are valuable forms of capital.

Kegiatan hari ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi kampung tidak selalu harus dimulai dari luar. Ia bisa dimulai dari halaman, kebun, tanah keluarga, dan tanaman yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Rica lokal yang ditanam hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sekitar 800 pohon itu, ada harapan tentang panen, pangan, usaha, dan kemandirian.Today’s work is also a reminder that building a village economy does not always have to begin from outside. It can begin in yards, gardens, family land, and crops that have long been part of community life. The local rica planted today may look simple, but within those roughly 800 plants are hopes for harvests, food, livelihoods, and self-reliance.

Di Tawaang, KUMA Tawaang sedang menanam lebih dari sekadar rica. Mereka sedang menanam ingatan leluhur, menjaga tanaman lokal, dan merawat masa depan kampung. Dari tanah yang sama, leluhur dulu membaca bulan dan musim sebelum menanam. Hari ini, pengetahuan itu kembali dihidupkan, bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai jalan untuk membangun masa depan yang lebih berdaulat.In Tawaang, KUMA Tawaang is planting more than rica. The community is planting ancestral memory, sustaining local crops, and caring for the future of the village. On this same land, ancestors once read the moon and the seasons before planting. Today, that knowledge is being brought back into practice—not as a story from the past, but as a path toward a more self-determined future.

Menanam Rica, Merawat Leluhur

Planting Local Chilli, Reviving Ancestral Knowledge

Wuwuk, 13 Juni 2026 — Pagi itu, tanah kembali disentuh dengan cara yang tidak tergesa-gesa. Di Tawaang, KUMA Tawaang melaksanakan penanaman rica atau cabe lokal sebanyak sekitar 800 pohon. Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya tentang menaruh bibit ke dalam tanah, menunggu tumbuh, lalu memanen. Penanaman rica lokal ini adalah cara untuk merawat kembali pengetahuan leluhur, memperkuat pangan kampung, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat dari tanah sendiri.Wuwuk, 13 June 2026 — That morning, the soil was touched again without haste. In Tawaang, KUMA Tawaang planted around 800 local chilli plants. For the community, this work is not simply about placing seedlings in the soil, waiting for them to grow, and harvesting them. Planting local chilli is a way of renewing ancestral knowledge, strengthening village food systems, and building community economic self-reliance from their own land.

Rica lokal dipilih karena sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Di Minahasa, rica bukan sekadar bahan dapur. Rica hadir dalam rasa, dalam masakan, dalam kebiasaan makan, dan dalam identitas kuliner orang kampung. Hampir setiap rumah mengenal rica. Namun bagi KUMA Tawaang, rica lokal memiliki makna yang lebih dalam. Ia adalah tanaman yang tumbuh bersama tanah, musim, dan cara hidup masyarakat setempat.Local chilli was chosen because it is deeply connected to everyday community life. In Minahasa, rica is more than a kitchen ingredient. It is present in flavour, cooking, eating habits, and the culinary identity of village life. Almost every household knows rica. For KUMA Tawaang, however, local chilli carries a deeper meaning: it is a crop that has grown together with the land, the seasons, and local ways of life.

Penanaman sekitar 800 pohon rica ini dilakukan dengan cara tradisional, mengikuti pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur. Waktu menanam tidak dipilih sembarangan. KUMA Tawaang memperhatikan bulan, jam, musim, cuaca, dan tanda-tanda alam yang dianggap tepat. Cara ini lahir dari pengalaman panjang orang tua-tua dalam membaca hubungan antara tanah, tanaman, air, udara, dan waktu.The planting of around 800 chilli plants was carried out using traditional methods informed by knowledge passed down from ancestors. Planting time is not chosen arbitrarily. KUMA Tawaang pays attention to the moon, time of day, season, weather, and natural signs considered appropriate. This practice comes from generations of experience in reading the relationships among soil, plants, water, air, and time.

Ketua KUMA Tawaang, Masri Sumondakh, mengatakan bahwa penanaman rica lokal ini adalah bagian dari usaha membangun kembali kekuatan kampung melalui pengetahuan sendiri.KUMA Tawaang Chair Masri Sumondakh said that planting local chilli is part of an effort to rebuild the strength of the village through its own knowledge.

“Kami menanam rica lokal ini bukan hanya untuk panen, tetapi untuk menghidupkan kembali pengetahuan leluhur. Orang tua-tua kita dulu menanam dengan membaca bulan, musim, dan waktu. Mereka tidak sembarang menaruh bibit di tanah. Ada pengetahuan di situ. KUMA Tawaang ingin menjaga itu, karena dari pengetahuan seperti inilah kampung bisa kuat,” ujar Masri.“We are planting this local chilli not only for the harvest, but to bring ancestral knowledge back into practice. Our elders planted by reading the moon, the seasons, and time. They did not simply put seedlings into the soil. There is knowledge in that. KUMA Tawaang wants to protect it, because this kind of knowledge is part of what makes a village strong,” Masri said.

Menurut Masri, tanaman lokal memiliki arti penting karena menjadi bagian dari kedaulatan pangan masyarakat. Ketika masyarakat masih memiliki tanaman lokal, bibit lokal, dan cara menanam sendiri, maka kampung tidak sepenuhnya bergantung pada pasar atau bibit dari luar. Tanaman lokal memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap mandiri dan percaya pada kekuatan tanahnya sendiri.According to Masri, local crops are important because they are part of community food sovereignty. When people still have local crops, local seeds, and their own ways of planting, the village does not have to depend entirely on markets or seeds from outside. Local crops create space for communities to remain self-reliant and trust the strength of their own land.

“Tanaman lokal itu penting karena dia bagian dari hidup kita sendiri. Kalau kita tidak jaga, lama-lama kita hanya bergantung pada bibit dan hasil dari luar. Rica lokal ini bukan hanya soal pedas atau panen, tetapi soal identitas, kemandirian, dan pengetahuan leluhur yang harus terus kita rawat,” tambah Masri.“Local crops matter because they are part of our own lives. If we do not care for them, over time we will depend only on seeds and produce from outside. Local rica is not only about heat or harvests; it is about identity, self-reliance, and ancestral knowledge that we must continue to care for,” Masri added.

Dalam praktik pertanian tradisional, alam tidak diperlakukan sebagai benda mati. Tanah tidak hanya dilihat sebagai tempat menanam, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dihormati. Karena itu, menanam juga berarti membaca tanda-tanda alam. Ada waktu untuk membuka tanah, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk merawat, dan ada waktu untuk menunggu.In traditional agricultural practice, nature is not treated as an inanimate object. Land is not seen merely as a place to plant, but as a living space that must be respected. Planting therefore also means reading natural signs. There is a time to open the land, a time to plant, a time to care for crops, and a time to wait.

Bagi Clief Rumengan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masyarakat kampung memiliki hubungan panjang dengan tanah dan tanaman lokal. Menurutnya, cara leluhur dalam menanam tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang tertinggal, tetapi sebagai pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup bersama alam.For Clief Rumengan, the activity is a reminder that village communities have a long relationship with the land and local crops. He said ancestral planting practices should not be treated as something outdated, but as knowledge formed through generations of living with nature.

“Tanah bukan hanya tempat tinggal. Tanah adalah sumber hidup. Ketika kita menanam, kita belajar lagi untuk menghargai tanah, air, dan musim. Cara leluhur dalam menanam mengajarkan kita bahwa manusia tidak boleh memaksa alam, tetapi harus menyesuaikan diri dengan alam,” kata Clief.“Land is not only a place to live. Land is a source of life. When we plant, we learn again to respect the soil, water, and seasons. The way our ancestors planted teaches us that people should not force nature, but must learn to live in accordance with it,” Clief said.

Clief juga menekankan bahwa tanaman lokal menyimpan cerita dan hubungan dengan tempat asalnya. Rica lokal tidak hanya tumbuh karena ditanam, tetapi karena ia mengenal tanah, cuaca, dan musim di kampung. Karena itu, menjaga tanaman lokal berarti menjaga hubungan masyarakat dengan wilayahnya sendiri.Clief also emphasised that local crops carry stories and relationships with the places they come from. Local rica does not grow simply because it is planted; it has adapted to the village’s soil, weather, and seasons. Caring for local crops therefore also means maintaining the community’s relationship with its own territory.

“Setiap tanaman lokal punya cerita dengan tanahnya. Ia tumbuh bersama musim, bersama cara hidup masyarakat, dan bersama pengetahuan orang tua-tua. Karena itu, menanam tanaman lokal adalah bagian dari menjaga hubungan kita dengan alam,” ujarnya.“Every local crop has a story with its land. It grows with the seasons, with the community’s way of life, and with the knowledge of our elders. That is why planting local crops is part of maintaining our relationship with nature,” he said.

Di tengah perubahan iklim dan perubahan cara hidup masyarakat, tanaman lokal menjadi semakin penting. Banyak tanaman lokal memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan setempat karena telah lama tumbuh dan dirawat di wilayah tersebut. Selain itu, tanaman lokal juga menyimpan rasa, ingatan, dan identitas yang tidak bisa digantikan begitu saja oleh tanaman dari luar.Amid climate change and shifts in community life, local crops are becoming increasingly important. Many have adapted to local environmental conditions because they have been grown and cared for in the territory over generations. Local crops also carry flavours, memories, and identities that cannot simply be replaced by crops introduced from elsewhere.

Rica lokal, misalnya, bukan hanya bernilai ekonomi. Ia juga menjaga rasa kampung. Dari rica, masyarakat mengenal masakan rumah, kebersamaan di dapur, dan makanan yang tumbuh dari tanah sendiri. Jika tanaman lokal hilang, maka yang hilang bukan hanya satu jenis tanaman, tetapi juga sebagian dari pengetahuan, kebiasaan, dan identitas masyarakat.Local rica, for example, has more than economic value. It also preserves the flavour of the village. Through rica, people know home cooking, togetherness in the kitchen, and food grown from their own soil. If local crops disappear, what is lost is not only a plant variety, but also part of the community’s knowledge, habits, and identity.

Sementara itu, Ongky Regar melihat penanaman rica lokal ini sebagai langkah nyata untuk membangun ekonomi kampung dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, KUMA Tawaang tidak harus selalu memulai dari sesuatu yang besar dan jauh. Justru kekuatan kampung dapat dimulai dari tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat dan dirawat secara bersama.Ongky Regar sees the planting of local rica as a practical step toward building the village economy from things already close to community life. In his view, KUMA Tawaang does not always have to begin with something large or distant. The strength of the village can begin with crops growing around the community and cared for collectively.

“Kita mulai dari apa yang ada di sekitar kita. Rica lokal ini dekat dengan masyarakat, bisa dirawat bersama, dan punya nilai ekonomi. Kalau dikerjakan serius, ini bisa menjadi salah satu sumber penguatan ekonomi keluarga dan komunitas,” kata Ongky.“We begin with what is around us. Local rica is close to the community, it can be cared for together, and it has economic value. If we work on it seriously, it can become one source of economic strength for families and the community,” Ongky said.

Ongky menambahkan bahwa nilai penting dari kegiatan ini bukan hanya terletak pada jumlah tanaman, tetapi juga pada semangat kerja bersama. Menanam 800 pohon rica membutuhkan tenaga, waktu, dan komitmen. Karena itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat kembali kebersamaan masyarakat.Ongky added that the value of the activity lies not only in the number of plants, but also in the spirit of working together. Planting 800 chilli plants requires labour, time, and commitment. The activity therefore becomes a space for strengthening community solidarity.

“KUMA Tawaang bukan hanya bicara tentang usaha, tetapi juga tentang kebersamaan. Kalau tanaman ini dirawat bersama, maka hasilnya juga akan menjadi kebanggaan bersama. Ini cara kita membangun dari kampung,” tambahnya.“KUMA Tawaang is not only about enterprise; it is also about togetherness. If these plants are cared for together, the harvest will also become a shared source of pride. This is how we build from the village,” he added.

Penanaman rica lokal ini menjadi bagian dari langkah panjang KUMA Tawaang dalam memperkuat ekonomi masyarakat berbasis kampung. Melalui tanaman lokal, KUMA Tawaang ingin menunjukkan bahwa kampung memiliki sumber daya, pengetahuan, dan kemampuan untuk membangun dirinya sendiri. Tanah, tanaman, kerja bersama, dan pengetahuan leluhur adalah modal yang sangat berharga.Planting local rica is part of KUMA Tawaang’s long-term work to strengthen a village-based community economy. Through local crops, KUMA Tawaang wants to show that the village has the resources, knowledge, and capacity to build from within. Land, crops, collective work, and ancestral knowledge are valuable forms of capital.

Kegiatan hari ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi kampung tidak selalu harus dimulai dari luar. Ia bisa dimulai dari halaman, kebun, tanah keluarga, dan tanaman yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Rica lokal yang ditanam hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sekitar 800 pohon itu, ada harapan tentang panen, pangan, usaha, dan kemandirian.Today’s work is also a reminder that building a village economy does not always have to begin from outside. It can begin in yards, gardens, family land, and crops that have long been part of community life. The local rica planted today may look simple, but within those roughly 800 plants are hopes for harvests, food, livelihoods, and self-reliance.

Di Tawaang, KUMA Tawaang sedang menanam lebih dari sekadar rica. Mereka sedang menanam ingatan leluhur, menjaga tanaman lokal, dan merawat masa depan kampung. Dari tanah yang sama, leluhur dulu membaca bulan dan musim sebelum menanam. Hari ini, pengetahuan itu kembali dihidupkan, bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai jalan untuk membangun masa depan yang lebih berdaulat.In Tawaang, KUMA Tawaang is planting more than rica. The community is planting ancestral memory, sustaining local crops, and caring for the future of the village. On this same land, ancestors once read the moon and the seasons before planting. Today, that knowledge is being brought back into practice—not as a story from the past, but as a path toward a more self-determined future.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.Let us work from the village, for the future.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi yang menghormati hak Masyarakat Adat, keputusan komunitas, pengetahuan, wilayah adat, dan pembagian peran yang adil.Contact KUMA Tawaang for collaboration that respects Indigenous rights, community decisions, knowledge, customary territory, and fair roles.

Buka halaman kontakOpen contact page