Menghidupi Kalender Masyarakat Adat Minahasa


Kalender Masyarakat Adat Minahasa - Pusaka Tonaas Rinto

Bagi KUMA Tawaang, kalender tidak hanya terdiri dari angka, tanggal, dan nama bulan yang tercetak di atas kertas. Kalender dapat ditemukan di langit, pada pergerakan matahari dan bintang, dalam arah angin, pada datangnya hujan, di permukaan tanah, pada tumbuhan yang mulai berbunga, serta dalam perilaku hewan yang berubah mengikuti musim.

Sebagian pengetahuan mengenai kalender Masyarakat Adat Minahasa telah didokumentasikan dalam bentuk tulisan dan tabel. Dalam salah satu dokumentasi, setiap bulan dihubungkan dengan proses pertanian, jumlah dan susunan bintang, nama simbol, serta gambar yang menyerupai hewan, tumbuhan, atau peralatan. Januari dikaitkan dengan kegiatan membersihkan ladang. Februari menjadi waktu mulai menanam padi. Bulan-bulan berikutnya mengikuti tahapan merawat, memanen, membawa hasil ke rumah, membersihkan lahan, dan kembali menanam.

Dokumentasi itu memperlihatkan bahwa Masyarakat Adat Minahasa tidak memandang waktu sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan. Waktu dibaca melalui hubungan antara manusia, tanah, tanaman, bintang, dan perubahan musim.

Jejak pengetahuan serupa juga ditemukan terpahat pada batu. Garis, lingkaran, dan tanda-tanda yang dibuat pada permukaannya menjadi pengingat bahwa leluhur Minahasa telah lama mencatat dan meneruskan pengetahuan melalui berbagai cara. Tidak seluruh kalender diwariskan melalui buku. Sebagian dipahat, sebagian diceritakan, dan sebagian hanya dapat dipahami dengan berada langsung di alam.

Namun, kalender yang paling penting adalah kalender yang tetap hidup dalam praktik Masyarakat Adat.

Di Ro’ong Wuwuk, Minahasa Selatan, KUMA Tawaang menggunakan pengetahuan kalender adat dalam berbagai aktivitas. Pengetahuan itu dipakai ketika menentukan waktu menanam, memanen, membersihkan lahan, memasuki hutan, mencari bahan pangan, serta melakukan pekerjaan lain yang berhubungan dengan wilayah adat.

Ketika KUMA menanam rica lokal, misalnya, keputusan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya bibit atau tenaga kerja. Masyarakat Adatjuga memperhatikan keadaan hujan, kondisi tanah, fase bulan, waktu dalam satu hari, dan tanda-tanda alam yang dapat diamati di sekitar kebun. Pengalaman orang-orang tua kemudian bertemu dengan pengamatan para petani yang bekerja langsung di lahan.

Kalender itu tidak selalu mengatakan bahwa Masyarakat Adatharus bekerja pada tanggal tertentu. Ia membantu Masyarakat Adat memahami kapan alam siap menerima suatu kegiatan dan kapan manusia perlu menunggu.

Kalender dan sistem zodiak Minahasa

Pengetahuan Untuk Membaca Buku Alam 

Kalender Masyarakat Adat Minahasa merupakan bagian dari pengetahuan leluhur tentang bercocok tanam dan menjaga wilayah. Pengetahuan itu lahir dari pengalaman panjang hidup bersama alam, bukan dari pengamatan sesaat.

Leluhur mengamati arah angin sebelum membuka atau membersihkan lahan. Mereka memperhatikan matahari untuk memahami waktu dan perubahan musim. Posisi serta susunan bintang digunakan sebagai petunjuk. Hujan, kelembapan tanah, suara serangga, kemunculan hewan tertentu, serta masa berbunga dan berbuahnya tumbuhan turut memberikan tanda.

Semua itu membentuk cara membaca alam.

Karena itu, bercocok tanam tidak hanya dipahami sebagai kegiatan menghasilkan pangan. Bertani merupakan bagian dari menjaga hubungan dengan tanah, air, tumbuhan, hutan, dan seluruh kehidupan yang menopang Masyarakat Adat.

Pengetahuan ini mengingatkan bahwa alam tidak dapat dipaksa mengikuti kehendak manusia. Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk memanen, dan ada waktu untuk membiarkan tanah beristirahat. Ada keadaan ketika Masyarakat Adat dapat memasuki hutan, dan ada keadaan ketika mereka harus menahan diri.

Dalam cara hidup seperti ini, menjaga alam bukanlah kegiatan tambahan. Ia melekat dalam keputusan sehari-hari.

Membaca Perubahan Iklim dari Wilayah Sendiri

Perubahan iklim membuat banyak pola musim menjadi semakin sulit diperkirakan. Hujan dapat datang ketika Masyarakat Adat mengharapkan panas. Musim kering dapat berlangsung lebih panjang atau justru terputus oleh hujan yang tidak menentu. Tanda-tanda yang sebelumnya mudah dikenali mulai berubah.

Bagi KUMA Tawaang, keadaan ini tidak membuat pengetahuan adat kehilangan arti. Sebaliknya, Masyarakat Adat perlu semakin rajin mengamati perubahan yang terjadi.

Kalender adat bukan aturan kaku yang tidak dapat berkembang. Ia merupakan pengetahuan hidup yang tumbuh dari pengamatan terus-menerus. Ketika kondisi alam berubah, Masyarakat Adat perlu mencatat, membandingkan, berdiskusi, dan memahami kembali tanda-tanda yang muncul.

Pengetahuan leluhur memberi dasar untuk melakukan itu. Ia mengajarkan Masyarakat Adat agar tidak berhenti membaca alam.

Dengan terus menggunakan kalender adat dalam kegiatan pertanian, KUMA dapat melihat perubahan secara langsung dari wilayahnya sendiri. Perubahan pola hujan, waktu berbunga, kelembapan tanah, kondisi tanaman, serta kemunculan hewan dan serangga dapat menjadi catatan penting untuk memahami krisis iklim dalam kehidupan sehari-hari.

Perempuan Adat sebagai Penjaga Pengetahuan

Dalam praktik pertanian dan kehidupan rumah tangga, perempuan adat memegang banyak pengetahuan tentang benih, pangan, tanaman, masa tanam, pengolahan hasil, dan penyimpanan makanan.

Pengetahuan itu tidak selalu disampaikan dalam pertemuan resmi. Ia diwariskan ketika perempuan memilih bibit, menanam, membersihkan kebun, memanen, mengolah makanan, dan mengajarkan pekerjaan tersebut kepada anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda.

Karena itu, KUMA Tawaang tidak melihat perempuan hanya sebagai tenaga kerja dalam kegiatan pertanian. Perempuan adat merupakan penjaga pengetahuan yang menghubungkan kebun, benih, pangan, keluarga, dan kelangsungan komunitas.

Menguatkan kalender iklim Masyarakat Adat berarti menguatkan ruang bagi perempuan untuk berbicara, mengambil keputusan, memimpin kegiatan, dan meneruskan pengetahuan yang mereka miliki.

Perempuan Adat Bekerja berdasarkan Kalender Adat Minahasa

Pemuda sebagai Penerus Pengetahuan

Pengetahuan tidak akan terus hidup apabila tidak diteruskan kepada generasi berikutnya. Pemuda adat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan kalender Masyarakat Adat Minahasa.

Mereka perlu belajar bukan hanya tentang apa yang harus dilakukan, tetapi juga alasan di balik setiap keputusan. Mengapa suatu tanaman ditanam pada waktu tertentu? Mengapa bulan, hujan, angin, atau keadaan tanah perlu diperhatikan? Mengapa Masyarakat Adat tidak boleh mengambil hasil hutan secara berlebihan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu dapat ditemukan di dalam buku. Pemuda perlu mengikuti tetua dan petani ke kebun, hutan, mata air, dan tempat-tempat lain yang menjadi ruang hidup Masyarakat Adat.

Pada saat yang sama, pemuda dapat menggunakan kemampuan dokumentasi, fotografi, video, pencatatan, dan teknologi sederhana untuk merekam pengetahuan serta perubahan alam yang terjadi. Teknologi tidak menggantikan pengetahuan leluhur, tetapi dapat membantu Masyarakat Adat menyimpan dan meneruskannya dengan cara baru.

Musyawarah Pemuda Adat KUMA Tawaang

Tetua sebagai Sumber dan Pewaris Pengetahuan

Tetua adat menyimpan pengalaman yang dikumpulkan melalui kehidupan panjang bersama wilayah. Mereka mengenal musim, perubahan angin, tanda di langit, keadaan tanaman, serta berbagai aturan yang menghubungkan manusia dengan alam.

Sebagian pengetahuan tersebut belum pernah ditulis. Ia masih berada dalam ingatan, cerita, istilah lokal, dan praktik yang hanya dipahami ketika dilakukan secara langsung.

Karena itu, tetua tidak hanya dihormati sebagai bagian dari upacara adat. Mereka adalah sumber pengetahuan yang menentukan keberlanjutan komunitas.

KUMA Tawaang memandang proses pewarisan sebagai sesuatu yang harus berlangsung sekarang. Pengetahuan tidak boleh menunggu sampai hampir hilang untuk kemudian dicari kembali. Ia harus terus dipraktikkan, dibicarakan, dicatat, dan diajarkan kepada perempuan, pemuda, petani, dan seluruh anggota komunitas.

Menanam berdasarkan kalender adat Minahasa

Kedaulatan Wilayah Adat Menjaga Pengetahuan Tetap Hidup

Kalender Masyarakat Adat Minahasa tidak dapat dipisahkan dari wilayah tempat pengetahuan itu lahir. Tanda-tanda alam hanya dapat dibaca ketika Masyarakat Adat masih memiliki hubungan dengan tanah, hutan, kebun, sungai, mata air, tanaman, dan hewan yang hidup di dalam wilayah tersebut.

Ketika Masyarakat Adat kehilangan wilayah adat, mereka tidak hanya kehilangan sumber ekonomi. Mereka juga kehilangan ruang tempat pengetahuan dipraktikkan dan diwariskan.

Tanpa tanah, Masyarakat Adat tidak dapat menjalankan pengetahuan bertani. Tanpa hutan, mereka kehilangan banyak tanda alam dan sumber kehidupan. Tanpa mata air, hubungan antara manusia, pangan, ritual, dan wilayah ikut terputus.

Karena itu, seluruh kegiatan KUMA berkaitan dengan kedaulatan Masyarakat Adat atas wilayah adat. Ketika Masyarakat Adat berdaulat atas wilayahnya, mereka dapat memastikan bahwa pengetahuan untuk menjaga bumi dan menghadapi perubahan iklim tetap digunakan.

Kedaulatan wilayah adat memberi ruang bagi Masyarakat Adat untuk mempertahankan benih lokal, mengatur cara mengambil hasil alam, menjaga sumber air, merawat hutan, dan menentukan masa tanam berdasarkan pengetahuan mereka sendiri.

Kalender yang Terus Bergerak

Ada kalender yang telah ditulis dan didokumentasikan. Ada kalender yang jejaknya terpahat pada batu. Ada pula kalender yang tetap berada di langit, pada pergerakan matahari, susunan bintang, arah angin, datangnya hujan, dan tanda-tanda kehidupan lain yang hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang terus berhubungan dengan alam.

Semua bentuk itu merupakan bagian dari satu pengetahuan yang sama: pengetahuan untuk memahami kapan manusia harus bertindak dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan tanpa merusak keseimbangan kehidupan.

Bagi KUMA Tawaang, hidup dengan kalender iklim Masyarakat Adat Minahasa berarti terus mempraktikkan pengetahuan leluhur dalam kehidupan sekarang. Ia bukan peninggalan yang hanya disimpan di museum, bukan pula cerita dari masa lalu yang tidak lagi digunakan.

Kalender itu hadir setiap kali Masyarakat Adat memasuki kebun dengan memperhatikan keadaan langit. Ia digunakan ketika petani menyentuh tanah untuk mengetahui kelembapannya, ketika perempuan memilih benih, ketika tetua menjelaskan tanda-tanda musim, dan ketika pemuda mencatat perubahan yang mereka saksikan.

Selama Masyarakat Adat masih berdaulat atas wilayah adatnya, pengetahuan itu memiliki tempat untuk hidup.

Dan selama kalender itu terus dibaca, digunakan, serta diwariskan, Masyarakat Adat Minahasa akan tetap memiliki salah satu kunci penting untuk menjaga keberadaannya dan merawat bumi di tengah perubahan iklim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi, pertukaran pengetahuan, kunjungan komunitas, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.

Hubungi melalui email