Perluas Area, KUMA Tawaang Kembali Tanam Cabe

 

Wuwuk, 17 JUNI 2026 — Hujan yang turun sejak pagi hingga sore tidak menghentikan anggota Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA) Tawaang untuk kembali menanam cabe lokal. Setelah hujan mulai mereda dan pekerjaan masing-masing selesai, tiga anggota kelompok turun ke lahan pada sore hari untuk melanjutkan penanaman.

Tanah masih basah ketika mereka mulai bekerja. Dengan peralatan sederhana, satu per satu bibit cabe lokal dipindahkan ke lubang tanam yang telah disiapkan. Penanaman kali ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya, ketika KUMA Tawaang menanam sekitar 800 bibit cabe lokal pada 13 Juni 2026.

Tidak banyak anggota yang dapat hadir. Sebagian sedang menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing. Karena itu, penanaman sore tersebut hanya dilakukan oleh tiga orang, termasuk Ongky Regar dan Clief Rumengan. Meski dengan tenaga terbatas, pekerjaan tetap dilanjutkan agar bibit yang telah tersedia dapat segera ditanam pada kondisi tanah yang masih lembap setelah hujan.

Ongky Regar menjadi salah satu orang yang paling sibuk selama proses penanaman. Pengetahuannya tentang cara menanam cabe lokal membuatnya terbiasa memperhatikan jarak tanam, kedalaman lubang, posisi akar, serta kondisi tanah.

“Cabe lokal harus ditanam dengan hati-hati. Akarnya jangan sampai rusak atau terlipat. Tanahnya juga jangan ditekan terlalu kuat karena tanaman masih kecil dan harus menyesuaikan diri dengan tempat yang baru,” kata Ongky.

Menurutnya, tanah yang basah setelah hujan dapat membantu proses penanaman karena kelembapannya masih terjaga. Namun, petani tetap perlu memperhatikan aliran air agar bibit tidak tergenang apabila hujan kembali turun.

“Tanah yang lembap bagus untuk bibit, tetapi air tidak boleh tertahan terlalu lama di sekitar tanaman. Kalau terlalu banyak air, akar cabe bisa rusak. Karena itu, cara menanam dan kondisi lahan harus sama-sama diperhatikan,” ujarnya.

Bagi KUMA Tawaang, menanam cabe lokal bukan sekadar kegiatan pertanian untuk memperoleh hasil panen. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan tanaman lokal serta pengetahuan yang diwariskan melalui pengalaman bertani di kampung.

Clief Rumengan mengatakan, jumlah orang yang hadir tidak menjadi ukuran utama dalam menjalankan kerja bersama. Pada hari itu, sebagian besar anggota memiliki pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Mereka yang memiliki waktu kemudian bertemu di lahan dan bekerja hingga hari mulai gelap.

“Tadi teman-teman yang lain memiliki pekerjaan masing-masing. Kami juga baru bisa datang setelah menyelesaikan pekerjaan pada sore hari. Walaupun hanya bertiga, kami tetap menanam karena pekerjaan ini sudah menjadi tanggung jawab bersama,” kata Clief.

Menurutnya, semangat mapalus tidak selalu berarti semua orang harus hadir pada waktu yang sama. Kebersamaan juga terlihat dari kesediaan setiap anggota untuk mengambil bagian sesuai waktu dan kemampuan yang dimiliki.

“Ketika ada yang tidak sempat datang hari ini, mungkin mereka akan membantu pada pekerjaan berikutnya. Ada waktu menanam, membersihkan lahan, merawat tanaman, sampai nanti memanen. Semua dapat mengambil bagian,” tambahnya.

Penanaman yang dilakukan selepas hujan itu memperlihatkan cara sederhana KUMA Tawaang menjaga kesinambungan kerja komunitas. Tidak ada peralatan besar dan tidak banyak orang di lahan. Hanya tiga orang yang menggunakan sisa waktu pada sore hari untuk memastikan bibit cabe lokal tetap tumbuh.

Di tengah kesibukan dan cuaca yang tidak menentu, pekerjaan kecil tersebut menjadi bagian dari langkah panjang KUMA Tawaang untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat, merawat pengetahuan pertanian lokal, dan mempertahankan tanaman yang telah lama hidup bersama masyarakat di kampung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi, pertukaran pengetahuan, kunjungan komunitas, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.

Hubungi melalui email