Unpacking the Terminology and Philosophy of Wuwuk

 
Oleh: Kalfein WuisanBy: Kalfein Wuisan

Nama Wuwuk tidak dapat dipahami hanya sebagai nama sebuah desa dalam administrasi pemerintahan. Di dalamnya tersimpan sejarah mengenai pohon, getah beraroma harum, praktik ritual, pendirian kampung, pengetahuan leluhur, serta identitas masyarakat yang hidup di dalamnya. Membicarakan Wuwuk berarti memasuki hubungan antara bahasa, tumbuhan, ruang hidup, ingatan kolektif, dan perjalanan masyarakatnya dari masa lalu hingga sekarang.The name Wuwuk cannot be understood simply as the name of a village within government administration. It carries histories of a tree, fragrant resin, ritual practice, the founding of a settlement, ancestral knowledge, and the identity of the people who live there. To speak of Wuwuk is to enter into relationships among language, plants, living territory, collective memory, and the community’s journey from the past to the present.

Untuk memahami arti Wuwuk secara utuh, setidaknya terdapat tiga lapisan sumber yang perlu dibaca bersama. Pertama, catatan tertulis, termasuk karya J. A. T. Schwarz dan N. Graafland. Kedua, sejarah lisan serta dokumen yang disusun dan diwariskan oleh masyarakat Wuwuk. Ketiga, tafsir filosofis yang berkembang ketika orang Wuwuk menghubungkan nama kampung dengan pengalaman hidup, kerja, pendidikan, dan harapan antargenerasi. Ketiga lapisan tersebut saling melengkapi, tetapi tetap perlu dibedakan agar catatan sejarah, ingatan lisan, dan pemaknaan filosofis tidak tercampur seolah-olah berasal dari sumber yang sama.To understand the meaning of Wuwuk more fully, at least three layers of sources need to be read together. First are written records, including the works of J. A. T. Schwarz and N. Graafland. Second are oral histories and documents compiled and passed down by the Wuwuk community. Third are philosophical interpretations that have developed as Wuwuk people connect the name of their village with lived experience, work, education, and intergenerational hopes. These three layers complement one another, but they still need to be distinguished so that historical records, oral memory, and philosophical interpretation are not blended together as though they came from the same source.

Wuwuk sebagai Pohon, Aroma, dan Nama KampungWuwuk as Tree, Fragrance, and Village Name

Dalam sejarah lisan masyarakat, nama Wuwuk berasal dari sejenis pohon yang dalam penyebutan lama juga dikenal sebagai wuk-wuk. Pohon tersebut menghasilkan getah menyerupai damar yang ketika dibakar mengeluarkan aroma harum seperti kemenyan. Dalam beberapa penuturan lokal, pohon itu juga dihubungkan dengan nama reri’, seringa, atau “solo hutan”. Hubungan antara nama-nama lokal tersebut masih memerlukan penelitian botani dan pemeriksaan terhadap spesimen tumbuhan yang dikenal masyarakat.In the community’s oral history, the name Wuwuk comes from a kind of tree that in older usage was also known as wuk-wuk. The tree produces a resin resembling damar which, when burned, gives off a fragrance similar to incense. In some local accounts, the tree is also associated with the names reri’, seringa, or “solo hutan.” The relationship among these local names still requires botanical research and examination of plant specimens known to the community.

Keterangan tertulis yang cukup jelas mengenai asal nama Wuwuk terdapat dalam Tontemboansche Teksten karya J. A. T. Schwarz, yang diterbitkan pada 1907. Dalam kisah berjudul “Verhaal omtrent het dorp Woewoek”, yang dituturkan oleh A. W. Rompas dari Wuwuk, Schwarz mencatat bahwa pendiri Wuwuk bernama Sage’. Ia menjelaskan bahwa wuwuk adalah pohon yang menghasilkan getah berbau harum. Getah tersebut dibakar untuk mengharumkan pakaian atau kain. Pohon itu ditemukan di wilayah sebelah tenggara, kemudian namanya digunakan sebagai nama kampung yang didirikan oleh para pendahulu masyarakat Wuwuk (Schwarz, 1907, hlm. 224–225).A relatively clear written account of the origin of the name Wuwuk appears in J. A. T. Schwarz’s Tontemboansche Teksten, published in 1907. In a story titled “Verhaal omtrent het dorp Woewoek,” narrated by A. W. Rompas of Wuwuk, Schwarz records that the founder of Wuwuk was Sage’. He explains that wuwuk is a tree that produces fragrant resin. The resin was burned to perfume clothing or cloth. The tree was found in the area to the southeast, and its name was later used for the village established by the ancestors of the Wuwuk community (Schwarz, 1907, pp. 224–225).

Schwarz mengidentifikasi pohon Wuwuk dengan nama ilmiah Canarium minahassae. Dalam klasifikasi botani yang digunakan saat ini, nama Canarium minahassae Koord. ditempatkan sebagai sinonim dari Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. Keterangan ini penting untuk menghubungkan sejarah lokal Wuwuk dengan perkembangan ilmu botani, walaupun identifikasi pohon yang pernah tumbuh di lokasi pendirian kampung tetap memerlukan penelitian lapangan.Schwarz identified the Wuwuk tree by the scientific name Canarium minahassae. In current botanical classification, Canarium minahassae Koord. is treated as a synonym of Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. This information is important for connecting Wuwuk’s local history with developments in botanical science, although identifying the tree that once grew at the site where the village was founded still requires field research.

Getah Wuwuk tampaknya tidak hanya digunakan sebagai pewangi dalam kehidupan sehari-hari. Schwarz mencatat bahwa getah dari pohon yang disebutnya jarang ditemukan itu dibakar untuk mengasapi pakaian yang digunakan dalam upacara adat. Senjata juga diasapi sebelum dibawa ke medan perang, sedangkan para walian perempuan mengasapi diri mereka sebelum menjalankan mareindeng (Schwarz, 1907, hlm. 238). Dengan demikian, aroma Wuwuk berada di antara kebutuhan sehari-hari, persiapan ritual, perlindungan, dan kekuatan spiritual.Wuwuk resin appears to have been used for more than everyday fragrance. Schwarz records that resin from the tree, which he described as rarely found, was burned to smoke clothing used in customary ceremonies. Weapons were also smoked before being taken to war, while female walian smoked themselves before performing mareindeng (Schwarz, 1907, p. 238). The fragrance of Wuwuk thus stood at the intersection of everyday needs, ritual preparation, protection, and spiritual power.

Dalam pengetahuan lisan masyarakat Wuwuk, kegiatan membakar atau mengasapi menggunakan getah tersebut berhubungan dengan istilah Pawuwukan. Istilah ini tidak hanya menunjuk pada bahan yang dibakar, tetapi juga pada kegiatan dan ruang tempat pengasapan dilakukan. Para walian dan waraney dikisahkan berkumpul untuk bafufu, yakni mengasapi diri, pakaian, senjata, dan perlengkapan mereka sebelum menjalankan tugas tertentu. Dalam sejumlah penuturan, kegiatan tersebut juga dimaknai sebagai cara “memanaskan” atau menguatkan sompoi, yaitu pengetahuan, kemampuan, atau daya yang dimiliki seseorang. Pemaknaan tentang sompoi ini terutama hidup dalam pengetahuan lisan masyarakat dan perlu ditempatkan sebagai bagian dari ingatan lokal Wuwuk.In the oral knowledge of the Wuwuk community, the burning or smoking of this resin is associated with the term Pawuwukan. The term refers not only to the material being burned, but also to the activity and the place where the smoking was carried out. Walian and waraney are said to have gathered to bafufu—to smoke themselves, their clothing, weapons, and equipment before undertaking certain duties. In some accounts, the activity is also understood as a way of “heating” or strengthening sompoi, meaning a person’s knowledge, ability, or power. This understanding of sompoi lives primarily in the community’s oral knowledge and should be situated within Wuwuk’s local memory.

Dari hubungan tersebut, Wuwuk memiliki arti yang berlapis. Ia merupakan nama pohon, getah yang beraroma harum, kegiatan pengasapan, ruang berlangsungnya kegiatan itu, dan akhirnya nama sebuah kampung. Nama Wuwuk lahir dari hubungan yang erat antara tumbuhan, manusia, ritual, pengetahuan, dan tempat hidup.Through these relationships, Wuwuk carries multiple layers of meaning. It is the name of a tree, its fragrant resin, the act of smoking, the space where that activity took place, and finally the name of a village. The name Wuwuk emerged from an intimate relationship among plants, people, ritual, knowledge, and the place where life is lived.

Wuwuk sebagai Ro’ong dan IdentitasWuwuk as Ro’ong and Identity

Wuwuk yang dibicarakan dalam tulisan ini bukan hanya Desa Wuwuk dalam batas administratif sekarang. Secara pemerintahan, wilayah tersebut telah terbagi menjadi Desa Wuwuk dan Desa Wuwuk Barat, yang tercatat sebagai dua desa berbeda di Kecamatan Tareran. Namun pemisahan administratif tidak dengan sendirinya menghapus ingatan masyarakat mengenai Wuwuk sebagai satu ro’ong atau satu wanua.The Wuwuk discussed here is not only the present-day administrative Village of Wuwuk. Administratively, the area has been divided into Wuwuk Village and Wuwuk Barat Village, recorded as two different villages in Tareran District. Yet administrative division does not by itself erase the community’s memory of Wuwuk as a single ro’ong or wanua.

Karena itu, ketika menyebut Wuwuk, saya merujuk pada keseluruhan wilayah dan masyarakat yang sekarang berada di Desa Wuwuk dan Desa Wuwuk Barat. Dalam urusan pemerintahan, kedua nama administratif tersebut tentu tetap digunakan. Akan tetapi, dalam sejarah, kebudayaan, hubungan kekerabatan, dan identitas, keduanya bertumbuh dari satu nama yang sama, yaitu Wuwuk.Therefore, when I refer to Wuwuk, I mean the entire territory and community now located in Wuwuk Village and Wuwuk Barat Village. In matters of government administration, the two administrative names naturally remain in use. But in history, culture, kinship, and identity, both grew from the same name: Wuwuk.

Saya lebih memilih menggunakan nama Wuwuk daripada istilah “Wuwuk Raya”. Penambahan kata “raya” dapat dipahami sebagai usaha untuk menyebut kedua desa secara bersamaan. Namun nama Wuwuk sendiri sebenarnya telah mengandung keseluruhan tersebut. Wuwuk bukan hanya nama salah satu desa yang tersisa setelah pemekaran, melainkan nama ro’ong yang telah ada jauh sebelum batas pemerintahan sekarang dibentuk.I prefer to use the name Wuwuk rather than the term “Wuwuk Raya.” Adding the word “raya” can be understood as an attempt to refer to the two villages together. Yet the name Wuwuk itself already contains that whole. Wuwuk is not merely the name of one village left after administrative division; it is the name of a ro’ong that existed long before the present government boundaries were created.

Keadaan ini dapat dibandingkan dengan Minahasa. Secara administratif, tanah Minahasa telah terbagi menjadi beberapa kabupaten dan kota. Seseorang dapat menyebut dirinya berasal dari Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, atau wilayah administratif lainnya. Namun pembagian itu tidak menghilangkan identitas sebagai orang Minahasa. Minahasa tetap hidup sebagai identitas sejarah, budaya, ikatan antarmasyarakat, dan perasaan memiliki terhadap tanah yang sama.This situation can be compared with Minahasa. Administratively, Minahasa land has been divided into several regencies and cities. A person may say they come from South Minahasa, Southeast Minahasa, North Minahasa, or another administrative area. Yet those divisions do not erase their identity as Minahasa people. Minahasa remains alive as a historical and cultural identity, as a bond among communities, and as a sense of belonging to the same land.

Demikian pula seseorang yang tinggal di Wuwuk Barat tetap dapat menyebut dirinya sebagai orang Wuwuk. Jawaban tersebut bukan bentuk penolakan terhadap nama administratif Wuwuk Barat. Ia merupakan penegasan bahwa identitas budaya dapat lebih tua dan lebih luas daripada batas-batas pemerintahan. Nama Wuwuk menghubungkan kedua desa dengan asal-usul yang sama, lokasi pendirian kampung, para leluhur, bahasa, situs sejarah, hubungan keluarga, dan pengalaman hidup bersama.Likewise, someone living in Wuwuk Barat can still identify as a Wuwuk person. This is not a rejection of the administrative name Wuwuk Barat. It affirms that cultural identity can be older and broader than government boundaries. The name Wuwuk connects both villages to a shared origin, the site where the village was founded, the ancestors, language, historical sites, family ties, and a history of living together.

Dengan demikian, Wuwuk tidak hanya menunjuk pada sebuah tempat, tetapi juga pada identitas kolektif Masyarakat Adat Wuwuk. Nama itu menyatukan ruang, manusia, sejarah, dan ingatan yang tidak dapat dipisahkan hanya karena perubahan administrasi pemerintahan.Wuwuk therefore refers not only to a place, but also to the collective identity of the Wuwuk Indigenous community. The name brings together space, people, history, and memory that cannot be separated simply by changes in government administration.

Pendirian Wuwuk, Burung Pertanda, dan Watu TumotowaThe Founding of Wuwuk, the Omen Bird, and Watu Tumotowa

Dalam sejarah lisan Wuwuk, pendirian kampung berhubungan dengan petunjuk Amang Kasuruan Wangko melalui suara burung Manguni yang hinggap atau bersuara di sekitar pohon Wuwuk. Tanda tersebut dipahami sebagai restu untuk membuka dan mendirikan kampung. Pohon Wuwuk kemudian menjadi penanda tempat sekaligus sumber nama bagi ro’ong yang dibangun.In Wuwuk oral history, the founding of the village is connected to guidance from Amang Kasuruan Wangko through the call of a Manguni bird that perched or called near the Wuwuk tree. The sign was understood as approval to clear the land and establish the village. The Wuwuk tree then became both a marker of place and the source of the name of the ro’ong that was built there.

Dalam kebudayaan Minahasa, Manguni memiliki kedudukan simbolis yang penting. Burung ini juga dikenal melalui penyebutan seperti Wara i Endo, ot, atau tototic, dan dipahami sebagai pembawa kabar serta penghubung antara manusia dengan kekuatan ilahi. Pemahaman tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh rincian peristiwa pendirian Wuwuk, tetapi memperlihatkan bahwa cerita mengenai petunjuk burung berada dalam kerangka kosmologi Minahasa yang lebih luas (Nainggolan, Manullang, dan Heydemans, 2022).In Minahasa culture, Manguni holds an important symbolic place. The bird is also known by names such as Wara i Endo, ot, or tototic, and is understood as a bearer of messages and a link between humans and divine power. This understanding does not by itself prove every detail of Wuwuk’s founding story, but it shows that the account of guidance through a bird belongs within a broader Minahasa cosmological framework (Nainggolan, Manullang, and Heydemans, 2022).

Catatan Schwarz juga menyebut peran seekor “burung kepercayaan” dalam pendirian Wuwuk. Di tengah lapangan kampung, masyarakat menguburkan tanda-tanda yang mewakili berapa kali burung tersebut bersuara. Di atas tempat penguburan itu kemudian didirikan dua batu tinggi, dengan salah satu batu lebih rendah daripada yang lain. Kedua batu tersebut disebut tumotowa (Schwarz, 1907, hlm. 225).Schwarz’s account also mentions the role of a “bird of belief” in the founding of Wuwuk. In the middle of the village square, the community buried markers representing the number of times the bird called. Two tall stones were then erected over the burial place, one lower than the other. The two stones were called tumotowa (Schwarz, 1907, p. 225).

Catatan tertulis Schwarz dan sejarah lisan masyarakat Wuwuk saling menguatkan dalam menjelaskan pentingnya burung pertanda dan batu tumotowa. Meskipun Schwarz tidak secara tegas menyebut burung tersebut sebagai Manguni, kisah itu menunjukkan bahwa keputusan mendirikan kampung tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan fisik, tetapi juga melalui pembacaan tanda-tanda alam dan keyakinan spiritual masyarakat.Schwarz’s written account and Wuwuk oral history reinforce one another in explaining the importance of the omen bird and the tumotowa stones. Although Schwarz does not explicitly identify the bird as Manguni, the story shows that the decision to establish the village was based not only on physical considerations, but also on reading signs in nature and on the community’s spiritual beliefs.

Pohon Wuwuk dalam sejarah lisan disebut tumbuh di daerah Sendangan. Daerah tersebut kemudian menjadi tempat tumani, yakni proses mendirikan atau membuka kampung. Di kompleks Sendangan masih dikenal keberadaan Watu Tumotowa dan beberapa pohon Tawaang. Kehadiran batu dan tumbuhan tersebut menjaga ingatan bahwa berkat, kehidupan, perlindungan, dan keberlanjutan generasi pernah dimohonkan oleh para dotu pendiri Wuwuk di tempat itu.In oral history, the Wuwuk tree is said to have grown in the Sendangan area. This later became the place of tumani, the process of establishing or opening a village. Watu Tumotowa and several Tawaang plants are still known in the Sendangan complex. The presence of the stones and plants preserves the memory that the dotu who founded Wuwuk once asked there for blessing, life, protection, and the continuation of future generations.

Dalam penjelasan masyarakat, kata Tumotowa kerap dihubungkan dengan tumou, yang berarti hidup atau bertumbuh, dan towa, yang dipahami sebagai memanggil. Dari hubungan tersebut, Watu Tumotowa dimaknai sebagai batu tempat “memanggil kehidupan”. Penjelasan ini memiliki makna yang kuat dalam sejarah lisan masyarakat, meskipun asal katanya tetap perlu ditelaah lebih jauh melalui kamus Tontemboan dan pengetahuan para penuturnya.In community explanations, the word Tumotowa is often connected with tumou, meaning to live or grow, and towa, understood as to call. From this relationship, Watu Tumotowa is interpreted as the stone where “life is called.” This explanation carries strong meaning in community oral history, although the word’s origin still needs further examination through Tontemboan dictionaries and the knowledge of language speakers.

Kajian Denni H. R. Pinontoan menjelaskan bahwa Watu Tumotowa merupakan batu berbentuk lonjong yang ditancapkan dengan posisi mengarah ke langit. Batu sejenis ini ditemukan di berbagai kampung tua Minahasa dan berfungsi sebagai penanda tempat ritual. Watu Tumotowa bukan sekadar benda mati, melainkan artefak yang menyimpan cerita mengenai leluhur, pendirian komunitas, dan penataan ruang hidup bersama (Pinontoan, 2015).A study by Denni H. R. Pinontoan explains Watu Tumotowa as an elongated stone set upright and pointing toward the sky. Stones of this kind are found in various old Minahasa settlements and function as markers of ritual places. Watu Tumotowa is not merely an inanimate object, but an artefact carrying stories of ancestors, the founding of communities, and the ordering of shared living space (Pinontoan, 2015).

Karena itu, Watu Tumotowa di Wuwuk penting bukan hanya sebagai peninggalan material. Ia menghubungkan Sendangan dengan suara burung pertanda, keputusan mendirikan kampung, doa para leluhur, dan permohonan agar kehidupan terus tumbuh dari satu generasi kepada generasi berikutnya.For this reason, Watu Tumotowa in Wuwuk is important not only as a material remnant. It connects Sendangan with the call of the omen bird, the decision to establish the village, the prayers of the ancestors, and the hope that life would continue to grow from one generation to the next.

Antara Etimologi dan Tafsir FilosofisBetween Etymology and Philosophical Interpretation

Dalam penuturan lokal, nama Wuwuk juga sering dibaca melalui unsur wu, yang diartikan sebagai gerak menuju atau berada di atas, dan wuuk, yang berarti rambut. Rambut berada di bagian atas tubuh sehingga kata wuuk kemudian ditafsirkan sebagai sesuatu yang terletak di atas, bahkan “di atasnya lagi”.In local accounts, the name Wuwuk is also often read through the element wu, understood as movement toward or being above, and wuuk, meaning hair. Hair is located on the upper part of the body, so wuuk is then interpreted as something located above, even “higher still.”

Hubungan antara wu, wuuk, dan Wuwuk belum dapat dinyatakan sebagai kesimpulan etimologis yang pasti. Bahasa Tontemboan memiliki variasi pengucapan, bentuk kata, dan kosakata. Karena itu, penjelasan tersebut masih perlu ditelaah melalui kamus Tontemboan, perbandingan dialek, serta pengetahuan para penutur bahasa.The relationship among wu, wuuk, and Wuwuk cannot yet be stated as a definitive etymological conclusion. Tontemboan has variations in pronunciation, word forms, and vocabulary. The explanation therefore still needs to be examined through Tontemboan dictionaries, dialect comparison, and the knowledge of language speakers.

Namun sebagai tafsir filosofis, hubungan tersebut tetap memiliki arti yang penting. Wuwuk dapat dibaca sebagai sebuah gerak dari bawah menuju ke atas. Tafsir ini bertemu dengan sifat asap dari getah Wuwuk: ia berasal dari sesuatu yang dibakar dekat tanah, kemudian bergerak naik sambil menyebarkan aroma harum ke seluruh ruang.As a philosophical interpretation, however, this relationship remains meaningful. Wuwuk can be read as a movement from below upward. This interpretation meets the character of smoke from Wuwuk resin: it begins with something burned close to the ground, then rises while spreading fragrance through the surrounding space.

Dari hubungan antara pohon, getah, api, asap, dan gerak ke atas, lahirlah ungkapan lokal: tu ada fufu, tu harum pe harum, yang dari bawah ke atas. Ungkapan ini bukan terjemahan langsung dari kamus, tetapi sebuah perumusan filosofis mengenai Wuwuk. Ia menggambarkan sesuatu yang bermula dari bawah, menjalani proses, lalu bergerak naik dan menyebarkan keharuman.From the relationship among tree, resin, fire, smoke, and upward movement comes the local expression: tu ada fufu, tu harum pe harum, yang dari bawah ke atas. This is not a direct dictionary translation, but a philosophical formulation of Wuwuk. It describes something that begins below, goes through a process, then moves upward and spreads fragrance.

Kata “bawah” dalam pemaknaan tersebut tidak berarti kehinaan atau rendahnya martabat seseorang. Ia menunjuk pada akar, tanah, kerja, perjuangan, dan kehidupan sehari-hari. Sementara “atas” tidak semata-mata berarti jabatan, kekuasaan, atau kedudukan sosial. Ia dapat berarti perkembangan pengetahuan, kedewasaan, keberhasilan, dan kemampuan memberikan manfaat kepada orang lain.In this interpretation, “below” does not mean humiliation or low human worth. It points to roots, land, work, struggle, and everyday life. “Above,” meanwhile, does not simply mean office, power, or social status. It can mean the growth of knowledge, maturity, achievement, and the capacity to benefit others.

Filosofi “dari bawah ke atas” dengan demikian bukan ajakan untuk meninggalkan akar. Seperti asap Wuwuk yang dapat naik karena terdapat pohon, getah, api, dan tanah tempat pembakaran, seseorang dapat bertumbuh tinggi hanya ketika ia tetap mengetahui sumber kehidupannya. Semakin jauh seseorang berjalan, semakin penting pula ingatan terhadap tanah dan masyarakat yang menopangnya.The philosophy of “from below upward” is therefore not an invitation to abandon one’s roots. Just as Wuwuk smoke can rise because there is a tree, resin, fire, and the ground where it is burned, a person can grow higher only while knowing the source of their life. The farther someone travels, the more important it becomes to remember the land and community that sustain them.

Woewoek, Wuwuk, dan Penulisan NamaWoewoek, Wuwuk, and the Writing of the Name

Dalam karya Schwarz, nama kampung ditulis Woewoek, sedangkan nama pohonnya juga muncul dalam bentuk woewoek atau wuwuk. Bentuk oe merupakan cara penulisan bunyi u dalam sistem ejaan bahasa Belanda pada masa itu. Karena itu, kata Woewoek dibaca sebagai Wuwuk.In Schwarz’s work, the village name is written Woewoek, while the tree name also appears as woewoek or wuwuk. The form oe was used to represent the sound u in the Dutch spelling system of that period. Woewoek is therefore read as Wuwuk.

Penulisan Woewoek tidak berarti bahwa nama asli kampung adalah Woewoek. Bentuk tersebut memperlihatkan cara penulis Belanda merekam bunyi lokal dengan sistem ejaan yang mereka gunakan. Dalam ejaan bahasa Indonesia sekarang, bentuk yang digunakan adalah Wuwuk.The spelling Woewoek does not mean that the village’s original name was Woewoek. The form shows how Dutch writers recorded a local sound using the spelling system available to them. In present-day Indonesian spelling, the form used is Wuwuk.

Ketelitian dalam penulisan nama penting karena sejarah bahasa tidak hanya menyangkut kebanggaan terhadap masa lalu, tetapi juga tanggung jawab dalam mewariskan pengetahuan. Bentuk tertulis dalam dokumen lama, pengucapan masyarakat, serta tafsir filosofis terhadap nama perlu dijelaskan sesuai konteksnya dan tidak dicampurkan seolah-olah seluruhnya merupakan satu bentuk etimologi yang sama.Care in writing the name matters because the history of language concerns not only pride in the past, but also responsibility in passing knowledge on. Written forms in old documents, community pronunciation, and philosophical interpretations of the name need to be explained in their respective contexts rather than blended together as though they were all one and the same etymology.

Wuwuk, Pendidikan Adat, dan Keharuman NamaWuwuk, Indigenous Education, and the Fragrance of a Name

Filosofi Wuwuk memperoleh pemaknaan baru melalui perjalanan masyarakatnya. Pada suatu masa, Wuwuk dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai “gudang sarjana”, yakni kampung yang melahirkan banyak guru, akademisi, pendeta, aparatur pemerintahan, dan orang-orang berpendidikan. Sebutan tersebut masih perlu diperkuat melalui pendataan mengenai jumlah dan perjalanan para sarjana Wuwuk dari masa ke masa. Namun catatan sejarah menunjukkan bahwa hubungan Wuwuk dengan pendidikan telah berlangsung cukup panjang.The philosophy of Wuwuk acquires new meaning through the journey of its people. At one time, surrounding communities knew Wuwuk as a “village of scholars,” a village that produced many teachers, academics, ministers, government officials, and educated people. This description still needs to be strengthened through data on the number and trajectories of Wuwuk graduates over time. Historical records nevertheless show that Wuwuk’s relationship with education has a long history.

Schwarz mencatat bahwa sebuah sekolah zending dibuka di Wuwuk pada September 1838. Guru pertamanya bernama Hermanus Lintjewas yang berasal dari Amurang. Setelah itu, tercatat pula sejumlah guru lain yang mengajar di Wuwuk (Schwarz, 1907, hlm. 225 dan seterusnya). Catatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan formal telah hadir di Wuwuk setidaknya sejak paruh pertama abad ke-19.Schwarz records that a mission school was opened in Wuwuk in September 1838. Its first teacher was Hermanus Lintjewas from Amurang. A number of other teachers who later taught in Wuwuk are also recorded (Schwarz, 1907, p. 225 and following). The record shows that formal education had been present in Wuwuk at least since the first half of the nineteenth century.

Keberadaan sekolah sejak 1838 tidak dapat dijadikan satu-satunya alasan mengapa kemudian banyak orang Wuwuk menempuh pendidikan tinggi. Namun catatan itu menunjukkan adanya perjalanan pendidikan yang panjang. Dari generasi ke generasi, sekolah, keluarga, gereja, kebun, dan kehidupan bermasyarakat membentuk sebuah lingkungan yang menempatkan pengetahuan sebagai sesuatu yang bernilai.The presence of a school since 1838 cannot be treated as the sole reason why many Wuwuk people later pursued higher education. It does, however, show a long educational trajectory. Across generations, schools, families, churches, gardens, and community life formed an environment in which knowledge was regarded as something of value.

Meskipun demikian, sejarah pendidikan Wuwuk tidak dimulai ketika sekolah formal didirikan. Jauh sebelum adanya ruang kelas, masyarakat telah memiliki cara sendiri dalam mewariskan pengetahuan. Anak-anak belajar melalui keluarga, kebun, bahasa, cerita leluhur, kerja bersama, pengamatan terhadap alam, serta keterlibatan langsung dalam kehidupan komunitas. Pendidikan berlangsung ketika seorang anak mengikuti orang tuanya ke kebun, mendengar cerita mengenai asal-usul kampung, mengenali musim, belajar bekerja dalam Mapalus, memahami sumber air, atau menyaksikan bagaimana sebuah keputusan diambil bersama.Even so, Wuwuk’s educational history did not begin when formal schooling was established. Long before classrooms existed, the community already had its own ways of passing on knowledge. Children learned through family, gardens, language, ancestral stories, collective work, observation of nature, and direct participation in community life. Education took place when children followed their parents to the garden, listened to stories about the village’s origins, recognized seasons, learned to work through Mapalus, understood water sources, or watched how decisions were made collectively.

Di tengah sejarah panjang Wuwuk sebagai kampung yang menghargai pendidikan, pendidikan adat memperluas arti belajar agar tidak hanya terbatas pada sekolah dan perguruan tinggi. Pendidikan adat membantu anak-anak dan Pemuda Adat mengenali sejarah kampung, bahasa Tontemboan, wilayah adat, pertanian, benih lokal, Mapalus, tanda-tanda alam, tanaman obat, pengelolaan air, serta nilai kejujuran dan tanggung jawab yang diwariskan oleh para pendahulu.Within Wuwuk’s long history as a village that values education, Indigenous Education broadens the meaning of learning beyond schools and universities. It helps children and Indigenous Youth learn the history of the village, the Tontemboan language, customary territory, agriculture, local seeds, Mapalus, signs in nature, medicinal plants, water management, and the values of honesty and responsibility passed down by earlier generations.

Pendidikan adat tidak dimaksudkan untuk menggantikan pendidikan formal. Keduanya seharusnya saling memperkuat. Sekolah dan perguruan tinggi membuka jalan untuk memahami ilmu pengetahuan yang lebih luas, sedangkan pendidikan adat menjaga agar generasi Wuwuk tidak tercerabut dari tanah, bahasa, sejarah, dan kehidupan masyarakatnya. Pendidikan yang utuh tidak hanya membuat seseorang mampu membaca buku dan dunia, tetapi juga mampu membaca tanah, alam, sejarah, serta tanggung jawabnya kepada komunitas.Indigenous Education is not intended to replace formal education. The two should strengthen one another. Schools and universities open paths toward wider fields of knowledge, while Indigenous Education helps ensure that Wuwuk generations are not uprooted from their land, language, history, and community life. A complete education enables a person not only to read books and the wider world, but also to read the land, nature, history, and their responsibilities to the community.

Dengan demikian, pendidikan adat merupakan investasi antargenerasi yang nilainya tidak selalu dapat dihitung dalam rupiah. Ia menentukan keberlanjutan pengetahuan, identitas, bahasa, kedaulatan pangan, pengelolaan wilayah, dan masa depan Masyarakat Adat Wuwuk. Generasi yang berpendidikan tinggi tetapi kehilangan hubungan dengan asal-usulnya dapat memiliki banyak pengetahuan, namun kehilangan arah mengenai kepada siapa pengetahuan itu harus diabdikan.Indigenous Education is therefore an intergenerational investment whose value cannot always be measured in rupiah. It shapes the continuity of knowledge, identity, language, food sovereignty, territorial management, and the future of the Wuwuk Indigenous community. A generation with high levels of formal education but no relationship with its origins may possess extensive knowledge while losing sight of whom that knowledge should serve.

Dalam pengalaman banyak keluarga Wuwuk, pendidikan anak-anak tidak lahir dari kemudahan ekonomi. Pendidikan dibiayai melalui hasil kebun, cengkih, kelapa, sawah, peternakan, serta pekerjaan mengolah nira menjadi Cap Tikus. Pekerjaan-pekerjaan tersebut kadang dipandang rendah oleh orang yang hanya melihat hasil akhirnya. Padahal, dari kebun, hutan, pohon aren, dan tempat penyulingan itulah banyak orang tua memenuhi kebutuhan keluarga dan mengirim anak-anak mereka ke sekolah serta perguruan tinggi.In the experience of many Wuwuk families, children’s education did not grow out of economic ease. It was financed through gardens, cloves, coconuts, rice fields, livestock, and the work of processing palm sap into Cap Tikus. These kinds of work are sometimes looked down upon by people who see only their final products. Yet it was from gardens, forests, sugar palms, and distillation sites that many parents met their families’ needs and sent their children to school and university.

Di sinilah ungkapan “dari bawah ke atas” memperoleh makna sosial yang nyata. Orang tua bekerja di tanah, memanjat pohon aren, menyadap dan mengolah nira, menjaga api, menanam, merawat, serta memanen. Anak-anak mereka kemudian menjadi guru, pendeta, akademisi, pekerja profesional, seniman, pemimpin komunitas, atau aparatur pemerintahan. Keberhasilan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan pekerjaan para orang tua. Setiap pencapaian berdiri di atas tenaga, pengetahuan, keberanian, dan pengorbanan mereka.Here the expression “from below upward” takes on concrete social meaning. Parents work the land, climb sugar palms, tap and process the sap, tend the fire, plant, care for crops, and harvest. Their children later become teachers, ministers, academics, professionals, artists, community leaders, or government officials. Those achievements should never become a reason to look down on the work of their parents. Every achievement rests on their labour, knowledge, courage, and sacrifice.

Keharuman Wuwuk karena itu tidak hanya berarti dikenal oleh banyak orang. Nama yang harum harus lahir dari pengetahuan, kejujuran, kerja yang memberi kehidupan, serta tindakan yang berguna bagi keluarga dan kampung. Seseorang tidak mengharumkan Wuwuk hanya karena memiliki gelar atau jabatan. Nama Wuwuk menjadi harum ketika pengetahuan dan kedudukan digunakan untuk melindungi kehidupan bersama, memperkuat masyarakat, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.The fragrance of Wuwuk therefore means more than being widely known. A good name must grow from knowledge, honesty, life-sustaining work, and actions that benefit family and village. A person does not bring honour to Wuwuk merely by holding a degree or office. The name Wuwuk becomes fragrant when knowledge and position are used to protect shared life, strengthen the community, and open paths for the next generation.

Doa Tumani dan Harapan bagi GenerasiThe Tumani Prayer and Hope for Future Generations

Filosofi Wuwuk juga berhubungan dengan doa para pendiri kampung ketika menjalankan Tumani in Doong. Dalam sumber dan ingatan lokal, doa tersebut diwariskan sebagai berikut:The philosophy of Wuwuk is also connected to the prayer of the village founders when they performed Tumani in Doong. In local sources and memory, the prayer has been passed down as follows:

“Apo Amang Kasuruan Wangko ni memak tana wo langit, paka kamang-kamangen nai ami wo setoyaang wo sepoyo-poyo ami an doong anio, wo we’an nai o wak sama wo pengeta’uan wo ate rondor wo lenas asi endo anio wo endo maai.”

“Apo Amang Kasuruan Wangko ni memak tana wo langit, paka kamang-kamangen nai ami wo setoyaang wo sepoyo-poyo ami an doong anio, wo we’an nai o wak sama wo pengeta’uan wo ate rondor wo lenas asi endo anio wo endo maai.”

Doa tersebut diterjemahkan:The prayer is translated as:

“Tuhan Allah Yang Maha Besar yang menciptakan langit dan bumi, berikanlah berkat kepada kami sampai kepada anak-anak dan cucu-cucu kami yang ada di negeri ini. Berikanlah kepada kami tubuh yang sehat, pengetahuan, serta hati yang jujur dan lemah lembut pada masa kini dan masa yang akan datang.”

“Almighty God, who created heaven and earth, grant blessings to us and to our children and grandchildren who live in this land. Grant us healthy bodies, knowledge, and hearts that are honest and gentle, now and in the days to come.”

Kandungan utama doa tersebut menunjukkan bahwa para pendiri kampung tidak hanya meminta kekayaan atau kekuasaan. Mereka memohon kesehatan, pengetahuan, kejujuran, kelembutan hati, dan berkat yang dapat dirasakan oleh anak serta cucu. Doa itu tidak hanya berbicara mengenai kehidupan satu generasi, tetapi mengenai keberlanjutan Wuwuk pada masa yang akan datang.The main content of the prayer shows that the founders of the village did not ask only for wealth or power. They asked for health, knowledge, honesty, gentleness of heart, and blessings that could be experienced by their children and grandchildren. The prayer speaks not only of the life of one generation, but of Wuwuk’s continuity into the future.

Doa tersebut juga memperluas arti “kekuatan” dalam nama Wuwuk. Kekuatan tidak hanya berarti keberanian para waraney atau kemampuan menghadapi musuh. Kekuatan juga berarti tubuh yang sehat, pengetahuan yang digunakan dengan benar, hati yang jujur, dan sikap lemah lembut. Kekuatan yang tidak disertai kejujuran dan kelembutan dapat berubah menjadi kekuasaan yang merusak.The prayer also broadens the meaning of “strength” in the name Wuwuk. Strength does not mean only the courage of the waraney or the ability to confront enemies. It also means a healthy body, knowledge used properly, an honest heart, and gentleness. Strength without honesty and gentleness can turn into destructive power.

Keberhasilan orang Wuwuk pada masa kini tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang secara biologis “mengalir dalam darah”. Nama dan doa tidak menentukan nasib seseorang secara otomatis. Kekuatan sebenarnya hidup dalam ingatan kolektif, pendidikan keluarga, kerja keras, pengetahuan, hubungan antargenerasi, dan nilai-nilai yang terus diajarkan.The achievements of Wuwuk people today need not be understood as something that biologically “flows in the blood.” A name and a prayer do not automatically determine a person’s fate. Real strength lives in collective memory, family education, hard work, knowledge, intergenerational relationships, and values that continue to be taught.

Nama Wuwuk dengan demikian bekerja sebagai pengingat sekaligus tuntutan etis. Siapa pun yang menyandang nama Wuwuk dipanggil untuk menjaga keharumannya melalui tindakan. Keharuman itu bukan warisan yang dapat dibanggakan tanpa tanggung jawab, tetapi sesuatu yang harus terus dihidupkan melalui kejujuran, pengetahuan, kerja, dan kepedulian terhadap sesama.The name Wuwuk therefore works as both a reminder and an ethical demand. Anyone who carries the name Wuwuk is called to preserve its fragrance through action. That fragrance is not an inheritance to be celebrated without responsibility, but something that must continually be brought to life through honesty, knowledge, work, and care for others.

Wuwuk sebagai Jalan Menuju KinaeneyanWuwuk as a Path toward Kinaeneyan

Dari seluruh lapisan tersebut, Wuwuk dapat dipahami sebagai pohon, getah, aroma, asap, kegiatan, ruang, kampung, dan identitas. Dalam sejarahnya terdapat pohon yang getahnya dibakar untuk mengharumkan pakaian serta perlengkapan ritual. Dalam pendirian kampungnya terdapat burung pertanda, Watu Tumotowa, doa, dan harapan agar kehidupan terus bertumbuh. Dalam perjalanan masyarakatnya terdapat kebun, kerja keras, pendidikan adat, sekolah, pengetahuan, dan usaha orang tua untuk mengangkat generasi berikutnya.Across all these layers, Wuwuk can be understood as tree, resin, fragrance, smoke, activity, space, village, and identity. Its history includes a tree whose resin was burned to perfume clothing and ritual equipment. The founding of the village includes an omen bird, Watu Tumotowa, prayer, and the hope that life would continue to grow. The community’s journey includes gardens, hard work, Indigenous Education, schools, knowledge, and parents’ efforts to lift the next generation.

Wuwuk yang “harum” bukan sekadar kampung yang dikenal atau melahirkan orang-orang dengan jabatan tinggi. Keharuman adalah nama baik yang lahir dari kehidupan yang berguna. Wuwuk yang “memberi kekuatan” bukan komunitas yang menguasai orang lain, melainkan komunitas yang menguatkan anggotanya untuk hidup, belajar, bekerja, menjaga tanah, dan memelihara hubungan bersama.A “fragrant” Wuwuk is not merely a village that is well known or produces people in high office. Fragrance is a good name born from a useful life. A Wuwuk that “gives strength” is not a community that dominates others, but one that strengthens its members to live, learn, work, care for the land, and sustain relationships with one another.

Wuwuk yang “bergerak dari bawah ke atas” juga tidak berarti meninggalkan tanah dan melupakan asal-usul. Gerak ke atas justru harus membawa pengetahuan dan manfaat kembali kepada tempat seseorang dibesarkan. Semakin tinggi seseorang berjalan, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap akar yang menopangnya.A Wuwuk that “moves from below upward” does not mean leaving the land behind and forgetting one’s origins. Upward movement should instead carry knowledge and benefit back to the place where a person was raised. The higher someone travels, the greater their responsibility to the roots that sustain them.

Hubungan antara Wuwuk masa lalu, masa kini, dan masa depan tidak terletak pada takdir yang telah selesai ditentukan oleh sebuah nama. Hubungan itu hidup melalui cara setiap generasi memahami dan menjalankan warisan para pendahulunya. Doa pendiri kampung hanya akan terus hidup ketika kesehatan, pengetahuan, kejujuran, kelembutan hati, dan kepedulian terhadap generasi berikutnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.The relationship among Wuwuk’s past, present, and future does not lie in a destiny already fixed by a name. It lives in how each generation understands and practises the inheritance of those who came before. The founders’ prayer will remain alive only when health, knowledge, honesty, gentleness of heart, and care for future generations are embodied in everyday life.

Memaknai Wuwuk karena itu bukan sekadar mencari arti sebuah kata. Ia merupakan usaha untuk mengenali kembali pohon, tanah, situs, bahasa, doa, kerja, pendidikan, dan pengetahuan yang membentuk komunitas. Dari pengenalan tersebut, orang Wuwuk dapat berjalan menuju kinaeneyan: menjadi manusia yang semakin utuh, memahami asal-usulnya, bertanggung jawab terhadap kehidupannya, serta memberikan kebaikan kepada sesama dan generasi yang akan datang.To interpret Wuwuk, then, is not merely to search for the meaning of a word. It is an effort to recognize again the tree, land, sites, language, prayer, work, education, and knowledge that have shaped the community. From that recognition, Wuwuk people can walk toward kinaeneyan: becoming more whole as human beings, understanding their origins, taking responsibility for their lives, and bringing goodness to others and to generations yet to come.

Daftar ReferensiReferences

Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa Selatan. 2015. Kecamatan Tareran dalam Angka 2015.Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa Selatan. 2015. Kecamatan Tareran dalam Angka 2015.

Graafland, N. 1991. Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya. Diterjemahkan oleh Lucy R. Montolalu. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Graafland, N. 1991. Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya. Translated by Lucy R. Montolalu. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

MMABES. 2011. Roong Wuwuk: Sejarah dan Kumpulan Lagu Tumeir. MMABES. 2011. Roong Wuwuk: Sejarah dan Kumpulan Lagu Tumeir.

Nainggolan, Alon Mandimpu, Juanda Manullang, dan Nency Aprilia Heydemans. 2022. “Sacrality of the Manguni Bird in the Minahasa Contextual Theology.” PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Vol. 18, No. 2.Nainggolan, Alon Mandimpu, Juanda Manullang, and Nency Aprilia Heydemans. 2022. “Sacrality of the Manguni Bird in the Minahasa Contextual Theology.” PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Vol. 18, No. 2.

Palar, Wimsje Revlin. 2018. “Kategori Aspek dalam Bahasa Tontemboan.” Makalah Kongres Bahasa Indonesia XI.Palar, Wimsje Revlin. 2018. “Kategori Aspek dalam Bahasa Tontemboan.” Paper presented at Kongres Bahasa Indonesia XI.

Pinontoan, Denni H. R. 2015. “Menuju Teologi Identitas: Kajian atas Rekonstruksi dan Representasi Moral Kristen Barat terhadap Makna Mu’kur di Minahasa.” Indonesian Journal of Theology, Vol. 3, No. 1.Pinontoan, Denni H. R. 2015. “Menuju Teologi Identitas: Kajian atas Rekonstruksi dan Representasi Moral Kristen Barat terhadap Makna Mu’kur di Minahasa.” Indonesian Journal of Theology, Vol. 3, No. 1.

Royal Botanic Gardens, Kew. Plants of the World Online: “Canarium minahassae Koord.” Nama tersebut dicatat sebagai sinonim dari Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. Diakses 22 Juni 2026.Royal Botanic Gardens, Kew. Plants of the World Online: “Canarium minahassae Koord.” The name is listed as a synonym of Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. Accessed 22 June 2026.

Schwarz, J. A. T. 1907. Tontemboansche Teksten. Leiden: E. J. Brill.Schwarz, J. A. T. 1907. Tontemboansche Teksten. Leiden: E. J. Brill.

Schwarz, J. A. T. 1908. Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek: met Nederlandsch-Tontemboansch Register. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.Schwarz, J. A. T. 1908. Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek: met Nederlandsch-Tontemboansch Register. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Tampi dkk. Sejarah GMIM Wuwuk. Tampi et al. Sejarah GMIM Wuwuk.

MEMBONGKAR TERMINOLOGI DAN FILOSOFI WUWUK

Unpacking the Terminology and Philosophy of Wuwuk

 
Oleh: Kalfein WuisanBy: Kalfein Wuisan

Nama Wuwuk tidak dapat dipahami hanya sebagai nama sebuah desa dalam administrasi pemerintahan. Di dalamnya tersimpan sejarah mengenai pohon, getah beraroma harum, praktik ritual, pendirian kampung, pengetahuan leluhur, serta identitas masyarakat yang hidup di dalamnya. Membicarakan Wuwuk berarti memasuki hubungan antara bahasa, tumbuhan, ruang hidup, ingatan kolektif, dan perjalanan masyarakatnya dari masa lalu hingga sekarang.The name Wuwuk cannot be understood simply as the name of a village within government administration. It carries histories of a tree, fragrant resin, ritual practice, the founding of a settlement, ancestral knowledge, and the identity of the people who live there. To speak of Wuwuk is to enter into relationships among language, plants, living territory, collective memory, and the community’s journey from the past to the present.

Untuk memahami arti Wuwuk secara utuh, setidaknya terdapat tiga lapisan sumber yang perlu dibaca bersama. Pertama, catatan tertulis, termasuk karya J. A. T. Schwarz dan N. Graafland. Kedua, sejarah lisan serta dokumen yang disusun dan diwariskan oleh masyarakat Wuwuk. Ketiga, tafsir filosofis yang berkembang ketika orang Wuwuk menghubungkan nama kampung dengan pengalaman hidup, kerja, pendidikan, dan harapan antargenerasi. Ketiga lapisan tersebut saling melengkapi, tetapi tetap perlu dibedakan agar catatan sejarah, ingatan lisan, dan pemaknaan filosofis tidak tercampur seolah-olah berasal dari sumber yang sama.To understand the meaning of Wuwuk more fully, at least three layers of sources need to be read together. First are written records, including the works of J. A. T. Schwarz and N. Graafland. Second are oral histories and documents compiled and passed down by the Wuwuk community. Third are philosophical interpretations that have developed as Wuwuk people connect the name of their village with lived experience, work, education, and intergenerational hopes. These three layers complement one another, but they still need to be distinguished so that historical records, oral memory, and philosophical interpretation are not blended together as though they came from the same source.

Wuwuk sebagai Pohon, Aroma, dan Nama KampungWuwuk as Tree, Fragrance, and Village Name

Dalam sejarah lisan masyarakat, nama Wuwuk berasal dari sejenis pohon yang dalam penyebutan lama juga dikenal sebagai wuk-wuk. Pohon tersebut menghasilkan getah menyerupai damar yang ketika dibakar mengeluarkan aroma harum seperti kemenyan. Dalam beberapa penuturan lokal, pohon itu juga dihubungkan dengan nama reri’, seringa, atau “solo hutan”. Hubungan antara nama-nama lokal tersebut masih memerlukan penelitian botani dan pemeriksaan terhadap spesimen tumbuhan yang dikenal masyarakat.In the community’s oral history, the name Wuwuk comes from a kind of tree that in older usage was also known as wuk-wuk. The tree produces a resin resembling damar which, when burned, gives off a fragrance similar to incense. In some local accounts, the tree is also associated with the names reri’, seringa, or “solo hutan.” The relationship among these local names still requires botanical research and examination of plant specimens known to the community.

Keterangan tertulis yang cukup jelas mengenai asal nama Wuwuk terdapat dalam Tontemboansche Teksten karya J. A. T. Schwarz, yang diterbitkan pada 1907. Dalam kisah berjudul “Verhaal omtrent het dorp Woewoek”, yang dituturkan oleh A. W. Rompas dari Wuwuk, Schwarz mencatat bahwa pendiri Wuwuk bernama Sage’. Ia menjelaskan bahwa wuwuk adalah pohon yang menghasilkan getah berbau harum. Getah tersebut dibakar untuk mengharumkan pakaian atau kain. Pohon itu ditemukan di wilayah sebelah tenggara, kemudian namanya digunakan sebagai nama kampung yang didirikan oleh para pendahulu masyarakat Wuwuk (Schwarz, 1907, hlm. 224–225).A relatively clear written account of the origin of the name Wuwuk appears in J. A. T. Schwarz’s Tontemboansche Teksten, published in 1907. In a story titled “Verhaal omtrent het dorp Woewoek,” narrated by A. W. Rompas of Wuwuk, Schwarz records that the founder of Wuwuk was Sage’. He explains that wuwuk is a tree that produces fragrant resin. The resin was burned to perfume clothing or cloth. The tree was found in the area to the southeast, and its name was later used for the village established by the ancestors of the Wuwuk community (Schwarz, 1907, pp. 224–225).

Schwarz mengidentifikasi pohon Wuwuk dengan nama ilmiah Canarium minahassae. Dalam klasifikasi botani yang digunakan saat ini, nama Canarium minahassae Koord. ditempatkan sebagai sinonim dari Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. Keterangan ini penting untuk menghubungkan sejarah lokal Wuwuk dengan perkembangan ilmu botani, walaupun identifikasi pohon yang pernah tumbuh di lokasi pendirian kampung tetap memerlukan penelitian lapangan.Schwarz identified the Wuwuk tree by the scientific name Canarium minahassae. In current botanical classification, Canarium minahassae Koord. is treated as a synonym of Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. This information is important for connecting Wuwuk’s local history with developments in botanical science, although identifying the tree that once grew at the site where the village was founded still requires field research.

Getah Wuwuk tampaknya tidak hanya digunakan sebagai pewangi dalam kehidupan sehari-hari. Schwarz mencatat bahwa getah dari pohon yang disebutnya jarang ditemukan itu dibakar untuk mengasapi pakaian yang digunakan dalam upacara adat. Senjata juga diasapi sebelum dibawa ke medan perang, sedangkan para walian perempuan mengasapi diri mereka sebelum menjalankan mareindeng (Schwarz, 1907, hlm. 238). Dengan demikian, aroma Wuwuk berada di antara kebutuhan sehari-hari, persiapan ritual, perlindungan, dan kekuatan spiritual.Wuwuk resin appears to have been used for more than everyday fragrance. Schwarz records that resin from the tree, which he described as rarely found, was burned to smoke clothing used in customary ceremonies. Weapons were also smoked before being taken to war, while female walian smoked themselves before performing mareindeng (Schwarz, 1907, p. 238). The fragrance of Wuwuk thus stood at the intersection of everyday needs, ritual preparation, protection, and spiritual power.

Dalam pengetahuan lisan masyarakat Wuwuk, kegiatan membakar atau mengasapi menggunakan getah tersebut berhubungan dengan istilah Pawuwukan. Istilah ini tidak hanya menunjuk pada bahan yang dibakar, tetapi juga pada kegiatan dan ruang tempat pengasapan dilakukan. Para walian dan waraney dikisahkan berkumpul untuk bafufu, yakni mengasapi diri, pakaian, senjata, dan perlengkapan mereka sebelum menjalankan tugas tertentu. Dalam sejumlah penuturan, kegiatan tersebut juga dimaknai sebagai cara “memanaskan” atau menguatkan sompoi, yaitu pengetahuan, kemampuan, atau daya yang dimiliki seseorang. Pemaknaan tentang sompoi ini terutama hidup dalam pengetahuan lisan masyarakat dan perlu ditempatkan sebagai bagian dari ingatan lokal Wuwuk.In the oral knowledge of the Wuwuk community, the burning or smoking of this resin is associated with the term Pawuwukan. The term refers not only to the material being burned, but also to the activity and the place where the smoking was carried out. Walian and waraney are said to have gathered to bafufu—to smoke themselves, their clothing, weapons, and equipment before undertaking certain duties. In some accounts, the activity is also understood as a way of “heating” or strengthening sompoi, meaning a person’s knowledge, ability, or power. This understanding of sompoi lives primarily in the community’s oral knowledge and should be situated within Wuwuk’s local memory.

Dari hubungan tersebut, Wuwuk memiliki arti yang berlapis. Ia merupakan nama pohon, getah yang beraroma harum, kegiatan pengasapan, ruang berlangsungnya kegiatan itu, dan akhirnya nama sebuah kampung. Nama Wuwuk lahir dari hubungan yang erat antara tumbuhan, manusia, ritual, pengetahuan, dan tempat hidup.Through these relationships, Wuwuk carries multiple layers of meaning. It is the name of a tree, its fragrant resin, the act of smoking, the space where that activity took place, and finally the name of a village. The name Wuwuk emerged from an intimate relationship among plants, people, ritual, knowledge, and the place where life is lived.

Wuwuk sebagai Ro’ong dan IdentitasWuwuk as Ro’ong and Identity

Wuwuk yang dibicarakan dalam tulisan ini bukan hanya Desa Wuwuk dalam batas administratif sekarang. Secara pemerintahan, wilayah tersebut telah terbagi menjadi Desa Wuwuk dan Desa Wuwuk Barat, yang tercatat sebagai dua desa berbeda di Kecamatan Tareran. Namun pemisahan administratif tidak dengan sendirinya menghapus ingatan masyarakat mengenai Wuwuk sebagai satu ro’ong atau satu wanua.The Wuwuk discussed here is not only the present-day administrative Village of Wuwuk. Administratively, the area has been divided into Wuwuk Village and Wuwuk Barat Village, recorded as two different villages in Tareran District. Yet administrative division does not by itself erase the community’s memory of Wuwuk as a single ro’ong or wanua.

Karena itu, ketika menyebut Wuwuk, saya merujuk pada keseluruhan wilayah dan masyarakat yang sekarang berada di Desa Wuwuk dan Desa Wuwuk Barat. Dalam urusan pemerintahan, kedua nama administratif tersebut tentu tetap digunakan. Akan tetapi, dalam sejarah, kebudayaan, hubungan kekerabatan, dan identitas, keduanya bertumbuh dari satu nama yang sama, yaitu Wuwuk.Therefore, when I refer to Wuwuk, I mean the entire territory and community now located in Wuwuk Village and Wuwuk Barat Village. In matters of government administration, the two administrative names naturally remain in use. But in history, culture, kinship, and identity, both grew from the same name: Wuwuk.

Saya lebih memilih menggunakan nama Wuwuk daripada istilah “Wuwuk Raya”. Penambahan kata “raya” dapat dipahami sebagai usaha untuk menyebut kedua desa secara bersamaan. Namun nama Wuwuk sendiri sebenarnya telah mengandung keseluruhan tersebut. Wuwuk bukan hanya nama salah satu desa yang tersisa setelah pemekaran, melainkan nama ro’ong yang telah ada jauh sebelum batas pemerintahan sekarang dibentuk.I prefer to use the name Wuwuk rather than the term “Wuwuk Raya.” Adding the word “raya” can be understood as an attempt to refer to the two villages together. Yet the name Wuwuk itself already contains that whole. Wuwuk is not merely the name of one village left after administrative division; it is the name of a ro’ong that existed long before the present government boundaries were created.

Keadaan ini dapat dibandingkan dengan Minahasa. Secara administratif, tanah Minahasa telah terbagi menjadi beberapa kabupaten dan kota. Seseorang dapat menyebut dirinya berasal dari Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, atau wilayah administratif lainnya. Namun pembagian itu tidak menghilangkan identitas sebagai orang Minahasa. Minahasa tetap hidup sebagai identitas sejarah, budaya, ikatan antarmasyarakat, dan perasaan memiliki terhadap tanah yang sama.This situation can be compared with Minahasa. Administratively, Minahasa land has been divided into several regencies and cities. A person may say they come from South Minahasa, Southeast Minahasa, North Minahasa, or another administrative area. Yet those divisions do not erase their identity as Minahasa people. Minahasa remains alive as a historical and cultural identity, as a bond among communities, and as a sense of belonging to the same land.

Demikian pula seseorang yang tinggal di Wuwuk Barat tetap dapat menyebut dirinya sebagai orang Wuwuk. Jawaban tersebut bukan bentuk penolakan terhadap nama administratif Wuwuk Barat. Ia merupakan penegasan bahwa identitas budaya dapat lebih tua dan lebih luas daripada batas-batas pemerintahan. Nama Wuwuk menghubungkan kedua desa dengan asal-usul yang sama, lokasi pendirian kampung, para leluhur, bahasa, situs sejarah, hubungan keluarga, dan pengalaman hidup bersama.Likewise, someone living in Wuwuk Barat can still identify as a Wuwuk person. This is not a rejection of the administrative name Wuwuk Barat. It affirms that cultural identity can be older and broader than government boundaries. The name Wuwuk connects both villages to a shared origin, the site where the village was founded, the ancestors, language, historical sites, family ties, and a history of living together.

Dengan demikian, Wuwuk tidak hanya menunjuk pada sebuah tempat, tetapi juga pada identitas kolektif Masyarakat Adat Wuwuk. Nama itu menyatukan ruang, manusia, sejarah, dan ingatan yang tidak dapat dipisahkan hanya karena perubahan administrasi pemerintahan.Wuwuk therefore refers not only to a place, but also to the collective identity of the Wuwuk Indigenous community. The name brings together space, people, history, and memory that cannot be separated simply by changes in government administration.

Pendirian Wuwuk, Burung Pertanda, dan Watu TumotowaThe Founding of Wuwuk, the Omen Bird, and Watu Tumotowa

Dalam sejarah lisan Wuwuk, pendirian kampung berhubungan dengan petunjuk Amang Kasuruan Wangko melalui suara burung Manguni yang hinggap atau bersuara di sekitar pohon Wuwuk. Tanda tersebut dipahami sebagai restu untuk membuka dan mendirikan kampung. Pohon Wuwuk kemudian menjadi penanda tempat sekaligus sumber nama bagi ro’ong yang dibangun.In Wuwuk oral history, the founding of the village is connected to guidance from Amang Kasuruan Wangko through the call of a Manguni bird that perched or called near the Wuwuk tree. The sign was understood as approval to clear the land and establish the village. The Wuwuk tree then became both a marker of place and the source of the name of the ro’ong that was built there.

Dalam kebudayaan Minahasa, Manguni memiliki kedudukan simbolis yang penting. Burung ini juga dikenal melalui penyebutan seperti Wara i Endo, ot, atau tototic, dan dipahami sebagai pembawa kabar serta penghubung antara manusia dengan kekuatan ilahi. Pemahaman tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh rincian peristiwa pendirian Wuwuk, tetapi memperlihatkan bahwa cerita mengenai petunjuk burung berada dalam kerangka kosmologi Minahasa yang lebih luas (Nainggolan, Manullang, dan Heydemans, 2022).In Minahasa culture, Manguni holds an important symbolic place. The bird is also known by names such as Wara i Endo, ot, or tototic, and is understood as a bearer of messages and a link between humans and divine power. This understanding does not by itself prove every detail of Wuwuk’s founding story, but it shows that the account of guidance through a bird belongs within a broader Minahasa cosmological framework (Nainggolan, Manullang, and Heydemans, 2022).

Catatan Schwarz juga menyebut peran seekor “burung kepercayaan” dalam pendirian Wuwuk. Di tengah lapangan kampung, masyarakat menguburkan tanda-tanda yang mewakili berapa kali burung tersebut bersuara. Di atas tempat penguburan itu kemudian didirikan dua batu tinggi, dengan salah satu batu lebih rendah daripada yang lain. Kedua batu tersebut disebut tumotowa (Schwarz, 1907, hlm. 225).Schwarz’s account also mentions the role of a “bird of belief” in the founding of Wuwuk. In the middle of the village square, the community buried markers representing the number of times the bird called. Two tall stones were then erected over the burial place, one lower than the other. The two stones were called tumotowa (Schwarz, 1907, p. 225).

Catatan tertulis Schwarz dan sejarah lisan masyarakat Wuwuk saling menguatkan dalam menjelaskan pentingnya burung pertanda dan batu tumotowa. Meskipun Schwarz tidak secara tegas menyebut burung tersebut sebagai Manguni, kisah itu menunjukkan bahwa keputusan mendirikan kampung tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan fisik, tetapi juga melalui pembacaan tanda-tanda alam dan keyakinan spiritual masyarakat.Schwarz’s written account and Wuwuk oral history reinforce one another in explaining the importance of the omen bird and the tumotowa stones. Although Schwarz does not explicitly identify the bird as Manguni, the story shows that the decision to establish the village was based not only on physical considerations, but also on reading signs in nature and on the community’s spiritual beliefs.

Pohon Wuwuk dalam sejarah lisan disebut tumbuh di daerah Sendangan. Daerah tersebut kemudian menjadi tempat tumani, yakni proses mendirikan atau membuka kampung. Di kompleks Sendangan masih dikenal keberadaan Watu Tumotowa dan beberapa pohon Tawaang. Kehadiran batu dan tumbuhan tersebut menjaga ingatan bahwa berkat, kehidupan, perlindungan, dan keberlanjutan generasi pernah dimohonkan oleh para dotu pendiri Wuwuk di tempat itu.In oral history, the Wuwuk tree is said to have grown in the Sendangan area. This later became the place of tumani, the process of establishing or opening a village. Watu Tumotowa and several Tawaang plants are still known in the Sendangan complex. The presence of the stones and plants preserves the memory that the dotu who founded Wuwuk once asked there for blessing, life, protection, and the continuation of future generations.

Dalam penjelasan masyarakat, kata Tumotowa kerap dihubungkan dengan tumou, yang berarti hidup atau bertumbuh, dan towa, yang dipahami sebagai memanggil. Dari hubungan tersebut, Watu Tumotowa dimaknai sebagai batu tempat “memanggil kehidupan”. Penjelasan ini memiliki makna yang kuat dalam sejarah lisan masyarakat, meskipun asal katanya tetap perlu ditelaah lebih jauh melalui kamus Tontemboan dan pengetahuan para penuturnya.In community explanations, the word Tumotowa is often connected with tumou, meaning to live or grow, and towa, understood as to call. From this relationship, Watu Tumotowa is interpreted as the stone where “life is called.” This explanation carries strong meaning in community oral history, although the word’s origin still needs further examination through Tontemboan dictionaries and the knowledge of language speakers.

Kajian Denni H. R. Pinontoan menjelaskan bahwa Watu Tumotowa merupakan batu berbentuk lonjong yang ditancapkan dengan posisi mengarah ke langit. Batu sejenis ini ditemukan di berbagai kampung tua Minahasa dan berfungsi sebagai penanda tempat ritual. Watu Tumotowa bukan sekadar benda mati, melainkan artefak yang menyimpan cerita mengenai leluhur, pendirian komunitas, dan penataan ruang hidup bersama (Pinontoan, 2015).A study by Denni H. R. Pinontoan explains Watu Tumotowa as an elongated stone set upright and pointing toward the sky. Stones of this kind are found in various old Minahasa settlements and function as markers of ritual places. Watu Tumotowa is not merely an inanimate object, but an artefact carrying stories of ancestors, the founding of communities, and the ordering of shared living space (Pinontoan, 2015).

Karena itu, Watu Tumotowa di Wuwuk penting bukan hanya sebagai peninggalan material. Ia menghubungkan Sendangan dengan suara burung pertanda, keputusan mendirikan kampung, doa para leluhur, dan permohonan agar kehidupan terus tumbuh dari satu generasi kepada generasi berikutnya.For this reason, Watu Tumotowa in Wuwuk is important not only as a material remnant. It connects Sendangan with the call of the omen bird, the decision to establish the village, the prayers of the ancestors, and the hope that life would continue to grow from one generation to the next.

Antara Etimologi dan Tafsir FilosofisBetween Etymology and Philosophical Interpretation

Dalam penuturan lokal, nama Wuwuk juga sering dibaca melalui unsur wu, yang diartikan sebagai gerak menuju atau berada di atas, dan wuuk, yang berarti rambut. Rambut berada di bagian atas tubuh sehingga kata wuuk kemudian ditafsirkan sebagai sesuatu yang terletak di atas, bahkan “di atasnya lagi”.In local accounts, the name Wuwuk is also often read through the element wu, understood as movement toward or being above, and wuuk, meaning hair. Hair is located on the upper part of the body, so wuuk is then interpreted as something located above, even “higher still.”

Hubungan antara wu, wuuk, dan Wuwuk belum dapat dinyatakan sebagai kesimpulan etimologis yang pasti. Bahasa Tontemboan memiliki variasi pengucapan, bentuk kata, dan kosakata. Karena itu, penjelasan tersebut masih perlu ditelaah melalui kamus Tontemboan, perbandingan dialek, serta pengetahuan para penutur bahasa.The relationship among wu, wuuk, and Wuwuk cannot yet be stated as a definitive etymological conclusion. Tontemboan has variations in pronunciation, word forms, and vocabulary. The explanation therefore still needs to be examined through Tontemboan dictionaries, dialect comparison, and the knowledge of language speakers.

Namun sebagai tafsir filosofis, hubungan tersebut tetap memiliki arti yang penting. Wuwuk dapat dibaca sebagai sebuah gerak dari bawah menuju ke atas. Tafsir ini bertemu dengan sifat asap dari getah Wuwuk: ia berasal dari sesuatu yang dibakar dekat tanah, kemudian bergerak naik sambil menyebarkan aroma harum ke seluruh ruang.As a philosophical interpretation, however, this relationship remains meaningful. Wuwuk can be read as a movement from below upward. This interpretation meets the character of smoke from Wuwuk resin: it begins with something burned close to the ground, then rises while spreading fragrance through the surrounding space.

Dari hubungan antara pohon, getah, api, asap, dan gerak ke atas, lahirlah ungkapan lokal: tu ada fufu, tu harum pe harum, yang dari bawah ke atas. Ungkapan ini bukan terjemahan langsung dari kamus, tetapi sebuah perumusan filosofis mengenai Wuwuk. Ia menggambarkan sesuatu yang bermula dari bawah, menjalani proses, lalu bergerak naik dan menyebarkan keharuman.From the relationship among tree, resin, fire, smoke, and upward movement comes the local expression: tu ada fufu, tu harum pe harum, yang dari bawah ke atas. This is not a direct dictionary translation, but a philosophical formulation of Wuwuk. It describes something that begins below, goes through a process, then moves upward and spreads fragrance.

Kata “bawah” dalam pemaknaan tersebut tidak berarti kehinaan atau rendahnya martabat seseorang. Ia menunjuk pada akar, tanah, kerja, perjuangan, dan kehidupan sehari-hari. Sementara “atas” tidak semata-mata berarti jabatan, kekuasaan, atau kedudukan sosial. Ia dapat berarti perkembangan pengetahuan, kedewasaan, keberhasilan, dan kemampuan memberikan manfaat kepada orang lain.In this interpretation, “below” does not mean humiliation or low human worth. It points to roots, land, work, struggle, and everyday life. “Above,” meanwhile, does not simply mean office, power, or social status. It can mean the growth of knowledge, maturity, achievement, and the capacity to benefit others.

Filosofi “dari bawah ke atas” dengan demikian bukan ajakan untuk meninggalkan akar. Seperti asap Wuwuk yang dapat naik karena terdapat pohon, getah, api, dan tanah tempat pembakaran, seseorang dapat bertumbuh tinggi hanya ketika ia tetap mengetahui sumber kehidupannya. Semakin jauh seseorang berjalan, semakin penting pula ingatan terhadap tanah dan masyarakat yang menopangnya.The philosophy of “from below upward” is therefore not an invitation to abandon one’s roots. Just as Wuwuk smoke can rise because there is a tree, resin, fire, and the ground where it is burned, a person can grow higher only while knowing the source of their life. The farther someone travels, the more important it becomes to remember the land and community that sustain them.

Woewoek, Wuwuk, dan Penulisan NamaWoewoek, Wuwuk, and the Writing of the Name

Dalam karya Schwarz, nama kampung ditulis Woewoek, sedangkan nama pohonnya juga muncul dalam bentuk woewoek atau wuwuk. Bentuk oe merupakan cara penulisan bunyi u dalam sistem ejaan bahasa Belanda pada masa itu. Karena itu, kata Woewoek dibaca sebagai Wuwuk.In Schwarz’s work, the village name is written Woewoek, while the tree name also appears as woewoek or wuwuk. The form oe was used to represent the sound u in the Dutch spelling system of that period. Woewoek is therefore read as Wuwuk.

Penulisan Woewoek tidak berarti bahwa nama asli kampung adalah Woewoek. Bentuk tersebut memperlihatkan cara penulis Belanda merekam bunyi lokal dengan sistem ejaan yang mereka gunakan. Dalam ejaan bahasa Indonesia sekarang, bentuk yang digunakan adalah Wuwuk.The spelling Woewoek does not mean that the village’s original name was Woewoek. The form shows how Dutch writers recorded a local sound using the spelling system available to them. In present-day Indonesian spelling, the form used is Wuwuk.

Ketelitian dalam penulisan nama penting karena sejarah bahasa tidak hanya menyangkut kebanggaan terhadap masa lalu, tetapi juga tanggung jawab dalam mewariskan pengetahuan. Bentuk tertulis dalam dokumen lama, pengucapan masyarakat, serta tafsir filosofis terhadap nama perlu dijelaskan sesuai konteksnya dan tidak dicampurkan seolah-olah seluruhnya merupakan satu bentuk etimologi yang sama.Care in writing the name matters because the history of language concerns not only pride in the past, but also responsibility in passing knowledge on. Written forms in old documents, community pronunciation, and philosophical interpretations of the name need to be explained in their respective contexts rather than blended together as though they were all one and the same etymology.

Wuwuk, Pendidikan Adat, dan Keharuman NamaWuwuk, Indigenous Education, and the Fragrance of a Name

Filosofi Wuwuk memperoleh pemaknaan baru melalui perjalanan masyarakatnya. Pada suatu masa, Wuwuk dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai “gudang sarjana”, yakni kampung yang melahirkan banyak guru, akademisi, pendeta, aparatur pemerintahan, dan orang-orang berpendidikan. Sebutan tersebut masih perlu diperkuat melalui pendataan mengenai jumlah dan perjalanan para sarjana Wuwuk dari masa ke masa. Namun catatan sejarah menunjukkan bahwa hubungan Wuwuk dengan pendidikan telah berlangsung cukup panjang.The philosophy of Wuwuk acquires new meaning through the journey of its people. At one time, surrounding communities knew Wuwuk as a “village of scholars,” a village that produced many teachers, academics, ministers, government officials, and educated people. This description still needs to be strengthened through data on the number and trajectories of Wuwuk graduates over time. Historical records nevertheless show that Wuwuk’s relationship with education has a long history.

Schwarz mencatat bahwa sebuah sekolah zending dibuka di Wuwuk pada September 1838. Guru pertamanya bernama Hermanus Lintjewas yang berasal dari Amurang. Setelah itu, tercatat pula sejumlah guru lain yang mengajar di Wuwuk (Schwarz, 1907, hlm. 225 dan seterusnya). Catatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan formal telah hadir di Wuwuk setidaknya sejak paruh pertama abad ke-19.Schwarz records that a mission school was opened in Wuwuk in September 1838. Its first teacher was Hermanus Lintjewas from Amurang. A number of other teachers who later taught in Wuwuk are also recorded (Schwarz, 1907, p. 225 and following). The record shows that formal education had been present in Wuwuk at least since the first half of the nineteenth century.

Keberadaan sekolah sejak 1838 tidak dapat dijadikan satu-satunya alasan mengapa kemudian banyak orang Wuwuk menempuh pendidikan tinggi. Namun catatan itu menunjukkan adanya perjalanan pendidikan yang panjang. Dari generasi ke generasi, sekolah, keluarga, gereja, kebun, dan kehidupan bermasyarakat membentuk sebuah lingkungan yang menempatkan pengetahuan sebagai sesuatu yang bernilai.The presence of a school since 1838 cannot be treated as the sole reason why many Wuwuk people later pursued higher education. It does, however, show a long educational trajectory. Across generations, schools, families, churches, gardens, and community life formed an environment in which knowledge was regarded as something of value.

Meskipun demikian, sejarah pendidikan Wuwuk tidak dimulai ketika sekolah formal didirikan. Jauh sebelum adanya ruang kelas, masyarakat telah memiliki cara sendiri dalam mewariskan pengetahuan. Anak-anak belajar melalui keluarga, kebun, bahasa, cerita leluhur, kerja bersama, pengamatan terhadap alam, serta keterlibatan langsung dalam kehidupan komunitas. Pendidikan berlangsung ketika seorang anak mengikuti orang tuanya ke kebun, mendengar cerita mengenai asal-usul kampung, mengenali musim, belajar bekerja dalam Mapalus, memahami sumber air, atau menyaksikan bagaimana sebuah keputusan diambil bersama.Even so, Wuwuk’s educational history did not begin when formal schooling was established. Long before classrooms existed, the community already had its own ways of passing on knowledge. Children learned through family, gardens, language, ancestral stories, collective work, observation of nature, and direct participation in community life. Education took place when children followed their parents to the garden, listened to stories about the village’s origins, recognized seasons, learned to work through Mapalus, understood water sources, or watched how decisions were made collectively.

Di tengah sejarah panjang Wuwuk sebagai kampung yang menghargai pendidikan, pendidikan adat memperluas arti belajar agar tidak hanya terbatas pada sekolah dan perguruan tinggi. Pendidikan adat membantu anak-anak dan Pemuda Adat mengenali sejarah kampung, bahasa Tontemboan, wilayah adat, pertanian, benih lokal, Mapalus, tanda-tanda alam, tanaman obat, pengelolaan air, serta nilai kejujuran dan tanggung jawab yang diwariskan oleh para pendahulu.Within Wuwuk’s long history as a village that values education, Indigenous Education broadens the meaning of learning beyond schools and universities. It helps children and Indigenous Youth learn the history of the village, the Tontemboan language, customary territory, agriculture, local seeds, Mapalus, signs in nature, medicinal plants, water management, and the values of honesty and responsibility passed down by earlier generations.

Pendidikan adat tidak dimaksudkan untuk menggantikan pendidikan formal. Keduanya seharusnya saling memperkuat. Sekolah dan perguruan tinggi membuka jalan untuk memahami ilmu pengetahuan yang lebih luas, sedangkan pendidikan adat menjaga agar generasi Wuwuk tidak tercerabut dari tanah, bahasa, sejarah, dan kehidupan masyarakatnya. Pendidikan yang utuh tidak hanya membuat seseorang mampu membaca buku dan dunia, tetapi juga mampu membaca tanah, alam, sejarah, serta tanggung jawabnya kepada komunitas.Indigenous Education is not intended to replace formal education. The two should strengthen one another. Schools and universities open paths toward wider fields of knowledge, while Indigenous Education helps ensure that Wuwuk generations are not uprooted from their land, language, history, and community life. A complete education enables a person not only to read books and the wider world, but also to read the land, nature, history, and their responsibilities to the community.

Dengan demikian, pendidikan adat merupakan investasi antargenerasi yang nilainya tidak selalu dapat dihitung dalam rupiah. Ia menentukan keberlanjutan pengetahuan, identitas, bahasa, kedaulatan pangan, pengelolaan wilayah, dan masa depan Masyarakat Adat Wuwuk. Generasi yang berpendidikan tinggi tetapi kehilangan hubungan dengan asal-usulnya dapat memiliki banyak pengetahuan, namun kehilangan arah mengenai kepada siapa pengetahuan itu harus diabdikan.Indigenous Education is therefore an intergenerational investment whose value cannot always be measured in rupiah. It shapes the continuity of knowledge, identity, language, food sovereignty, territorial management, and the future of the Wuwuk Indigenous community. A generation with high levels of formal education but no relationship with its origins may possess extensive knowledge while losing sight of whom that knowledge should serve.

Dalam pengalaman banyak keluarga Wuwuk, pendidikan anak-anak tidak lahir dari kemudahan ekonomi. Pendidikan dibiayai melalui hasil kebun, cengkih, kelapa, sawah, peternakan, serta pekerjaan mengolah nira menjadi Cap Tikus. Pekerjaan-pekerjaan tersebut kadang dipandang rendah oleh orang yang hanya melihat hasil akhirnya. Padahal, dari kebun, hutan, pohon aren, dan tempat penyulingan itulah banyak orang tua memenuhi kebutuhan keluarga dan mengirim anak-anak mereka ke sekolah serta perguruan tinggi.In the experience of many Wuwuk families, children’s education did not grow out of economic ease. It was financed through gardens, cloves, coconuts, rice fields, livestock, and the work of processing palm sap into Cap Tikus. These kinds of work are sometimes looked down upon by people who see only their final products. Yet it was from gardens, forests, sugar palms, and distillation sites that many parents met their families’ needs and sent their children to school and university.

Di sinilah ungkapan “dari bawah ke atas” memperoleh makna sosial yang nyata. Orang tua bekerja di tanah, memanjat pohon aren, menyadap dan mengolah nira, menjaga api, menanam, merawat, serta memanen. Anak-anak mereka kemudian menjadi guru, pendeta, akademisi, pekerja profesional, seniman, pemimpin komunitas, atau aparatur pemerintahan. Keberhasilan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan pekerjaan para orang tua. Setiap pencapaian berdiri di atas tenaga, pengetahuan, keberanian, dan pengorbanan mereka.Here the expression “from below upward” takes on concrete social meaning. Parents work the land, climb sugar palms, tap and process the sap, tend the fire, plant, care for crops, and harvest. Their children later become teachers, ministers, academics, professionals, artists, community leaders, or government officials. Those achievements should never become a reason to look down on the work of their parents. Every achievement rests on their labour, knowledge, courage, and sacrifice.

Keharuman Wuwuk karena itu tidak hanya berarti dikenal oleh banyak orang. Nama yang harum harus lahir dari pengetahuan, kejujuran, kerja yang memberi kehidupan, serta tindakan yang berguna bagi keluarga dan kampung. Seseorang tidak mengharumkan Wuwuk hanya karena memiliki gelar atau jabatan. Nama Wuwuk menjadi harum ketika pengetahuan dan kedudukan digunakan untuk melindungi kehidupan bersama, memperkuat masyarakat, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.The fragrance of Wuwuk therefore means more than being widely known. A good name must grow from knowledge, honesty, life-sustaining work, and actions that benefit family and village. A person does not bring honour to Wuwuk merely by holding a degree or office. The name Wuwuk becomes fragrant when knowledge and position are used to protect shared life, strengthen the community, and open paths for the next generation.

Doa Tumani dan Harapan bagi GenerasiThe Tumani Prayer and Hope for Future Generations

Filosofi Wuwuk juga berhubungan dengan doa para pendiri kampung ketika menjalankan Tumani in Doong. Dalam sumber dan ingatan lokal, doa tersebut diwariskan sebagai berikut:The philosophy of Wuwuk is also connected to the prayer of the village founders when they performed Tumani in Doong. In local sources and memory, the prayer has been passed down as follows:

“Apo Amang Kasuruan Wangko ni memak tana wo langit, paka kamang-kamangen nai ami wo setoyaang wo sepoyo-poyo ami an doong anio, wo we’an nai o wak sama wo pengeta’uan wo ate rondor wo lenas asi endo anio wo endo maai.”

“Apo Amang Kasuruan Wangko ni memak tana wo langit, paka kamang-kamangen nai ami wo setoyaang wo sepoyo-poyo ami an doong anio, wo we’an nai o wak sama wo pengeta’uan wo ate rondor wo lenas asi endo anio wo endo maai.”

Doa tersebut diterjemahkan:The prayer is translated as:

“Tuhan Allah Yang Maha Besar yang menciptakan langit dan bumi, berikanlah berkat kepada kami sampai kepada anak-anak dan cucu-cucu kami yang ada di negeri ini. Berikanlah kepada kami tubuh yang sehat, pengetahuan, serta hati yang jujur dan lemah lembut pada masa kini dan masa yang akan datang.”

“Almighty God, who created heaven and earth, grant blessings to us and to our children and grandchildren who live in this land. Grant us healthy bodies, knowledge, and hearts that are honest and gentle, now and in the days to come.”

Kandungan utama doa tersebut menunjukkan bahwa para pendiri kampung tidak hanya meminta kekayaan atau kekuasaan. Mereka memohon kesehatan, pengetahuan, kejujuran, kelembutan hati, dan berkat yang dapat dirasakan oleh anak serta cucu. Doa itu tidak hanya berbicara mengenai kehidupan satu generasi, tetapi mengenai keberlanjutan Wuwuk pada masa yang akan datang.The main content of the prayer shows that the founders of the village did not ask only for wealth or power. They asked for health, knowledge, honesty, gentleness of heart, and blessings that could be experienced by their children and grandchildren. The prayer speaks not only of the life of one generation, but of Wuwuk’s continuity into the future.

Doa tersebut juga memperluas arti “kekuatan” dalam nama Wuwuk. Kekuatan tidak hanya berarti keberanian para waraney atau kemampuan menghadapi musuh. Kekuatan juga berarti tubuh yang sehat, pengetahuan yang digunakan dengan benar, hati yang jujur, dan sikap lemah lembut. Kekuatan yang tidak disertai kejujuran dan kelembutan dapat berubah menjadi kekuasaan yang merusak.The prayer also broadens the meaning of “strength” in the name Wuwuk. Strength does not mean only the courage of the waraney or the ability to confront enemies. It also means a healthy body, knowledge used properly, an honest heart, and gentleness. Strength without honesty and gentleness can turn into destructive power.

Keberhasilan orang Wuwuk pada masa kini tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang secara biologis “mengalir dalam darah”. Nama dan doa tidak menentukan nasib seseorang secara otomatis. Kekuatan sebenarnya hidup dalam ingatan kolektif, pendidikan keluarga, kerja keras, pengetahuan, hubungan antargenerasi, dan nilai-nilai yang terus diajarkan.The achievements of Wuwuk people today need not be understood as something that biologically “flows in the blood.” A name and a prayer do not automatically determine a person’s fate. Real strength lives in collective memory, family education, hard work, knowledge, intergenerational relationships, and values that continue to be taught.

Nama Wuwuk dengan demikian bekerja sebagai pengingat sekaligus tuntutan etis. Siapa pun yang menyandang nama Wuwuk dipanggil untuk menjaga keharumannya melalui tindakan. Keharuman itu bukan warisan yang dapat dibanggakan tanpa tanggung jawab, tetapi sesuatu yang harus terus dihidupkan melalui kejujuran, pengetahuan, kerja, dan kepedulian terhadap sesama.The name Wuwuk therefore works as both a reminder and an ethical demand. Anyone who carries the name Wuwuk is called to preserve its fragrance through action. That fragrance is not an inheritance to be celebrated without responsibility, but something that must continually be brought to life through honesty, knowledge, work, and care for others.

Wuwuk sebagai Jalan Menuju KinaeneyanWuwuk as a Path toward Kinaeneyan

Dari seluruh lapisan tersebut, Wuwuk dapat dipahami sebagai pohon, getah, aroma, asap, kegiatan, ruang, kampung, dan identitas. Dalam sejarahnya terdapat pohon yang getahnya dibakar untuk mengharumkan pakaian serta perlengkapan ritual. Dalam pendirian kampungnya terdapat burung pertanda, Watu Tumotowa, doa, dan harapan agar kehidupan terus bertumbuh. Dalam perjalanan masyarakatnya terdapat kebun, kerja keras, pendidikan adat, sekolah, pengetahuan, dan usaha orang tua untuk mengangkat generasi berikutnya.Across all these layers, Wuwuk can be understood as tree, resin, fragrance, smoke, activity, space, village, and identity. Its history includes a tree whose resin was burned to perfume clothing and ritual equipment. The founding of the village includes an omen bird, Watu Tumotowa, prayer, and the hope that life would continue to grow. The community’s journey includes gardens, hard work, Indigenous Education, schools, knowledge, and parents’ efforts to lift the next generation.

Wuwuk yang “harum” bukan sekadar kampung yang dikenal atau melahirkan orang-orang dengan jabatan tinggi. Keharuman adalah nama baik yang lahir dari kehidupan yang berguna. Wuwuk yang “memberi kekuatan” bukan komunitas yang menguasai orang lain, melainkan komunitas yang menguatkan anggotanya untuk hidup, belajar, bekerja, menjaga tanah, dan memelihara hubungan bersama.A “fragrant” Wuwuk is not merely a village that is well known or produces people in high office. Fragrance is a good name born from a useful life. A Wuwuk that “gives strength” is not a community that dominates others, but one that strengthens its members to live, learn, work, care for the land, and sustain relationships with one another.

Wuwuk yang “bergerak dari bawah ke atas” juga tidak berarti meninggalkan tanah dan melupakan asal-usul. Gerak ke atas justru harus membawa pengetahuan dan manfaat kembali kepada tempat seseorang dibesarkan. Semakin tinggi seseorang berjalan, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap akar yang menopangnya.A Wuwuk that “moves from below upward” does not mean leaving the land behind and forgetting one’s origins. Upward movement should instead carry knowledge and benefit back to the place where a person was raised. The higher someone travels, the greater their responsibility to the roots that sustain them.

Hubungan antara Wuwuk masa lalu, masa kini, dan masa depan tidak terletak pada takdir yang telah selesai ditentukan oleh sebuah nama. Hubungan itu hidup melalui cara setiap generasi memahami dan menjalankan warisan para pendahulunya. Doa pendiri kampung hanya akan terus hidup ketika kesehatan, pengetahuan, kejujuran, kelembutan hati, dan kepedulian terhadap generasi berikutnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.The relationship among Wuwuk’s past, present, and future does not lie in a destiny already fixed by a name. It lives in how each generation understands and practises the inheritance of those who came before. The founders’ prayer will remain alive only when health, knowledge, honesty, gentleness of heart, and care for future generations are embodied in everyday life.

Memaknai Wuwuk karena itu bukan sekadar mencari arti sebuah kata. Ia merupakan usaha untuk mengenali kembali pohon, tanah, situs, bahasa, doa, kerja, pendidikan, dan pengetahuan yang membentuk komunitas. Dari pengenalan tersebut, orang Wuwuk dapat berjalan menuju kinaeneyan: menjadi manusia yang semakin utuh, memahami asal-usulnya, bertanggung jawab terhadap kehidupannya, serta memberikan kebaikan kepada sesama dan generasi yang akan datang.To interpret Wuwuk, then, is not merely to search for the meaning of a word. It is an effort to recognize again the tree, land, sites, language, prayer, work, education, and knowledge that have shaped the community. From that recognition, Wuwuk people can walk toward kinaeneyan: becoming more whole as human beings, understanding their origins, taking responsibility for their lives, and bringing goodness to others and to generations yet to come.

Daftar ReferensiReferences

Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa Selatan. 2015. Kecamatan Tareran dalam Angka 2015.Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa Selatan. 2015. Kecamatan Tareran dalam Angka 2015.

Graafland, N. 1991. Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya. Diterjemahkan oleh Lucy R. Montolalu. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Graafland, N. 1991. Minahasa: Negeri, Rakyat, dan Budayanya. Translated by Lucy R. Montolalu. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

MMABES. 2011. Roong Wuwuk: Sejarah dan Kumpulan Lagu Tumeir. MMABES. 2011. Roong Wuwuk: Sejarah dan Kumpulan Lagu Tumeir.

Nainggolan, Alon Mandimpu, Juanda Manullang, dan Nency Aprilia Heydemans. 2022. “Sacrality of the Manguni Bird in the Minahasa Contextual Theology.” PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Vol. 18, No. 2.Nainggolan, Alon Mandimpu, Juanda Manullang, and Nency Aprilia Heydemans. 2022. “Sacrality of the Manguni Bird in the Minahasa Contextual Theology.” PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Vol. 18, No. 2.

Palar, Wimsje Revlin. 2018. “Kategori Aspek dalam Bahasa Tontemboan.” Makalah Kongres Bahasa Indonesia XI.Palar, Wimsje Revlin. 2018. “Kategori Aspek dalam Bahasa Tontemboan.” Paper presented at Kongres Bahasa Indonesia XI.

Pinontoan, Denni H. R. 2015. “Menuju Teologi Identitas: Kajian atas Rekonstruksi dan Representasi Moral Kristen Barat terhadap Makna Mu’kur di Minahasa.” Indonesian Journal of Theology, Vol. 3, No. 1.Pinontoan, Denni H. R. 2015. “Menuju Teologi Identitas: Kajian atas Rekonstruksi dan Representasi Moral Kristen Barat terhadap Makna Mu’kur di Minahasa.” Indonesian Journal of Theology, Vol. 3, No. 1.

Royal Botanic Gardens, Kew. Plants of the World Online: “Canarium minahassae Koord.” Nama tersebut dicatat sebagai sinonim dari Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. Diakses 22 Juni 2026.Royal Botanic Gardens, Kew. Plants of the World Online: “Canarium minahassae Koord.” The name is listed as a synonym of Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. Accessed 22 June 2026.

Schwarz, J. A. T. 1907. Tontemboansche Teksten. Leiden: E. J. Brill.Schwarz, J. A. T. 1907. Tontemboansche Teksten. Leiden: E. J. Brill.

Schwarz, J. A. T. 1908. Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek: met Nederlandsch-Tontemboansch Register. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.Schwarz, J. A. T. 1908. Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek: met Nederlandsch-Tontemboansch Register. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Tampi dkk. Sejarah GMIM Wuwuk. Tampi et al. Sejarah GMIM Wuwuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.Let us work from the village, for the future.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi yang menghormati hak Masyarakat Adat, keputusan komunitas, pengetahuan, wilayah adat, dan pembagian peran yang adil.Contact KUMA Tawaang for collaboration that respects Indigenous rights, community decisions, knowledge, customary territory, and fair roles.

Buka halaman kontakOpen contact page