In the Rice Field, KUMA Plants Rice and Nurtures Life

Sabtu, 27 Juni 2026, anggota KUMA Tawaang turun ke sawah milik Masri Rondonuwu. Pagi itu sawah tidak hanya dipenuhi bibit padi, tetapi juga langkah banyak orang. Ada orang tua, perempuan, pemuda, dan anak-anak muda yang ikut terlibat. Mereka datang bukan sebagai pekerja upahan, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar kampung yang sedang menjalankan kembali semangat mapalus. On Saturday, 27 June 2026, members of KUMA Tawaang went down to Masri Rondonuwu’s rice field. That morning, the field was filled not only with rice seedlings but also with the movement of many people. Elders, women, youth, and younger community members all took part. They came not as hired laborers, but as part of the wider village community bringing the spirit of mapalus into practice once again.

Di pematang, orang-orang bergerak bergantian. Sebagian turun ke lumpur untuk menanam. Sebagian menyiapkan bibit. Yang lain membantu dari pinggir sawah. Pekerjaan yang biasanya berat menjadi terasa hidup karena dilakukan bersama-sama. Suara percakapan, canda kecil, dan arahan dari orang-orang tua membuat suasana sawah menjadi ruang belajar yang terbuka. Along the embankments, people took turns with different tasks. Some stepped into the mud to plant. Some prepared the seedlings. Others helped from the edge of the field. Work that would normally be demanding felt more alive because it was done together. Conversations, small jokes, and guidance from the elders turned the rice field into an open space for learning.

Di tempat seperti inilah pengetahuan kampung berpindah pelan-pelan. Anak muda melihat bagaimana tangan orang tua menancapkan bibit padi. Mereka belajar membaca jarak tanam, mengikuti alur sawah, menjaga tubuh agar seimbang di lumpur, dan memahami bahwa makanan tidak pernah datang tiba-tiba. Beras lahir dari tanah yang dikerjakan, dari air yang dijaga, dan dari tubuh-tubuh yang rela lelah. It is in places like this that village knowledge is passed on, little by little. Young people watch how elders press rice seedlings into the soil. They learn to judge planting distances, follow the layout of the field, keep their balance in the mud, and understand that food never simply appears. Rice comes from cultivated land, from water that is cared for, and from bodies willing to grow tired in the work.

Yang menarik, sawah Masri Rondonuwu bukan hanya sedang menumbuhkan padi. Ikan-ikan yang dipelihara di sawah itu juga sudah mulai besar. Di antara air sawah dan batang-batang padi yang baru ditanam, kehidupan lain ikut bergerak. Ikan-ikan itu menjadi tanda bahwa sawah bisa memberi lebih dari satu hasil. Ia bisa menjadi tempat padi tumbuh, sekaligus tempat ikan dipelihara untuk menambah pangan dan kekuatan ekonomi keluarga. Masri Rondonuwu’s field is not only growing rice. The fish being raised there have also begun to grow larger. Among the water and newly planted rice stalks, another form of life is moving. The fish show that a rice field can provide more than one kind of harvest. It can be a place where rice grows while also supporting fish that add to the family’s food supply and economic strength.

Bagi KUMA Tawaang, kegiatan seperti ini penting karena menyentuh dasar kehidupan kampung. Kemandirian tidak hanya dibicarakan dalam rapat atau rencana besar. Ia dimulai dari sawah anggota, dari bibit padi yang ditanam bersama, dari ikan yang dipelihara, dari perempuan yang ikut bekerja, dari pemuda yang belajar, dan dari orang tua yang masih menjaga pengetahuan tanah. For KUMA Tawaang, work like this matters because it touches the foundations of village life. Self-reliance is not something discussed only in meetings or large plans. It begins in a member’s rice field, with seedlings planted together, fish being raised, women taking part in the work, young people learning, and elders continuing to hold knowledge of the land.

Sawah Masri Rondonuwu hari itu menjadi gambaran kecil tentang arah KUMA. Tanah tidak dibiarkan sendiri. Air tidak hanya lewat begitu saja. Padi dan ikan dirawat sebagai bagian dari kehidupan yang saling menopang. Di sana, mapalus tidak tampil sebagai kata lama yang disimpan dalam ingatan, tetapi sebagai tindakan yang masih bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan. That day, Masri Rondonuwu’s rice field offered a small picture of KUMA’s direction. The land is not left on its own. Water does not simply pass through. Rice and fish are cared for as parts of a life in which each supports the other. There, mapalus is not an old word preserved only in memory, but a practice that can still be seen, touched, and felt.

Ketika bibit-bibit padi selesai ditanam, yang tertinggal bukan hanya barisan hijau kecil di atas lumpur. Ada harapan yang ikut ditancapkan di sana. Harapan agar keluarga anggota KUMA semakin kuat. Harapan agar anak muda tidak jauh dari tanahnya. Harapan agar sawah tetap menjadi sumber pangan, sumber pengetahuan, dan sumber kehidupan bersama di Wuwuk. When the last seedlings had been planted, what remained was more than small green rows across the mud. Hope had been planted there as well: hope that KUMA families would grow stronger, that young people would remain close to their land, and that the rice fields would continue to be a source of food, knowledge, and shared life in Wuwuk.

Di Sawah, KUMA Menanam Padi dan Merawat Hidup

In the Rice Field, KUMA Plants Rice and Nurtures Life

Sabtu, 27 Juni 2026, anggota KUMA Tawaang turun ke sawah milik Masri Rondonuwu. Pagi itu sawah tidak hanya dipenuhi bibit padi, tetapi juga langkah banyak orang. Ada orang tua, perempuan, pemuda, dan anak-anak muda yang ikut terlibat. Mereka datang bukan sebagai pekerja upahan, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar kampung yang sedang menjalankan kembali semangat mapalus. On Saturday, 27 June 2026, members of KUMA Tawaang went down to Masri Rondonuwu’s rice field. That morning, the field was filled not only with rice seedlings but also with the movement of many people. Elders, women, youth, and younger community members all took part. They came not as hired laborers, but as part of the wider village community bringing the spirit of mapalus into practice once again.

Di pematang, orang-orang bergerak bergantian. Sebagian turun ke lumpur untuk menanam. Sebagian menyiapkan bibit. Yang lain membantu dari pinggir sawah. Pekerjaan yang biasanya berat menjadi terasa hidup karena dilakukan bersama-sama. Suara percakapan, canda kecil, dan arahan dari orang-orang tua membuat suasana sawah menjadi ruang belajar yang terbuka. Along the embankments, people took turns with different tasks. Some stepped into the mud to plant. Some prepared the seedlings. Others helped from the edge of the field. Work that would normally be demanding felt more alive because it was done together. Conversations, small jokes, and guidance from the elders turned the rice field into an open space for learning.

Di tempat seperti inilah pengetahuan kampung berpindah pelan-pelan. Anak muda melihat bagaimana tangan orang tua menancapkan bibit padi. Mereka belajar membaca jarak tanam, mengikuti alur sawah, menjaga tubuh agar seimbang di lumpur, dan memahami bahwa makanan tidak pernah datang tiba-tiba. Beras lahir dari tanah yang dikerjakan, dari air yang dijaga, dan dari tubuh-tubuh yang rela lelah. It is in places like this that village knowledge is passed on, little by little. Young people watch how elders press rice seedlings into the soil. They learn to judge planting distances, follow the layout of the field, keep their balance in the mud, and understand that food never simply appears. Rice comes from cultivated land, from water that is cared for, and from bodies willing to grow tired in the work.

Yang menarik, sawah Masri Rondonuwu bukan hanya sedang menumbuhkan padi. Ikan-ikan yang dipelihara di sawah itu juga sudah mulai besar. Di antara air sawah dan batang-batang padi yang baru ditanam, kehidupan lain ikut bergerak. Ikan-ikan itu menjadi tanda bahwa sawah bisa memberi lebih dari satu hasil. Ia bisa menjadi tempat padi tumbuh, sekaligus tempat ikan dipelihara untuk menambah pangan dan kekuatan ekonomi keluarga. Masri Rondonuwu’s field is not only growing rice. The fish being raised there have also begun to grow larger. Among the water and newly planted rice stalks, another form of life is moving. The fish show that a rice field can provide more than one kind of harvest. It can be a place where rice grows while also supporting fish that add to the family’s food supply and economic strength.

Bagi KUMA Tawaang, kegiatan seperti ini penting karena menyentuh dasar kehidupan kampung. Kemandirian tidak hanya dibicarakan dalam rapat atau rencana besar. Ia dimulai dari sawah anggota, dari bibit padi yang ditanam bersama, dari ikan yang dipelihara, dari perempuan yang ikut bekerja, dari pemuda yang belajar, dan dari orang tua yang masih menjaga pengetahuan tanah. For KUMA Tawaang, work like this matters because it touches the foundations of village life. Self-reliance is not something discussed only in meetings or large plans. It begins in a member’s rice field, with seedlings planted together, fish being raised, women taking part in the work, young people learning, and elders continuing to hold knowledge of the land.

Sawah Masri Rondonuwu hari itu menjadi gambaran kecil tentang arah KUMA. Tanah tidak dibiarkan sendiri. Air tidak hanya lewat begitu saja. Padi dan ikan dirawat sebagai bagian dari kehidupan yang saling menopang. Di sana, mapalus tidak tampil sebagai kata lama yang disimpan dalam ingatan, tetapi sebagai tindakan yang masih bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan. That day, Masri Rondonuwu’s rice field offered a small picture of KUMA’s direction. The land is not left on its own. Water does not simply pass through. Rice and fish are cared for as parts of a life in which each supports the other. There, mapalus is not an old word preserved only in memory, but a practice that can still be seen, touched, and felt.

Ketika bibit-bibit padi selesai ditanam, yang tertinggal bukan hanya barisan hijau kecil di atas lumpur. Ada harapan yang ikut ditancapkan di sana. Harapan agar keluarga anggota KUMA semakin kuat. Harapan agar anak muda tidak jauh dari tanahnya. Harapan agar sawah tetap menjadi sumber pangan, sumber pengetahuan, dan sumber kehidupan bersama di Wuwuk. When the last seedlings had been planted, what remained was more than small green rows across the mud. Hope had been planted there as well: hope that KUMA families would grow stronger, that young people would remain close to their land, and that the rice fields would continue to be a source of food, knowledge, and shared life in Wuwuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.Let us work from the village, for the future.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi yang menghormati hak Masyarakat Adat, keputusan komunitas, pengetahuan, wilayah adat, dan pembagian peran yang adil.Contact KUMA Tawaang for collaboration that respects Indigenous rights, community decisions, knowledge, customary territory, and fair roles.

Buka halaman kontakOpen contact page