Tawaang: Rooting the Community Economy in Land, Knowledge, and Life
TawaangTawaang

Sebuah nama kadang menyimpan arah sebuah gerakan. Bagi KUMA Tawaang, nama itu sekaligus menyimpan hubungan dengan tanah, pengetahuan, dan kehidupan Masyarakat Adat Wuwuk.Sometimes a name carries the direction of a movement. For KUMA Tawaang, the name also carries a relationship with land, knowledge, and the life of the Wuwuk Indigenous community.

Tawaang adalah tumbuhan yang memiliki tempat penting dalam kehidupan orang Minahasa. Ia dikenal sebagai penanda batas tanah, digunakan sebagai tanaman obat, dan hadir dalam berbagai praktik ritual adat. Karena itu, ketika nama Tawaang dipilih, ia bukan sekadar nama kelompok. Ia menjadi pengingat tentang tanggung jawab menjaga wilayah adat, kehidupan komunitas, dan pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur.Tawaang is a plant with an important place in Minahasa life. It is known as a marker of land boundaries, used as a medicinal plant, and present in various customary ritual practices. When the name Tawaang was chosen, therefore, it became more than the name of a group. It became a reminder of the responsibility to care for customary territory, community life, and knowledge passed down by ancestors.

KUMA Tawaang berdiri pada 8 September 2020 di Komunitas Masyarakat Adat Wuwuk. Ia tumbuh dari kebutuhan untuk memperkuat kemandirian ekonomi tanpa memisahkan ekonomi dari pangan, wilayah adat, kebudayaan, dan sistem pengetahuan Masyarakat Adat. KUMA tidak berusaha menciptakan kehidupan ekonomi dari nol. Ia mengorganisir dan memperkuat sumber-sumber penghidupan yang telah lama hidup di dalam komunitas.KUMA Tawaang was established on 8 September 2020 in the Wuwuk Indigenous community. It grew from the need to strengthen economic self-reliance without separating the economy from food, customary territory, culture, and Indigenous knowledge systems. KUMA does not seek to create an economy from nothing. It organises and strengthens sources of livelihood that have long existed within the community.

Karena itu, KUMA Tawaang lebih tepat dipahami sebagai wadah penguatan ekonomi Masyarakat Adat sekaligus Sekolah Adat. Sawah, kebun, peternakan, perikanan, pengolahan pangan, dokumentasi, penerbitan buku, dan pembelajaran antargenerasi tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari satu kerja untuk menjaga keberlanjutan komunitas.For this reason, KUMA Tawaang is best understood as a space for strengthening the Indigenous community economy while also serving as an Indigenous School. Rice fields, gardens, livestock, fisheries, food processing, documentation, book production, and intergenerational learning are not treated as separate activities. They form part of one collective effort to sustain the community.

Ekonomi yang Berakar pada Wilayah AdatAn Economy Rooted in Customary Territory

Dalam cara pandang KUMA Tawaang, ekonomi tidak hanya berada di pasar. Ia hidup di tanah, hutan, sumber air, sawah, kebun, ternak, ikan, benih, kerja kolektif, serta pengetahuan mengenai musim dan cara mengelola alam. Karena itu, wilayah adat bukan sekadar aset ekonomi. Wilayah adat adalah fondasi kehidupan, identitas, pangan, pengetahuan, dan masa depan komunitas.In KUMA Tawaang’s understanding, the economy does not exist only in markets. It lives in land, forests, water sources, rice fields, gardens, livestock, fish, seeds, collective work, and knowledge of seasons and ways of caring for nature. Customary territory is therefore not merely an economic asset. It is the foundation of life, identity, food, knowledge, and the future of the community.

Inilah mengapa penguatan ekonomi tidak boleh dibangun dengan cara merusak sumber kehidupan. Pertumbuhan usaha tidak boleh mengorbankan air, kesuburan tanah, hutan, pengetahuan, budaya, atau hubungan sosial. Kedaulatan ekonomi justru berarti masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola sumber kehidupannya sendiri tanpa kehilangan kendali atas wilayah dan pengetahuannya.This is why economic strengthening cannot be built by damaging the sources of life. The growth of enterprises must not sacrifice water, soil fertility, forests, knowledge, culture, or social relationships. Economic sovereignty means that the community has the capacity to manage its own sources of life without losing control over its territory and knowledge.

Mapalus, Sumembong, dan MawaleMapalus, Sumembong, and Mawale

Kerja KUMA Tawaang berakar pada nilai-nilai yang telah lama hidup di Minahasa. Mapalus menjadi dasar kerja kolektif dan tanggung jawab bersama. Sumembong menghidupkan solidaritas yang tulus, saling membantu, dan saling menguatkan. Mawale mengingatkan tentang kesadaran untuk kembali kepada akar leluhur, tanah adat, dan kehidupan yang tidak tercerabut dari alam.KUMA Tawaang’s work is rooted in values that have long lived in Minahasa. Mapalus provides a foundation for collective work and shared responsibility. Sumembong sustains sincere solidarity, mutual assistance, and mutual strengthening. Mawale carries the awareness of returning to ancestral roots, customary land, and a way of life that is not uprooted from nature.

Nilai-nilai itu tidak dipakai hanya sebagai slogan. Ia diterapkan ketika anggota membuka lahan bersama, mengelola sawah, menanam pangan lokal, memelihara ternak dan ikan, membagi tanggung jawab, mengambil keputusan melalui musyawarah, serta menentukan bagaimana manfaat ekonomi kembali kepada komunitas.These values are not used merely as slogans. They are practised when members open land together, manage rice fields, plant local food, raise livestock and fish, share responsibilities, make decisions through deliberation, and determine how economic benefits return to the community.

Logo KUMA TawaangKUMA Tawaang logo

Belajar melalui PapendanganLearning through Papendangan

Sebagai Sekolah Adat, KUMA Tawaang menjalankan pembelajaran melalui Papendangan. Belajar tidak dibatasi oleh ruang kelas. Kebun, sawah, kolam, kandang, hutan, mata air, dapur, bahasa, cerita, dan pekerjaan sehari-hari menjadi ruang tempat pengetahuan dipelajari, diperiksa kembali, dipraktikkan, dan diwariskan.As an Indigenous School, KUMA Tawaang carries out learning through Papendangan. Learning is not confined to a classroom. Gardens, rice fields, ponds, livestock areas, forests, springs, kitchens, language, stories, and everyday work become spaces where knowledge is learned, revisited, practised, and passed on.

Di dalam proses ini, tetua, Perempuan Adat, Pemuda Adat, petani, anak-anak, dan anggota komunitas lainnya dapat saling belajar. Pengetahuan tidak hanya bergerak dari generasi tua kepada generasi muda. Tetua membagikan ingatan dan pengalaman; Perempuan Adat menjaga banyak pengetahuan tentang pangan, benih, rumah tangga, dan pengolahan hasil; Pemuda Adat membawa kemampuan dokumentasi, teknologi, organisasi, dan jaringan baru.Within this process, elders, Indigenous Women, Indigenous Youth, farmers, children, and other community members can learn from one another. Knowledge does not move only from older to younger generations. Elders share memory and experience; Indigenous Women hold extensive knowledge of food, seeds, household life, and processing harvests; Indigenous Youth bring skills in documentation, technology, organisation, and new networks.

Pertemuan antargenerasi inilah yang membuat KUMA Tawaang bukan sekadar kelompok produksi. Kegiatan ekonomi menjadi sekaligus ruang belajar. Menanam padi berarti belajar tanah, benih, air, musim, dan Mapalus. Memelihara ikan berarti belajar tentang air, pangan, lingkungan, dan tanggung jawab. Mendokumentasikan cerita berarti menjaga bahasa, ingatan, dan kedaulatan narasi.This intergenerational meeting is what makes KUMA Tawaang more than a production group. Economic activities also become learning spaces. Planting rice means learning about soil, seeds, water, seasons, and Mapalus. Raising fish means learning about water, food, the environment, and responsibility. Documenting stories means protecting language, memory, and narrative sovereignty.

Bukan Ekonomi untuk IndividuNot an Economy for Individuals Alone

KUMA Tawaang bukan usaha milik pribadi. Ia dikelola melalui kesepakatan komunitas, kerja kolektif, dan pengambilan keputusan bersama. Produksi pertanian, peternakan, perikanan, distribusi produk lokal, serta pengembangan usaha lainnya diarahkan agar saling terhubung dan memperkuat ekonomi kampung dari dalam.KUMA Tawaang is not a privately owned enterprise. It is managed through community agreements, collective work, and shared decision-making. Agriculture, livestock, fisheries, local product distribution, and other developing enterprises are intended to connect with one another and strengthen the village economy from within.

Tujuannya bukan sekadar menghasilkan lebih banyak uang. KUMA ingin agar nilai ekonomi yang lahir dari tanah dan kerja masyarakat dapat lebih lama berputar di dalam komunitas. Karena itu, gagasan tentang pengolahan hasil, distribusi lokal, kios komunitas, ekonomi sirkular, dan pembagian manfaat yang adil menjadi bagian dari arah jangka panjang KUMA Tawaang.The goal is not simply to generate more money. KUMA wants the economic value created from community land and labour to circulate within the community for longer. This is why product processing, local distribution, a community kiosk, a circular economy, and fair benefit sharing are part of KUMA Tawaang’s long-term direction.

Berdaulat, Mandiri, dan BermartabatSovereign, Self-Reliant, and Dignified

Arah KUMA Tawaang dapat dirangkum dalam tiga kata: Berdaulat, Mandiri, dan Bermartabat. Berdaulat berarti Masyarakat Adat memiliki hak dan kemampuan untuk menentukan masa depan wilayah dan kehidupannya sendiri. Mandiri berarti komunitas mampu memperkuat sumber penghidupan dari kekuatan yang dimiliki. Bermartabat berarti kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan hilangnya budaya, pengetahuan, identitas, atau hubungan dengan tanah.KUMA Tawaang’s direction can be summarised in three words: Sovereign, Self-Reliant, and Dignified. Sovereign means that Indigenous Peoples have the right and capacity to determine the future of their territory and their own lives. Self-reliant means that the community can strengthen livelihoods from the resources and capacities it already holds. Dignified means that economic progress must never be purchased at the cost of culture, knowledge, identity, or relationships with the land.

Dalam pengertian itulah nama Tawaang menemukan maknanya. Seperti tumbuhan yang hidup karena berakar pada tanah, ekonomi komunitas juga membutuhkan akar. Akar itu adalah wilayah adat, Mapalus, Sumembong, Mawale, Papendangan, pangan, pengetahuan, hubungan antargenerasi, dan keputusan komunitas sendiri.It is in this sense that the name Tawaang finds its meaning. Just as a plant lives because it is rooted in the soil, a community economy also needs roots. Those roots are customary territory, Mapalus, Sumembong, Mawale, Papendangan, food, knowledge, intergenerational relationships, and the community’s own decisions.

KUMA Tawaang masih terus bertumbuh. Ia bukan model yang telah selesai. Ia adalah proses belajar, bekerja, memperbaiki, dan membangun kembali dari dalam kampung. Tetapi arahnya tetap jelas: menjaga wilayah dan pengetahuan tetap hidup, memperkuat kedaulatan ekonomi, serta memastikan bahwa kehidupan yang bahagia dan sejahtera dapat terus dibangun dari kampung sendiri.KUMA Tawaang continues to grow. It is not a finished model. It is an ongoing process of learning, working, improving, and rebuilding from within the village. But its direction remains clear: to keep territory and knowledge alive, strengthen economic sovereignty, and ensure that a happy and prosperous life can continue to be built from the village itself.

Profil KUMA TAWAANG

Tawaang: Rooting the Community Economy in Land, Knowledge, and Life
TawaangTawaang

Sebuah nama kadang menyimpan arah sebuah gerakan. Bagi KUMA Tawaang, nama itu sekaligus menyimpan hubungan dengan tanah, pengetahuan, dan kehidupan Masyarakat Adat Wuwuk.Sometimes a name carries the direction of a movement. For KUMA Tawaang, the name also carries a relationship with land, knowledge, and the life of the Wuwuk Indigenous community.

Tawaang adalah tumbuhan yang memiliki tempat penting dalam kehidupan orang Minahasa. Ia dikenal sebagai penanda batas tanah, digunakan sebagai tanaman obat, dan hadir dalam berbagai praktik ritual adat. Karena itu, ketika nama Tawaang dipilih, ia bukan sekadar nama kelompok. Ia menjadi pengingat tentang tanggung jawab menjaga wilayah adat, kehidupan komunitas, dan pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur.Tawaang is a plant with an important place in Minahasa life. It is known as a marker of land boundaries, used as a medicinal plant, and present in various customary ritual practices. When the name Tawaang was chosen, therefore, it became more than the name of a group. It became a reminder of the responsibility to care for customary territory, community life, and knowledge passed down by ancestors.

KUMA Tawaang berdiri pada 8 September 2020 di Komunitas Masyarakat Adat Wuwuk. Ia tumbuh dari kebutuhan untuk memperkuat kemandirian ekonomi tanpa memisahkan ekonomi dari pangan, wilayah adat, kebudayaan, dan sistem pengetahuan Masyarakat Adat. KUMA tidak berusaha menciptakan kehidupan ekonomi dari nol. Ia mengorganisir dan memperkuat sumber-sumber penghidupan yang telah lama hidup di dalam komunitas.KUMA Tawaang was established on 8 September 2020 in the Wuwuk Indigenous community. It grew from the need to strengthen economic self-reliance without separating the economy from food, customary territory, culture, and Indigenous knowledge systems. KUMA does not seek to create an economy from nothing. It organises and strengthens sources of livelihood that have long existed within the community.

Karena itu, KUMA Tawaang lebih tepat dipahami sebagai wadah penguatan ekonomi Masyarakat Adat sekaligus Sekolah Adat. Sawah, kebun, peternakan, perikanan, pengolahan pangan, dokumentasi, penerbitan buku, dan pembelajaran antargenerasi tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari satu kerja untuk menjaga keberlanjutan komunitas.For this reason, KUMA Tawaang is best understood as a space for strengthening the Indigenous community economy while also serving as an Indigenous School. Rice fields, gardens, livestock, fisheries, food processing, documentation, book production, and intergenerational learning are not treated as separate activities. They form part of one collective effort to sustain the community.

Ekonomi yang Berakar pada Wilayah AdatAn Economy Rooted in Customary Territory

Dalam cara pandang KUMA Tawaang, ekonomi tidak hanya berada di pasar. Ia hidup di tanah, hutan, sumber air, sawah, kebun, ternak, ikan, benih, kerja kolektif, serta pengetahuan mengenai musim dan cara mengelola alam. Karena itu, wilayah adat bukan sekadar aset ekonomi. Wilayah adat adalah fondasi kehidupan, identitas, pangan, pengetahuan, dan masa depan komunitas.In KUMA Tawaang’s understanding, the economy does not exist only in markets. It lives in land, forests, water sources, rice fields, gardens, livestock, fish, seeds, collective work, and knowledge of seasons and ways of caring for nature. Customary territory is therefore not merely an economic asset. It is the foundation of life, identity, food, knowledge, and the future of the community.

Inilah mengapa penguatan ekonomi tidak boleh dibangun dengan cara merusak sumber kehidupan. Pertumbuhan usaha tidak boleh mengorbankan air, kesuburan tanah, hutan, pengetahuan, budaya, atau hubungan sosial. Kedaulatan ekonomi justru berarti masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola sumber kehidupannya sendiri tanpa kehilangan kendali atas wilayah dan pengetahuannya.This is why economic strengthening cannot be built by damaging the sources of life. The growth of enterprises must not sacrifice water, soil fertility, forests, knowledge, culture, or social relationships. Economic sovereignty means that the community has the capacity to manage its own sources of life without losing control over its territory and knowledge.

Mapalus, Sumembong, dan MawaleMapalus, Sumembong, and Mawale

Kerja KUMA Tawaang berakar pada nilai-nilai yang telah lama hidup di Minahasa. Mapalus menjadi dasar kerja kolektif dan tanggung jawab bersama. Sumembong menghidupkan solidaritas yang tulus, saling membantu, dan saling menguatkan. Mawale mengingatkan tentang kesadaran untuk kembali kepada akar leluhur, tanah adat, dan kehidupan yang tidak tercerabut dari alam.KUMA Tawaang’s work is rooted in values that have long lived in Minahasa. Mapalus provides a foundation for collective work and shared responsibility. Sumembong sustains sincere solidarity, mutual assistance, and mutual strengthening. Mawale carries the awareness of returning to ancestral roots, customary land, and a way of life that is not uprooted from nature.

Nilai-nilai itu tidak dipakai hanya sebagai slogan. Ia diterapkan ketika anggota membuka lahan bersama, mengelola sawah, menanam pangan lokal, memelihara ternak dan ikan, membagi tanggung jawab, mengambil keputusan melalui musyawarah, serta menentukan bagaimana manfaat ekonomi kembali kepada komunitas.These values are not used merely as slogans. They are practised when members open land together, manage rice fields, plant local food, raise livestock and fish, share responsibilities, make decisions through deliberation, and determine how economic benefits return to the community.

Logo KUMA TawaangKUMA Tawaang logo

Belajar melalui PapendanganLearning through Papendangan

Sebagai Sekolah Adat, KUMA Tawaang menjalankan pembelajaran melalui Papendangan. Belajar tidak dibatasi oleh ruang kelas. Kebun, sawah, kolam, kandang, hutan, mata air, dapur, bahasa, cerita, dan pekerjaan sehari-hari menjadi ruang tempat pengetahuan dipelajari, diperiksa kembali, dipraktikkan, dan diwariskan.As an Indigenous School, KUMA Tawaang carries out learning through Papendangan. Learning is not confined to a classroom. Gardens, rice fields, ponds, livestock areas, forests, springs, kitchens, language, stories, and everyday work become spaces where knowledge is learned, revisited, practised, and passed on.

Di dalam proses ini, tetua, Perempuan Adat, Pemuda Adat, petani, anak-anak, dan anggota komunitas lainnya dapat saling belajar. Pengetahuan tidak hanya bergerak dari generasi tua kepada generasi muda. Tetua membagikan ingatan dan pengalaman; Perempuan Adat menjaga banyak pengetahuan tentang pangan, benih, rumah tangga, dan pengolahan hasil; Pemuda Adat membawa kemampuan dokumentasi, teknologi, organisasi, dan jaringan baru.Within this process, elders, Indigenous Women, Indigenous Youth, farmers, children, and other community members can learn from one another. Knowledge does not move only from older to younger generations. Elders share memory and experience; Indigenous Women hold extensive knowledge of food, seeds, household life, and processing harvests; Indigenous Youth bring skills in documentation, technology, organisation, and new networks.

Pertemuan antargenerasi inilah yang membuat KUMA Tawaang bukan sekadar kelompok produksi. Kegiatan ekonomi menjadi sekaligus ruang belajar. Menanam padi berarti belajar tanah, benih, air, musim, dan Mapalus. Memelihara ikan berarti belajar tentang air, pangan, lingkungan, dan tanggung jawab. Mendokumentasikan cerita berarti menjaga bahasa, ingatan, dan kedaulatan narasi.This intergenerational meeting is what makes KUMA Tawaang more than a production group. Economic activities also become learning spaces. Planting rice means learning about soil, seeds, water, seasons, and Mapalus. Raising fish means learning about water, food, the environment, and responsibility. Documenting stories means protecting language, memory, and narrative sovereignty.

Bukan Ekonomi untuk IndividuNot an Economy for Individuals Alone

KUMA Tawaang bukan usaha milik pribadi. Ia dikelola melalui kesepakatan komunitas, kerja kolektif, dan pengambilan keputusan bersama. Produksi pertanian, peternakan, perikanan, distribusi produk lokal, serta pengembangan usaha lainnya diarahkan agar saling terhubung dan memperkuat ekonomi kampung dari dalam.KUMA Tawaang is not a privately owned enterprise. It is managed through community agreements, collective work, and shared decision-making. Agriculture, livestock, fisheries, local product distribution, and other developing enterprises are intended to connect with one another and strengthen the village economy from within.

Tujuannya bukan sekadar menghasilkan lebih banyak uang. KUMA ingin agar nilai ekonomi yang lahir dari tanah dan kerja masyarakat dapat lebih lama berputar di dalam komunitas. Karena itu, gagasan tentang pengolahan hasil, distribusi lokal, kios komunitas, ekonomi sirkular, dan pembagian manfaat yang adil menjadi bagian dari arah jangka panjang KUMA Tawaang.The goal is not simply to generate more money. KUMA wants the economic value created from community land and labour to circulate within the community for longer. This is why product processing, local distribution, a community kiosk, a circular economy, and fair benefit sharing are part of KUMA Tawaang’s long-term direction.

Berdaulat, Mandiri, dan BermartabatSovereign, Self-Reliant, and Dignified

Arah KUMA Tawaang dapat dirangkum dalam tiga kata: Berdaulat, Mandiri, dan Bermartabat. Berdaulat berarti Masyarakat Adat memiliki hak dan kemampuan untuk menentukan masa depan wilayah dan kehidupannya sendiri. Mandiri berarti komunitas mampu memperkuat sumber penghidupan dari kekuatan yang dimiliki. Bermartabat berarti kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan hilangnya budaya, pengetahuan, identitas, atau hubungan dengan tanah.KUMA Tawaang’s direction can be summarised in three words: Sovereign, Self-Reliant, and Dignified. Sovereign means that Indigenous Peoples have the right and capacity to determine the future of their territory and their own lives. Self-reliant means that the community can strengthen livelihoods from the resources and capacities it already holds. Dignified means that economic progress must never be purchased at the cost of culture, knowledge, identity, or relationships with the land.

Dalam pengertian itulah nama Tawaang menemukan maknanya. Seperti tumbuhan yang hidup karena berakar pada tanah, ekonomi komunitas juga membutuhkan akar. Akar itu adalah wilayah adat, Mapalus, Sumembong, Mawale, Papendangan, pangan, pengetahuan, hubungan antargenerasi, dan keputusan komunitas sendiri.It is in this sense that the name Tawaang finds its meaning. Just as a plant lives because it is rooted in the soil, a community economy also needs roots. Those roots are customary territory, Mapalus, Sumembong, Mawale, Papendangan, food, knowledge, intergenerational relationships, and the community’s own decisions.

KUMA Tawaang masih terus bertumbuh. Ia bukan model yang telah selesai. Ia adalah proses belajar, bekerja, memperbaiki, dan membangun kembali dari dalam kampung. Tetapi arahnya tetap jelas: menjaga wilayah dan pengetahuan tetap hidup, memperkuat kedaulatan ekonomi, serta memastikan bahwa kehidupan yang bahagia dan sejahtera dapat terus dibangun dari kampung sendiri.KUMA Tawaang continues to grow. It is not a finished model. It is an ongoing process of learning, working, improving, and rebuilding from within the village. But its direction remains clear: to keep territory and knowledge alive, strengthen economic sovereignty, and ensure that a happy and prosperous life can continue to be built from the village itself.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.Let us work from the village, for the future.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi yang menghormati hak Masyarakat Adat, keputusan komunitas, pengetahuan, wilayah adat, dan pembagian peran yang adil.Contact KUMA Tawaang for collaboration that respects Indigenous rights, community decisions, knowledge, customary territory, and fair roles.

Buka halaman kontakOpen contact page