Tawaang: Nama yang Menjaga Tanah

Tawaang

Sebuah nama kadang menyimpan arah sebuah gerakan.

Ketika Kelompok Usaha Masyarakat Adat di Wuwuk memilih nama Tawaang, pilihan itu tidak hanya lahir dari keindahan bunyi. Tawaang adalah tanaman yang memiliki makna penting bagi orang Minahasa. Ia hadir dalam ritual adat, dikenal sebagai tanaman obat, dan sering ditanam sebagai penanda batas tanah.

Dalam kehidupan Masyarakat Adat, tanaman tidak hanya dilihat sebagai benda biologis. Ia dapat menjadi penanda hubungan manusia dengan tanah, leluhur, tubuh, penyembuhan, dan ruang hidup. Tawaang adalah salah satu tanaman yang membawa makna seperti itu. Ia menghubungkan manusia dengan wilayahnya.

Karena itu, ketika KUMA memilih nama Tawaang, mereka sedang menegaskan arah gerakannya: ekonomi harus tetap berakar pada tanah dan budaya.

KUMA Tawaang bukan organisasi ekonomi biasa. Ia lahir dari kehidupan kampung, dari pemuda adat, dari perempuan adat, dari tetua, dari petani, dari kebun, dari sawah, dan dari pengalaman panjang masyarakat yang hidup bersama tanah. Ia dibangun bukan hanya untuk mencari keuntungan, tetapi untuk menjaga hubungan komunitas dengan sumber kehidupannya.

Dalam KUMA, ekonomi tidak dipisahkan dari adat. Usaha tidak dipisahkan dari tanah. Produksi tidak dipisahkan dari budaya. Semua terhubung dalam satu cara pandang: Masyarakat Adat hanya dapat kuat jika tanah, pangan, pengetahuan, dan hubungan sosialnya tetap hidup.

Slogan KUMA Tawaang adalah “Berdaulat, Mandiri, dan Bermartabat.” Tiga kata ini bukan sekadar hiasan. Berdaulat berarti masyarakat memiliki hak dan kemampuan untuk menjaga tanah dan wilayah adatnya. Mandiri berarti masyarakat mampu mengelola ekonomi komunitasnya sendiri. Bermartabat berarti pembangunan ekonomi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan budaya, identitas, dan nilai-nilainya.

Dalam struktur KUMA, pemuda adat menjadi penggerak utama. Mereka menjalankan kegiatan, mengurus administrasi, membangun program, dan menggerakkan usaha komunitas. Namun posisi ketua dipegang oleh tetua komunitas. Keputusan ini penting. KUMA ingin tetap terhubung dengan nilai kepemimpinan Minahasa dan pengetahuan adat.

Logo KUMA Tawaang


Dengan melibatkan tetua, KUMA tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga bergerak dengan ingatan. Para tetua mengingatkan bahwa alam tidak boleh diperlakukan hanya sebagai sumber uang. Tanah memiliki aturan. Hutan memiliki makna. Air memiliki kehidupan. Kebun memiliki sejarah.

Di sisi lain, pemuda adat membawa energi baru. Mereka terbuka pada teknologi, media sosial, pencatatan, dokumentasi, dan jaringan luar. Mereka dapat menggunakan internet sambil tetap bekerja di kebun. Mereka dapat membuat film sekaligus menanam cabai. Mereka dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan tanah.

Pertemuan antara tetua dan pemuda inilah yang membuat KUMA menarik. Ia bukan gerakan nostalgia, tetapi juga bukan modernitas yang tercerabut. Ia mencoba berjalan di antara keduanya: menjaga yang lama, belajar dari yang baru, dan membangun bentuk ekonomi yang sesuai dengan kehidupan Masyarakat Adat hari ini.

Perempuan adat juga memiliki posisi penting. Di kampung, perempuan tidak hanya mengurus rumah. Mereka menanam, memanen, menjual hasil kebun, mengelola pangan keluarga, dan menyimpan pengetahuan tentang tanaman obat, benih, makanan tradisional, serta pengolahan hasil kebun. Dalam banyak hal, perempuan adalah penjaga ekonomi harian keluarga.

Karena itu, ketika KUMA berbicara tentang ekonomi komunitas, perempuan adat tidak boleh hanya menjadi pelengkap. Mereka adalah pusat pengetahuan dan kerja pangan. Tanpa perempuan, ekonomi kampung tidak akan lengkap.

Tawaang sebagai nama kemudian menjadi semacam pengingat. Bahwa setiap usaha yang dibangun KUMA harus tetap memiliki akar. Tidak boleh hanya mengejar pasar lalu melupakan tanah. Tidak boleh hanya mengejar uang lalu merusak hubungan sosial. Tidak boleh hanya berbicara tentang produksi lalu mengabaikan budaya.

KUMA sedang membangun pertanian, peternakan, perikanan, pasar komunitas, dan dokumentasi budaya. Namun di balik semua itu, ada tujuan yang lebih dalam: menjaga kampung tetap hidup.

Kampung hidup bukan hanya karena ada rumah-rumah berdiri. Kampung hidup ketika tanah masih ditanami, air masih dijaga, pangan masih dihasilkan, anak muda masih pulang, perempuan masih mewariskan pengetahuan, dan tetua masih didengarkan. Kampung hidup ketika orang masih bekerja bersama dan makan bersama.

Dalam pengertian itu, Tawaang bukan sekadar nama organisasi. Ia adalah simbol bahwa ekonomi komunitas harus tumbuh seperti tanaman: berakar, memberi hidup, melindungi, dan terhubung dengan tanah tempat ia tumbuh.

KUMA Tawaang masih berjalan perlahan. Ada banyak pekerjaan yang belum selesai. Ada tantangan modal, pasar, komitmen anggota, risiko usaha, dan tata kelola. Namun nama Tawaang memberi arah bahwa gerakan ini tidak boleh kehilangan jiwanya.

Sebab jika ekonomi tumbuh tanpa akar, ia mudah tercabut. Tetapi jika ekonomi tumbuh dari tanah, budaya, dan kerja bersama, ia dapat menjadi jalan panjang untuk menjaga masa depan Masyarakat Adat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi, pertukaran pengetahuan, kunjungan komunitas, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.

Hubungi melalui email