Dari Kebun ke Pasar Komunitas

 



Bagi KUMA Tawaang, masa depan ekonomi kampung tidak boleh berhenti di kebun.

Selama ini, banyak masyarakat kampung telah bekerja keras sebagai produsen. Mereka menanam padi, cabai, jagung, kelapa, cengkih, memelihara babi, ikan, dan mengolah hasil alam lain. Namun setelah panen, kendali sering berpindah ke luar komunitas. Harga ditentukan pasar. Distribusi dikuasai pedagang. Petani hanya menunggu angka yang sering berubah tanpa bisa banyak menentukan.

Dalam situasi seperti ini, petani tidak selalu kalah karena tidak mampu memproduksi. Mereka sering kalah karena tidak menguasai jalur setelah produksi.

Itulah sebabnya KUMA mulai memikirkan pasar komunitas.

Pasar komunitas yang dibayangkan KUMA bukan sekadar tempat menjual barang. Ia adalah sistem agar hasil kerja masyarakat dapat berputar lebih lama di dalam kampung. Cabai, jagung, padi, ikan, babi, kelapa, cengkih, kerajinan, dan produk olahan tidak langsung keluar, tetapi terlebih dahulu memenuhi kebutuhan komunitas sendiri.

Dengan cara ini, uang tidak cepat keluar dari kampung. Warga membeli dari warga. Produk lokal digunakan oleh keluarga lokal. Hasil kerja masyarakat kembali menopang masyarakat sendiri. Inilah yang disebut KUMA sebagai memperkuat perputaran ekonomi kampung.

Gagasan ini penting karena ekonomi kampung selama ini sering bocor keluar. Masyarakat menjual bahan mentah dengan harga rendah, lalu membeli kembali produk jadi dengan harga lebih tinggi. Mereka menghasilkan pangan, tetapi tetap bergantung pada pasar luar. Mereka memiliki tanah, tetapi tidak selalu memiliki kendali atas nilai tambah dari tanah itu.

KUMA ingin belajar mengubah keadaan itu.

Salah satu arahnya adalah mengolah produk. Hasil alam tidak harus selalu dijual mentah. Cap Tikus, misalnya, pernah diolah menjadi hand sanitizer pada masa pandemi COVID-19. Pengalaman itu menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah ketika dikelola secara aman, bertanggung jawab, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Hal yang sama dapat dipikirkan untuk produk lain. Cabai dapat diolah menjadi sambal atau produk bumbu. Jagung dapat diolah menjadi pakan ternak atau makanan lokal. Beras dapat dikemas. Kerajinan dapat dipasarkan sebagai produk budaya. Ikan dan babi dapat dikelola untuk kebutuhan hari-hari besar seperti Pengucapan Syukur, Natal, dan Tahun Baru.

Namun KUMA menyadari bahwa semua itu tidak bisa dilakukan sekaligus. Membangun pasar komunitas membutuhkan pencatatan, kepercayaan, kualitas produk, pembagian kerja, modal, tempat penyimpanan, jaringan pembeli, dan aturan bersama. Ia bukan hanya soal menjual, tetapi membangun sistem.

Di sinilah KUMA menjadi ruang belajar. Anggota tidak hanya belajar menanam atau memelihara ternak. Mereka juga belajar menghitung biaya produksi, memperkirakan panen, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menentukan harga yang adil, dan memikirkan bagaimana produk sampai kepada pembeli.

Jika dilakukan secara konsisten, KUMA dapat menjadi pusat pengetahuan ekonomi kampung. Ia dapat mencatat kapan cabai dipanen, berapa jumlah ikan yang tersedia, siapa yang memiliki babi siap jual, berapa petak sawah yang dikelola, kapan cengkih dipanen, dan produk apa yang dapat dipasarkan pada waktu tertentu.

Data seperti ini penting. Selama ini, banyak kekuatan ekonomi kampung tidak terlihat karena tidak dicatat. Ketika tidak dicatat, ia mudah dianggap kecil. Padahal jika dihitung bersama, nilainya sangat besar.

Pasar komunitas juga berkaitan dengan kedaulatan pangan. Jika kampung mampu memproduksi dan mendistribusikan pangannya sendiri, ketergantungan pada pasar luar dapat dikurangi. Ketika harga cabai naik, masyarakat yang menanam cabai sendiri memiliki posisi lebih kuat. Ketika kebutuhan ikan meningkat menjelang Pengucapan Syukur, kolam komunitas dapat membantu memenuhi kebutuhan itu. Ketika padi dipanen, beras dapat terlebih dahulu memperkuat pangan keluarga.

Kedaulatan pangan bukan hanya soal memiliki makanan. Ia juga soal siapa yang mengatur produksi, distribusi, dan akses terhadap makanan itu.

Bagi KUMA, pasar komunitas juga tidak terpisah dari wilayah adat. Tanah, air, kebun, hutan, dan sumber pangan adalah dasar ekonomi Masyarakat Adat. Jika wilayah adat rusak atau hilang, ekonomi komunitas juga akan melemah. Karena itu, mengelola pasar komunitas berarti juga menjaga tanah sebagai sumber produksi.

KUMA membayangkan masa depan ketika kampung tidak hanya dikenal sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga sebagai pusat ekonomi komunitas yang memiliki produk, sistem distribusi, ruang belajar, dan tata kelola sendiri. Sebuah rumah produksi kecil. Sebuah kios komunitas. Sebuah jaringan pembeli lokal. Sebuah sistem pencatatan hasil panen. Sebuah ruang tempat anak muda belajar bahwa ekonomi bisa tumbuh tanpa meninggalkan tanah.

Perjalanan menuju ke sana masih panjang. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi: modal terbatas, harga pasar tidak stabil, pencurian, gagal panen, komitmen anggota, dan kemampuan organisasi yang harus terus diperkuat. Namun KUMA tidak menunggu semuanya sempurna untuk mulai bergerak.

Mereka mulai dari yang ada. Dari kebun kecil. Dari kolam ikan. Dari kandang babi. Dari cabai. Dari jagung. Dari padi. Dari percakapan warga. Dari mapalus.

Sebab bagi KUMA Tawaang, masa depan kampung tidak akan datang dari luar begitu saja. Ia harus ditanam, dirawat, dipanen, diolah, dan dibagi bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi, pertukaran pengetahuan, kunjungan komunitas, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.

Hubungi melalui email