“Orang tua saya adalah petani. Saya juga petani. Saya bangga dengan itu.” “My parents are farmers. I am a farmer too. I am proud of that.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Farino Regar mengucapkannya sambil mengayunkan parang di kebun. Rumput ditebas, tanah dibuka, dan sebuah lahan perlahan disiapkan untuk ditanami. Tidak ada panggung besar, tidak ada kamera televisi, tidak ada spanduk politik. Yang ada hanya tubuh-tubuh yang bekerja, tanah yang dibersihkan, dan ingatan masa kecil yang kembali hidup. The sentence sounds simple. Farino Regar said it while swinging a machete in the garden. Grass was cut, the land was opened, and a plot was slowly prepared for planting. There was no large stage, no television camera, and no political banner. There were only bodies at work, land being cleared, and childhood memories coming back to life.
Bagi Farino dan banyak pemuda adat di Wuwuk, bekerja di kebun bukan sesuatu yang asing. Mereka tumbuh dari keluarga petani. Sejak kecil, mereka telah mengenal bau tanah basah, suara parang, hujan yang menentukan musim tanam, dan panen yang ditunggu bersama. Menyiangi kebun, menanam, memanen, membawa hasil bumi, dan hidup dekat dengan tanah adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. For Farino and many Indigenous Youth in Wuwuk, working in gardens is nothing unfamiliar. They grew up in farming families. Since childhood, they have known the smell of wet soil, the sound of machetes, the rain that shapes planting seasons, and harvests awaited together. Weeding gardens, planting, harvesting, carrying produce, and living close to the land are part of everyday life.
Namun di tengah perubahan zaman, hubungan semacam itu perlahan menjadi rapuh. Banyak anak muda meninggalkan kampung. Sebagian bekerja di kota, di kapal, di wilayah pertambangan, atau merantau ke daerah lain. Sebagian hanya pulang saat Natal, Pengucapan Syukur, pernikahan, atau kedukaan keluarga. Kebun-kebun yang dulu hidup mulai ditinggalkan. Beberapa lahan dibiarkan kosong bertahun-tahun karena pemiliknya tidak lagi berada di kampung. Yet amid changing times, these relationships are gradually becoming fragile. Many young people leave the village. Some work in cities, on ships, in mining areas, or migrate elsewhere. Some return only for Christmas, Pengucapan Syukur, weddings, or family funerals. Gardens that were once active begin to be abandoned. Some plots remain unused for years because their owners no longer live in the village.
Pertanyaan pun muncul: jika semua anak muda pergi, siapa yang akan menjaga tanah? A question then arises: if all the young people leave, who will care for the land?
Pertanyaan itu bukan sekadar kegelisahan romantis tentang kampung. Bagi Masyarakat Adat, tanah adalah ruang hidup. Di sana ada pangan, pengetahuan, ingatan, leluhur, dan identitas. Tanah bukan hanya tempat produksi, tetapi tempat manusia belajar tentang musim, kesabaran, kerja bersama, dan cara hidup sebagai bagian dari alam. This is not merely a romantic concern about village life. For Indigenous Peoples, land is a living space. It holds food, knowledge, memory, ancestors, and identity. Land is not only a place of production, but a place where people learn about seasons, patience, collective work, and how to live as part of nature.
Dari kegelisahan itulah KUMA Tawaang tumbuh. Ia lahir sebagai gerakan kecil untuk kembali melihat kampung sebagai masa depan. Bukan sebagai tempat tertinggal, bukan sebagai ruang yang harus ditinggalkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang dapat dikelola kembali secara kolektif. From that concern, KUMA Tawaang began to grow. It emerged as a small movement to see the village once again as a place of the future—not as somewhere left behind, not as a place that must be abandoned, but as a source of life that can be managed collectively again.
KUMA Tawaang tidak dimulai dari kantor atau ruang seminar. Ia dimulai dari percakapan malam di rumah seorang teman, dari rencana membuka kebun, dari makan bersama, dari kerja kolektif di atas tanah. Pada 8 September 2020, sekelompok pemuda adat berkumpul dan membicarakan rencana membentuk Kelompok Usaha Masyarakat Adat. Keesokan harinya, mereka membuka lahan, memasak makanan Minahasa, dan makan bersama di kebun. Dari suasana sederhana itulah KUMA Tawaang lahir. KUMA Tawaang did not begin in an office or seminar room. It began with an evening conversation at a friend’s house, with plans to open a garden, with shared meals, and with collective work on the land. On 8 September 2020, a group of Indigenous Youth gathered to discuss forming a Kelompok Usaha Masyarakat Adat. The next day, they opened land, cooked Minahasa food, and ate together in the garden. KUMA Tawaang was born from that simple setting.
Nama Tawaang dipilih bukan tanpa alasan. Tawaang adalah tanaman yang memiliki nilai budaya dan spiritual bagi orang Minahasa. Ia digunakan dalam ritual, dikenal sebagai tanaman obat, dan sering ditanam sebagai penanda batas tanah. Bagi KUMA, Tawaang menjadi simbol perlindungan, kehidupan, dan keterhubungan manusia dengan tanah. The name Tawaang was chosen for a reason. Tawaang is a plant with cultural and spiritual significance for Minahasa people. It is used in rituals, known as a medicinal plant, and often planted as a marker of land boundaries. For KUMA, Tawaang symbolises protection, life, and the relationship between people and the land.
Gerakan ini juga bertaut dengan kesadaran Mawale, yaitu kesadaran untuk kembali ke kampung dan membangun rumah di tanah sendiri. Mawale bukan berarti menolak modernitas. Para pemuda adat KUMA tetap menggunakan internet, media sosial, teknologi, dan pengetahuan dari luar. Namun mereka menolak jika modernitas harus memutus hubungan manusia dengan tanah, komunitas, dan alam. The movement is also connected to the awareness embodied in Mawale: returning to the village and building a home on one’s own land. Mawale does not mean rejecting modernity. KUMA’s Indigenous Youth continue to use the internet, social media, technology, and knowledge from outside. What they reject is the idea that modernity must sever people’s relationships with land, community, and nature.
Bagi mereka, pulang kampung bukan langkah mundur. Pulang kampung adalah pilihan budaya dan politik. Ia adalah cara untuk menyatakan bahwa kehidupan yang bermartabat masih mungkin dibangun dari kampung sendiri. For them, returning to the village is not a step backward. It is a cultural and political choice. It is a way of declaring that a dignified life can still be built from one’s own village.
KUMA Tawaang kemudian menjadi ruang belajar bersama. Di dalamnya, pemuda adat belajar membuka kebun, menanam cabai dan jagung, memelihara ikan, beternak babi, mencatat keuangan, membangun kepercayaan, dan memikirkan pasar komunitas. Mereka tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga belajar menjadi pengelola masa depan kampung. KUMA Tawaang then became a shared learning space. Within it, Indigenous Youth learn to open gardens, plant chilli and maize, raise fish, keep pigs, maintain financial records, build trust, and think about community markets. They are not only workers; they are learning to become stewards of the village’s future.
Perjalanan itu tentu tidak mudah. KUMA pernah aktif, lalu sempat melemah. Sebagian anggota sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada usaha yang berjalan lambat. Ada kerugian. Ikan yang dipelihara di kolam pernah dicuri. Namun semangatnya tidak benar-benar hilang. Pada 2025, KUMA mulai dihidupkan kembali. The journey has not been easy. KUMA was once active and later weakened for a time. Some members became busy with their own work. Some enterprises progressed slowly. There were losses. Fish raised in the pond were once stolen. But the spirit never completely disappeared. In 2025, KUMA began to be revitalised.
Langkahnya mungkin kecil: membuka kebun perlahan, memelihara ikan perlahan, menanam cabai perlahan, membangun kembali kerja kolektif sedikit demi sedikit. Tetapi bagi KUMA, yang penting bukan hanya besar kecilnya hasil hari ini. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kampung masih memiliki orang-orang yang mau menjaga tanahnya. The steps may be small: slowly opening gardens, slowly raising fish, slowly planting chilli, and gradually rebuilding collective work. But for KUMA, what matters is not only the size of today’s results. More important is ensuring that the village still has people willing to care for its land.
Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dari kota, jabatan, dan uang, KUMA Tawaang menawarkan cara pandang lain. Kekayaan tidak selalu berarti gedung tinggi atau rekening besar. Di kampung, menjadi kaya juga berarti memiliki tanah yang masih bisa ditanami, air yang masih mengalir, makanan yang masih bisa dipanen, dan komunitas yang masih saling menjaga. In a world that often measures success through cities, positions, and money, KUMA Tawaang offers another way of seeing wealth. Wealth does not always mean tall buildings or large bank accounts. In the village, being wealthy can also mean having land that can still be planted, water that still flows, food that can still be harvested, and a community whose members continue to care for one another.
Sebab selama tanah masih dijaga, selama mapalus masih hidup, dan selama anak muda masih bersedia pulang, kampung tidak pernah benar-benar kehilangan masa depannya. As long as the land is still cared for, as long as mapalus remains alive, and as long as young people are still willing to return, the village never truly loses its future.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar