“Orang tua saya adalah petani. Saya juga petani. Saya bangga dengan itu.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Farino Regar mengucapkannya sambil mengayunkan parang di kebun. Rumput ditebas, tanah dibuka, dan sebuah lahan perlahan disiapkan untuk ditanami. Tidak ada panggung besar, tidak ada kamera televisi, tidak ada spanduk politik. Yang ada hanya tubuh-tubuh yang bekerja, tanah yang dibersihkan, dan ingatan masa kecil yang kembali hidup.
Bagi Farino dan banyak pemuda adat di Wuwuk, bekerja di kebun bukan sesuatu yang asing. Mereka tumbuh dari keluarga petani. Sejak kecil, mereka telah mengenal bau tanah basah, suara parang, hujan yang menentukan musim tanam, dan panen yang ditunggu bersama. Menyiangi kebun, menanam, memanen, membawa hasil bumi, dan hidup dekat dengan tanah adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun di tengah perubahan zaman, hubungan semacam itu perlahan menjadi rapuh. Banyak anak muda meninggalkan kampung. Sebagian bekerja di kota, di kapal, di wilayah pertambangan, atau merantau ke daerah lain. Sebagian hanya pulang saat Natal, Pengucapan Syukur, pernikahan, atau kedukaan keluarga. Kebun-kebun yang dulu hidup mulai ditinggalkan. Beberapa lahan dibiarkan kosong bertahun-tahun karena pemiliknya tidak lagi berada di kampung.
Pertanyaan pun muncul: jika semua anak muda pergi, siapa yang akan menjaga tanah?
Pertanyaan itu bukan sekadar kegelisahan romantis tentang kampung. Bagi Masyarakat Adat, tanah adalah ruang hidup. Di sana ada pangan, pengetahuan, ingatan, leluhur, dan identitas. Tanah bukan hanya tempat produksi, tetapi tempat manusia belajar tentang musim, kesabaran, kerja bersama, dan cara hidup sebagai bagian dari alam.
Dari kegelisahan itulah KUMA Tawaang tumbuh. Ia lahir sebagai gerakan kecil untuk kembali melihat kampung sebagai masa depan. Bukan sebagai tempat tertinggal, bukan sebagai ruang yang harus ditinggalkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang dapat dikelola kembali secara kolektif.
KUMA Tawaang tidak dimulai dari kantor atau ruang seminar. Ia dimulai dari percakapan malam di rumah seorang teman, dari rencana membuka kebun, dari makan bersama, dari kerja kolektif di atas tanah. Pada 8 September 2020, sekelompok pemuda adat berkumpul dan membicarakan rencana membentuk Kelompok Usaha Masyarakat Adat. Keesokan harinya, mereka membuka lahan, memasak makanan Minahasa, dan makan bersama di kebun. Dari suasana sederhana itulah KUMA Tawaang lahir.
Nama Tawaang dipilih bukan tanpa alasan. Tawaang adalah tanaman yang memiliki nilai budaya dan spiritual bagi orang Minahasa. Ia digunakan dalam ritual, dikenal sebagai tanaman obat, dan sering ditanam sebagai penanda batas tanah. Bagi KUMA, Tawaang menjadi simbol perlindungan, kehidupan, dan keterhubungan manusia dengan tanah.
Gerakan ini juga bertaut dengan kesadaran Mawale, yaitu kesadaran untuk kembali ke kampung dan membangun rumah di tanah sendiri. Mawale bukan berarti menolak modernitas. Para pemuda adat KUMA tetap menggunakan internet, media sosial, teknologi, dan pengetahuan dari luar. Namun mereka menolak jika modernitas harus memutus hubungan manusia dengan tanah, komunitas, dan alam.
Bagi mereka, pulang kampung bukan langkah mundur. Pulang kampung adalah pilihan budaya dan politik. Ia adalah cara untuk menyatakan bahwa kehidupan yang bermartabat masih mungkin dibangun dari kampung sendiri.
KUMA Tawaang kemudian menjadi ruang belajar bersama. Di dalamnya, pemuda adat belajar membuka kebun, menanam cabai dan jagung, memelihara ikan, beternak babi, mencatat keuangan, membangun kepercayaan, dan memikirkan pasar komunitas. Mereka tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga belajar menjadi pengelola masa depan kampung.
Perjalanan itu tentu tidak mudah. KUMA pernah aktif, lalu sempat melemah. Sebagian anggota sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada usaha yang berjalan lambat. Ada kerugian. Ikan yang dipelihara di kolam pernah dicuri. Namun semangatnya tidak benar-benar hilang. Pada 2025, KUMA mulai dihidupkan kembali.
Langkahnya mungkin kecil: membuka kebun perlahan, memelihara ikan perlahan, menanam cabai perlahan, membangun kembali kerja kolektif sedikit demi sedikit. Tetapi bagi KUMA, yang penting bukan hanya besar kecilnya hasil hari ini. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kampung masih memiliki orang-orang yang mau menjaga tanahnya.
Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dari kota, jabatan, dan uang, KUMA Tawaang menawarkan cara pandang lain. Kekayaan tidak selalu berarti gedung tinggi atau rekening besar. Di kampung, menjadi kaya juga berarti memiliki tanah yang masih bisa ditanami, air yang masih mengalir, makanan yang masih bisa dipanen, dan komunitas yang masih saling menjaga.
Sebab selama tanah masih dijaga, selama mapalus masih hidup, dan selama anak muda masih bersedia pulang, kampung tidak pernah benar-benar kehilangan masa depannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar