Di banyak kampung, kepergian anak muda sering terjadi secara perlahan. Tidak selalu tampak seperti peristiwa besar. Satu orang pergi bekerja ke kota. Yang lain naik kapal. Sebagian bekerja di wilayah pertambangan. Sebagian merantau ke daerah lain. Mereka pulang hanya pada hari-hari tertentu: Natal, Pengucapan Syukur, pesta keluarga, kedukaan, atau ketika ada urusan penting di kampung. In many villages, young people leave gradually. It does not always look like a major event. One person goes to work in the city. Another boards a ship. Some work in mining areas. Others migrate to different regions. They return only on certain occasions: Christmas, Pengucapan Syukur, family celebrations, funerals, or when something important requires them to come home.
Lama-kelamaan, kebun menjadi sunyi. Sawah tidak selalu dikelola. Lahan dibiarkan kosong. Orang-orang tua tetap bekerja, tetapi tenaga muda semakin berkurang. Kampung masih berdiri, tetapi sebagian energinya mulai pergi. Over time, the gardens grow quiet. Rice fields are not always worked. Land is left unused. Elders continue working, but fewer young hands remain. The village is still there, but part of its energy begins to leave.
Pertanyaan itu kemudian muncul di antara Pemuda Adat Wuwuk: jika semua anak muda pergi, siapa yang akan menjaga tanah? A question then emerged among Wuwuk Indigenous Youth: if all the young people leave, who will care for the land?
Pertanyaan ini bukan hanya tentang siapa yang akan membuka kebun atau memanen hasil bumi. Lebih jauh dari itu, pertanyaan ini menyentuh masa depan Masyarakat Adat. Siapa yang akan menjaga mata air? Siapa yang akan mengingat batas tanah? Siapa yang akan meneruskan pengetahuan tentang musim, benih, tanaman obat, hutan, dan cara hidup bersama? Siapa yang akan memastikan bahwa kampung tidak hanya menjadi tempat pulang sesekali, tetapi tetap menjadi ruang hidup yang kuat? This question is not only about who will open gardens or harvest crops. It reaches further, into the future of Indigenous Peoples. Who will protect the springs? Who will remember land boundaries? Who will carry forward knowledge of seasons, seeds, medicinal plants, forests, and ways of living together? Who will make sure the village does not become merely a place to visit occasionally, but remains a strong living space?
Pemuda Adat adalah tonggak harapan Masyarakat Adat. Mereka bukan hanya anak muda kampung. Mereka adalah generasi penerus yang bertugas menjaga wilayah adat, melanjutkan pengetahuan leluhur, memperkuat budaya, dan mengurus masa depan komunitas. Di tangan merekalah sebagian besar pertanyaan tentang masa depan kampung akan dijawab: apakah tanah masih akan dikelola, apakah bahasa masih akan digunakan, apakah pengetahuan leluhur masih akan diteruskan, dan apakah kampung masih akan menjadi ruang hidup yang bermartabat. Indigenous Youth are a pillar of hope for Indigenous Peoples. They are not simply young people from the village. They are the next generation entrusted with caring for customary territory, carrying ancestral knowledge forward, strengthening culture, and looking after the future of the community. Many of the questions about the village’s future will be answered through their actions: whether the land will still be managed, whether the language will still be spoken, whether ancestral knowledge will continue to be passed on, and whether the village will remain a dignified place to live.
Dalam gerakan Masyarakat Adat, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) menjadi salah satu ruang penting bagi pengorganisasian Pemuda Adat. Di Wuwuk, KUMA Tawaang berkolaborasi dengan BPAN Pengurus Kampung Wuwuk sebagai bagian dari gerakan Pemuda Adat yang terorganisir. Namun Pemuda Adat di Wuwuk tidak hanya dipahami sebatas anggota BPAN. Ada banyak anak muda dan orang muda adat yang tidak menjadi anggota BPAN, atau sudah tidak masuk dalam batas usia keanggotaan BPAN, tetapi tetap memiliki hubungan, tanggung jawab, dan peran sebagai Pemuda Adat di kampung. Within the Indigenous Peoples’ movement, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) is an important space for organising Indigenous Youth. In Wuwuk, KUMA Tawaang collaborates with BPAN Pengurus Kampung Wuwuk as part of an organised Indigenous Youth movement. But Indigenous Youth in Wuwuk are not understood only as BPAN members. Many young people are not members of BPAN, or are already beyond BPAN’s membership age range, yet they continue to have relationships, responsibilities, and roles as Indigenous Youth in the village.
Karena itu, Kelompok Pemuda Adat dalam KUMA Tawaang bersifat terbuka dan berakar pada kehidupan kampung. Di dalamnya ada Pemuda Adat yang aktif dalam BPAN, ada yang tidak tergabung dalam BPAN, dan ada juga yang secara usia mungkin sudah tidak memenuhi syarat organisasi kepemudaan, tetapi masih bekerja, berpikir, dan bergerak untuk tanah, budaya, pangan, dan masa depan komunitas. Bagi KUMA, yang terpenting bukan hanya status keanggotaan organisasi, tetapi komitmen untuk mengurus kampung dan menjaga wilayah adat. For that reason, KUMA Tawaang’s Indigenous Youth Group is open and rooted in village life. It includes Indigenous Youth active in BPAN, others who are not part of BPAN, and people who may no longer fit the age criteria of a youth organisation but still work, think, and act for the land, culture, food, and future of the community. For KUMA, what matters is not only organisational membership, but commitment to caring for the village and customary territory.
Dengan cara ini, KUMA menempatkan BPAN sebagai mitra penting dalam gerakan Pemuda Adat, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi semua Pemuda Adat Wuwuk yang ingin terlibat. Gerakan ini tidak berhenti pada struktur organisasi, tetapi hidup dalam kerja nyata: membuka kebun, menanam pangan lokal, mendokumentasikan budaya, belajar dari tetua, mendukung Perempuan Adat, menghidupkan mapalus, dan membangun ekonomi komunitas dari tanah sendiri. In this way, KUMA recognises BPAN as an important partner in the Indigenous Youth movement while opening a wider space for all Wuwuk Indigenous Youth who want to take part. The movement does not stop at organisational structures. It lives through practical work: opening gardens, planting local food, documenting culture, learning from elders, supporting Indigenous Women, revitalising mapalus, and building a community economy from their own land.
Dari kegelisahan tentang masa depan kampung itulah Pemuda Adat mulai melihat kembali tanah mereka. Bagi mereka, kampung bukan ruang yang harus ditinggalkan untuk menjadi berhasil. Kampung adalah rumah, tanah, sejarah, dan masa depan. Di sana ada keluarga, kebun, air, makanan, bahasa, cerita, dan ingatan leluhur. Di sana pula ekonomi komunitas dapat dibangun dari apa yang sudah dimiliki sendiri. From this concern about the future of the village, Indigenous Youth began to look again at their own land. For them, the village is not a place that must be abandoned in order to succeed. The village is home, land, history, and future. It holds family, gardens, water, food, language, stories, and ancestral memory. It is also where a community economy can be built from what the community already has.
KUMA Tawaang lahir dari kesadaran itu. KUMA Tawaang was born from that awareness.
KUMA bukan muncul dari ruang rapat resmi atau program besar dari luar. Ia tumbuh dari percakapan sederhana, dari tubuh-tubuh muda yang sudah lama terbiasa bekerja di kebun, dari anak-anak petani yang tidak malu menyebut dirinya petani. Mereka adalah Pemuda Adat yang hidup di antara dua dunia: dunia modern yang penuh internet, media sosial, teknologi, dan mobilitas; serta dunia kampung yang dibentuk oleh tanah, musim, hujan, panen, dan kerja bersama. KUMA did not emerge from a formal meeting room or a large outside programme. It grew from simple conversations, from young bodies long accustomed to working in gardens, from farmers’ children who are not ashamed to call themselves farmers. They are Indigenous Youth living between two worlds: a modern world of the internet, social media, technology, and mobility; and a village world shaped by land, seasons, rain, harvests, and collective work.
Mereka tidak menolak modernitas. Mereka memakai telepon pintar, bermain gim, mengakses internet, belajar dari media sosial, membuat film, mendokumentasikan budaya, dan mengikuti berbagai perkembangan dari luar. Namun mereka juga menolak jika modernitas harus berarti putus dari tanah sendiri. Bagi mereka, menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan kampung. Menjadi maju tidak harus berarti menjadi asing di tanah leluhur. They do not reject modernity. They use smartphones, play games, access the internet, learn through social media, make films, document culture, and follow developments beyond the village. But they reject the idea that modernity must mean becoming disconnected from their own land. For them, being modern does not have to mean leaving the village. Progress does not have to mean becoming a stranger on ancestral land.
Kesadaran seperti ini hidup dalam semangat Mawale: kembali ke kampung dan membangun rumah di tanah sendiri. Mawale bukan slogan romantis tentang kampung. Ia adalah pilihan hidup. Ia adalah kesadaran bahwa manusia tidak boleh kehilangan akar. Bagi Pemuda Adat Wuwuk, pulang kampung bukan langkah mundur. Pulang kampung adalah cara untuk membawa kembali pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan energi muda untuk memperkuat komunitas. This awareness lives in the spirit of Mawale: returning to the village and building a home on one’s own land. Mawale is not a romantic slogan about village life. It is a life choice. It is the understanding that people must not lose their roots. For Wuwuk Indigenous Youth, returning home is not a step backward. It is a way to bring knowledge, experience, networks, and youthful energy back to strengthen the community.
Pulang kampung juga bukan sekadar kembali tinggal di kampung. Pulang kampung berarti ikut mengurus tanah, air, kebun, sawah, hutan, keluarga, pangan, budaya, dan sumber daya yang ada di wilayah adat. Pulang kampung berarti ikut memperjuangkan hak-hak Masyarakat Adat dan meningkatkan taraf hidup komunitas dari dalam. Ini penting agar kampung tidak kehilangan generasi penerusnya, dan agar anak muda tidak hanya menjadi tamu di tanah kelahirannya sendiri. Returning home also means more than simply living in the village again. It means taking part in caring for land, water, gardens, rice fields, forests, families, food, culture, and the resources within customary territory. It means taking part in defending Indigenous Peoples’ rights and improving community well-being from within. This matters so that the village does not lose its next generation and young people do not become mere guests in the land where they were born.
Di dalam KUMA, Pemuda Adat menjadi penggerak utama. Mereka membuka kebun, membersihkan lahan, menanam cabai dan jagung, membantu mengelola sawah, memelihara ikan, beternak babi, mendukung kerja Perempuan Adat, dan mulai memikirkan bagaimana hasil produksi kampung dapat dikelola bersama. Namun peran mereka tidak berhenti pada kerja fisik. Mereka juga belajar tentang organisasi, pencatatan, pembagian tugas, administrasi, keuangan, dan tanggung jawab bersama. Within KUMA, Indigenous Youth are a major driving force. They open gardens, clear land, plant chilli and maize, help manage rice fields, raise fish, keep pigs, support the work of Indigenous Women, and begin thinking about how village production can be managed collectively. Their role, however, does not stop at physical labour. They also learn about organisation, record-keeping, division of responsibilities, administration, finance, and shared accountability.
Inilah salah satu hal penting dari KUMA. Ia tidak hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga membentuk kapasitas. Pemuda Adat tidak hanya menjadi tenaga kerja di kampungnya sendiri. Mereka belajar menjadi pengelola masa depan kampung. Mereka belajar bagaimana sebuah usaha komunitas harus dicatat, bagaimana modal digunakan, bagaimana hasil dihitung, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana kepercayaan dijaga. This is one of KUMA’s important roles. It does not only create work; it builds capacity. Indigenous Youth are not simply labourers in their own village. They learn to become stewards of the village’s future. They learn how a community enterprise should be recorded, how capital is used, how results are calculated, how decisions are made, and how trust is maintained.
Kepercayaan adalah hal yang sangat penting dalam kerja kolektif. Semangat saja tidak cukup. Jika sebuah kelompok ingin bertahan, ia membutuhkan tata kelola yang jujur, terbuka, dan adil. Karena itu, KUMA menjadi ruang belajar tentang tanggung jawab. Pemuda Adat belajar bahwa membangun ekonomi komunitas bukan hanya tentang menanam dan memanen, tetapi juga tentang mencatat, merawat hubungan, menjaga komitmen, dan memastikan semua orang merasa dihargai. Trust is essential in collective work. Enthusiasm alone is not enough. If a group is to endure, it needs governance that is honest, transparent, and fair. KUMA therefore becomes a space for learning responsibility. Indigenous Youth learn that building a community economy is not only about planting and harvesting, but also about keeping records, maintaining relationships, honouring commitments, and ensuring that everyone feels respected.
Dalam struktur KUMA, Pemuda Adat memang menjadi motor utama. Namun mereka tidak berjalan sendiri. Para tetua tetap dilibatkan sebagai penjaga nilai, ingatan, dan arah. Bagi KUMA, ini penting karena ekonomi Masyarakat Adat tidak boleh dipisahkan dari adat. Usaha tidak boleh tercerabut dari tanah. Produksi tidak boleh memutus hubungan dengan budaya. Karena itu, Pemuda Adat bergerak dengan energi baru, sementara tetua menjaga agar gerakan ini tetap berakar pada nilai-nilai Minahasa. Within KUMA’s structure, Indigenous Youth are indeed a primary engine. But they do not move alone. Elders remain involved as guardians of values, memory, and direction. This matters because, for KUMA, an Indigenous economy cannot be separated from customary life. Enterprise must not become uprooted from the land. Production must not sever its relationship with culture. Indigenous Youth bring new energy, while elders help ensure that the movement remains rooted in Minahasa values.
Pertemuan antargenerasi ini menjadi salah satu kekuatan KUMA. Anak muda membawa teknologi, jaringan, tenaga, dan keberanian untuk mencoba. Tetua membawa pengetahuan, pengalaman, aturan hidup, dan ingatan tentang bagaimana orang Minahasa menjaga tanah. Di antara keduanya, KUMA menjadi ruang belajar bersama. This intergenerational meeting is one of KUMA’s strengths. Young people bring technology, networks, energy, and the courage to experiment. Elders bring knowledge, experience, principles for living, and memory of how Minahasa people care for the land. Between them, KUMA becomes a shared learning space.
Di titik ini, Pemuda Adat juga menjadi penerus Masyarakat Adat. Mereka penting karena merekalah yang akan melanjutkan kehidupan komunitas. Mereka harus mengenal identitasnya, memahami adat dan budaya, serta belajar dari para tetua agar pengetahuan leluhur tidak putus. Pengetahuan tentang batas tanah, sejarah kampung, bahasa, ritual, musim, tanaman obat, pangan, hutan, air, dan cara hidup bersama tidak akan bertahan dengan sendirinya. Ia harus dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan kembali. At this point, Indigenous Youth are also the continuation of Indigenous Peoples themselves. They matter because they will carry community life forward. They need to know their identity, understand customary practices and culture, and learn from elders so ancestral knowledge is not broken. Knowledge of land boundaries, village history, language, rituals, seasons, medicinal plants, food, forests, water, and ways of living together will not survive on its own. It must be learned, practised, and passed on again.
Karena itu, pendidikan adat bagi Pemuda Adat menjadi sangat penting. Pendidikan adat tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Ia bisa terjadi di kebun, di sawah, di rumah tua, di sekitar mata air, di dapur, di jalan menuju hutan, di tempat ritual, dalam percakapan dengan orang tua, dan dalam kerja sehari-hari. Ketika Pemuda Adat belajar membuka lahan, mengenali musim, memilih bibit, mendengarkan cerita tetua, atau mendokumentasikan pengetahuan kampung, mereka sedang menjaga agar ingatan Masyarakat Adat tidak hilang. For this reason, Indigenous education for Indigenous Youth is crucial. Indigenous education does not always take place in classrooms. It can happen in gardens, rice fields, old houses, around springs, in kitchens, on paths to the forest, at ritual sites, in conversations with elders, and through everyday work. When Indigenous Youth learn to open land, recognise seasons, select seeds, listen to elders’ stories, or document village knowledge, they are helping ensure that Indigenous memory is not lost.
Pemuda Adat juga tidak boleh hanya menjadi penonton di wilayah adatnya sendiri. Mereka perlu berada di garis depan dalam menjaga, mengelola, dan mempertahankan wilayah adat. Di Minahasa, wilayah adat bukan sekadar tanah yang bisa diukur dengan angka. Wilayah adat adalah ruang hidup yang menyimpan air, kebun, hutan, sawah, makam leluhur, tanaman, bahasa, cerita, dan hubungan sosial. Jika Pemuda Adat tidak mengurusnya, maka wilayah adat bisa perlahan-lahan lepas dari ingatan, dari pengelolaan, bahkan dari tangan komunitas sendiri. Indigenous Youth also cannot remain spectators in their own customary territory. They need to be at the forefront of caring for, managing, and defending it. In Minahasa, customary territory is more than land that can be measured in numbers. It is a living space containing water, gardens, forests, rice fields, ancestral graves, plants, language, stories, and social relationships. If Indigenous Youth do not care for it, customary territory can slowly slip from memory, from management, and even from the hands of the community itself.
Mengurus wilayah adat berarti mengenal tanah sendiri. Mengetahui di mana mata air berada. Mengetahui lahan mana yang masih kosong. Mengetahui kebun mana yang ditinggalkan. Mengetahui tanaman apa yang tumbuh. Mengetahui apa yang bisa ditanam kembali. Mengetahui potensi ekonomi kampung. Mengetahui masalah yang sedang dihadapi. Dengan pengetahuan seperti itu, Pemuda Adat tidak hanya hidup di kampung, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kampung. Caring for customary territory means knowing one’s own land. Knowing where the springs are. Knowing which land remains unused. Knowing which gardens have been abandoned. Knowing what plants grow there. Knowing what can be planted again. Knowing the village’s economic potential. Knowing the problems it faces. With this knowledge, Indigenous Youth do not merely live in the village; they truly become part of it.
Namun jalan Pemuda Adat tidak selalu mudah. Menghidupkan ekonomi kampung membutuhkan kesabaran panjang. Ada keterbatasan modal. Ada risiko gagal panen. Ada harga pasar yang tidak stabil. Ada ternak yang membutuhkan biaya pakan. Ada ikan yang pernah dicuri dari kolam. Ada anggota yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada masa ketika kegiatan KUMA sempat melemah. But the path of Indigenous Youth is not always easy. Revitalising a village economy requires patience. Capital is limited. Harvests can fail. Market prices are unstable. Livestock require feed costs. Fish have been stolen from ponds. Members have their own work commitments. There have been periods when KUMA’s activities weakened.
Tetapi bagi Pemuda Adat, berhenti bukan pilihan. Mereka tahu bahwa yang sedang dibangun bukan hanya usaha ekonomi, tetapi keyakinan bahwa kampung masih memiliki masa depan. Karena itu, ketika KUMA mulai dihidupkan kembali, langkah-langkah kecil kembali dilakukan. Menanam cabai. Menanam jagung. Memelihara ikan mas. Beternak babi. Menguatkan kelompok Perempuan Adat. Membicarakan kembali pasar komunitas. Mencari cara agar hasil produksi tidak hanya keluar dari kampung sebagai bahan mentah, tetapi dapat memberi nilai lebih bagi masyarakat sendiri. But for Indigenous Youth, stopping is not an option. They know they are building more than economic enterprises; they are building confidence that the village still has a future. So when KUMA began to be revitalised, small steps started again: planting chilli, planting maize, raising common carp, keeping pigs, strengthening the Indigenous Women’s Group, discussing a community market again, and looking for ways to ensure that production does not leave the village only as raw materials but creates more value for the community itself.
Di sini, Pemuda Adat mulai membaca ekonomi kampung dengan cara baru. Mereka melihat bahwa kampung sebenarnya tidak miskin potensi. Ada padi, jagung, cabai, kelapa, cengkih, kopra, ikan, babi, tanaman obat, Cap Tikus, kerajinan, dan pengetahuan lokal. Masalahnya, semua potensi itu sering berjalan sendiri-sendiri. Belum selalu dicatat, dipetakan, dihubungkan, dan dikelola bersama. Here, Indigenous Youth begin to read the village economy in a new way. They see that the village is not poor in potential. There is rice, maize, chilli, coconut, cloves, copra, fish, pigs, medicinal plants, Cap Tikus, crafts, and local knowledge. The problem is that these forms of potential often operate separately. They are not always recorded, mapped, connected, or managed together.
KUMA ingin menjadi ruang untuk menghubungkan semua itu. Sebuah pusat belajar ekonomi kampung. Tempat Pemuda Adat dapat mengetahui apa yang diproduksi, kapan musim panen, siapa yang terlibat, bagaimana distribusi berjalan, dan pasar seperti apa yang bisa dibangun. Dengan pengetahuan seperti itu, kampung tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga dapat menjadi pusat pengelolaan ekonomi komunitas. KUMA wants to become a space that connects all of this: a learning centre for the village economy. A place where Indigenous Youth can understand what is produced, when harvest seasons occur, who is involved, how distribution works, and what kinds of markets can be built. With this knowledge, the village can become not only a site of production, but also a centre for managing the community economy.
Bagi Pemuda Adat, ini adalah bagian dari kedaulatan. Kedaulatan tidak hanya berarti memiliki tanah secara hukum atau politik. Kedaulatan juga berarti mampu mengelola kehidupan dari tanah itu. Mampu menanam pangan sendiri. Mampu mengatur distribusi. Mampu membangun pasar komunitas. Mampu menjaga nilai ekonomi agar tidak cepat keluar dari kampung. For Indigenous Youth, this is part of sovereignty. Sovereignty does not only mean having legal or political rights over land. It also means being able to sustain life from that land: growing one’s own food, organising distribution, building community markets, and keeping economic value from immediately leaving the village.
Pemuda Adat juga memiliki peran penting sebagai penjaga alam dan keseimbangan ekosistem. Masyarakat Adat hidup dalam hubungan yang dekat dengan tanah, hutan, sungai, laut, kebun, sawah, dan sumber-sumber kehidupan lain. Karena itu, ketika Pemuda Adat menanam kembali lahan, menjaga air, merawat kebun, memelihara ikan, atau menghidupkan pangan lokal, mereka bukan hanya bekerja untuk ekonomi. Mereka juga sedang menjaga hubungan antara manusia dan alam. Indigenous Youth also have an important role as guardians of nature and ecological balance. Indigenous Peoples live in close relationship with land, forests, rivers, seas, gardens, rice fields, and other sources of life. So when Indigenous Youth replant land, protect water, care for gardens, raise fish, or revitalise local food, they are not working only for the economy. They are also maintaining the relationship between people and nature.
Di tengah ancaman modernisasi, pertambangan, perampasan tanah, perubahan iklim, dan hilangnya pengetahuan lokal, peran ini menjadi semakin penting. Kampung tidak cukup hanya dihuni. Kampung harus dijaga. Tanah tidak cukup hanya diwarisi. Tanah harus dikelola. Alam tidak cukup hanya disebut sebagai sumber daya. Alam harus dipahami sebagai bagian dari kehidupan Masyarakat Adat. Amid the pressures of modernisation, mining, land grabbing, climate change, and the loss of local knowledge, this role becomes increasingly important. It is not enough simply to inhabit the village; the village must be cared for. It is not enough simply to inherit land; the land must be managed. Nature cannot be understood only as a resource; it must be recognised as part of Indigenous life.
KUMA juga memperlihatkan bahwa kerja kebudayaan dan kerja ekonomi tidak harus dipisahkan. Di satu sisi, Pemuda Adat membuat film, mendokumentasikan budaya, menulis cerita, dan merekam pengetahuan masyarakat. Di sisi lain, mereka membuka kebun, memelihara ternak, mengelola ikan, dan membangun usaha komunitas. Kamera dan parang berada dalam semangat yang sama: menjaga kehidupan kampung. KUMA also shows that cultural work and economic work do not have to be separated. On one side, Indigenous Youth make films, document culture, write stories, and record community knowledge. On the other, they open gardens, raise livestock, manage fish, and build community enterprises. The camera and the machete serve the same purpose: sustaining village life.
Film menjaga ingatan. Kebun menjaga kehidupan. Dokumentasi menyimpan cerita. Pertanian memberi makan. Semua itu adalah bagian dari perjuangan yang sama. Film protects memory. Gardens sustain life. Documentation preserves stories. Agriculture provides food. All are part of the same struggle.
Pemuda Adat juga menjadi penjaga budaya, bahasa, dan pengetahuan adat. Mereka perlu belajar bahasa, cerita, ritual, sejarah kampung, sistem kerja bersama, pengetahuan tentang musim, pangan, obat-obatan, hutan, air, dan tanah. Jika Pemuda Adat tidak belajar, maka pengetahuan itu bisa terputus. Jika mereka tidak mendengarkan tetua, maka banyak cerita akan hilang. Jika mereka tidak mendokumentasikan dan mempraktikkan pengetahuan itu, maka kampung bisa kehilangan sebagian dirinya sendiri. Indigenous Youth are also guardians of culture, language, and Indigenous knowledge. They need to learn language, stories, rituals, village history, systems of collective work, and knowledge of seasons, food, medicine, forests, water, and land. If Indigenous Youth do not learn, that knowledge can be broken. If they do not listen to elders, many stories will disappear. If they do not document and practise this knowledge, the village can lose part of itself.
Karena itu, kerja dokumentasi yang dilakukan Pemuda Adat bukan sekadar pekerjaan media. Ia adalah bagian dari perjuangan menjaga ingatan. Ketika kamera digunakan untuk merekam ritual, cerita orang tua, praktik pertanian, pengetahuan pangan, atau kehidupan sehari-hari Masyarakat Adat, kamera menjadi alat untuk memastikan bahwa suara kampung tidak hilang. Dari sini, Pemuda Adat dapat berbicara kepada dunia luar tanpa meninggalkan akarnya sendiri. For this reason, documentation by Indigenous Youth is more than media work. It is part of the struggle to protect memory. When cameras are used to record rituals, elders’ stories, agricultural practices, food knowledge, or everyday Indigenous life, they become tools for ensuring that the voice of the village is not lost. From there, Indigenous Youth can speak to the wider world without leaving their own roots behind.
Pemuda Adat juga merupakan kekuatan organisasi dan advokasi. Mereka dapat mengorganisir komunitas, mendokumentasikan masalah kampung, menyuarakan hak-hak Masyarakat Adat, mengawal kebijakan, membuat media, membangun ekonomi komunitas, dan memperkuat solidaritas antarwilayah adat. Semangat “Bangkit, Bersatu, Bergerak Mengurus Wilayah Adat” menjadi penting karena mengingatkan bahwa Pemuda Adat tidak cukup hanya bangga pada identitasnya. Mereka juga harus bergerak mengurus wilayah adatnya. Indigenous Youth are also a force for organisation and advocacy. They can organise communities, document village problems, speak up for Indigenous Peoples’ rights, monitor policy, produce media, build community economies, and strengthen solidarity across customary territories. The spirit of “Bangkit, Bersatu, Bergerak Mengurus Wilayah Adat” — rise, unite, and act to care for customary territory — is important because it reminds Indigenous Youth that pride in identity is not enough. They must also take action to care for their customary territory.
Dalam KUMA, semangat itu diterjemahkan ke dalam kerja yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mengurus wilayah adat berarti menanam. Mengurus wilayah adat berarti mencatat. Mengurus wilayah adat berarti membuat rapat kecil. Mengurus wilayah adat berarti mendukung kerja Perempuan Adat. Mengurus wilayah adat berarti belajar dari tetua. Mengurus wilayah adat berarti menghidupkan kembali mapalus. Mengurus wilayah adat berarti mencari jalan agar ekonomi kampung tidak selalu bergantung pada pihak luar. Within KUMA, that spirit is translated into work closely tied to daily life. Caring for customary territory means planting. It means keeping records. It means holding small meetings. It means supporting the work of Indigenous Women. It means learning from elders. It means revitalising mapalus. It means finding ways for the village economy not to remain dependent on outsiders.
Karena itu, Pemuda Adat KUMA Tawaang tidak hanya sedang membangun organisasi ekonomi. Mereka sedang menjawab pertanyaan besar tentang masa depan: apakah anak muda masih bisa hidup di kampung? Apakah tanah masih bisa menjadi sumber kehidupan? Apakah pengetahuan adat masih bisa bertahan? Apakah modernitas dan budaya lokal bisa berjalan bersama tanpa saling menghancurkan? For this reason, KUMA Tawaang’s Indigenous Youth are not simply building an economic organisation. They are answering larger questions about the future: can young people still live in the village? Can the land still be a source of life? Can Indigenous knowledge endure? Can modernity and local culture move forward together without destroying one another?
Jawaban mereka belum sempurna. Namun mereka sudah mulai. Their answers are not yet complete. But they have begun.
Mungkin kebun yang dibuka belum luas. Mungkin hasil panen belum besar. Mungkin usaha ternak masih kecil. Mungkin pasar komunitas belum sepenuhnya terbentuk. Tetapi setiap langkah kecil menunjukkan bahwa kampung belum selesai. Setiap cabai yang ditanam, setiap ikan yang dipelihara, setiap padi yang dirawat, setiap rapat kecil, setiap catatan keuangan, setiap kerja mapalus, adalah bagian dari upaya menjaga masa depan. The gardens they have opened may still be small. Harvests may not yet be large. Livestock enterprises may still be modest. A community market may not yet be fully established. But every small step shows that the village’s story is not finished. Every chilli planted, every fish raised, every rice plant tended, every small meeting, every financial record, and every act of mapalus is part of the effort to protect the future.
Di tengah banyak anak muda yang merasa harus meninggalkan kampung untuk berhasil, Pemuda Adat KUMA Tawaang sedang mengatakan hal lain: masa depan juga bisa dibangun dari tanah sendiri. At a time when many young people feel they must leave the village in order to succeed, KUMA Tawaang’s Indigenous Youth are saying something different: the future can also be built from one’s own land.
Mereka tidak ingin kampung hanya menjadi tempat nostalgia. Mereka ingin kampung menjadi tempat hidup, bekerja, belajar, berkarya, dan membangun martabat. Mereka ingin anak muda melihat bahwa menjadi petani bukan hal yang memalukan. Bahwa mengolah tanah adalah pengetahuan. Bahwa menjaga kampung adalah kerja politik. Bahwa ekonomi Masyarakat Adat dapat tumbuh dari akar budayanya sendiri. They do not want the village to become only a place of nostalgia. They want it to be a place to live, work, learn, create, and build dignity. They want young people to see that being a farmer is nothing to be ashamed of. That working the land is knowledge. That caring for the village is political work. That an Indigenous economy can grow from its own cultural roots.
KUMA Tawaang mungkin masih muda. Gerakannya mungkin masih perlahan. Namun di dalamnya ada sesuatu yang penting: Pemuda Adat yang menolak kehilangan kampung. KUMA Tawaang may still be young. Its movement may still be gradual. But something important exists within it: Indigenous Youth who refuse to lose their village.
Selama masih ada anak muda yang mau pulang, selama masih ada tangan yang mau membuka lahan, selama masih ada tubuh yang turun ke sawah, selama masih ada orang yang mau belajar dari tetua, selama masih ada kamera yang merekam ingatan, selama masih ada mapalus yang dihidupkan kembali, dan selama masih ada keyakinan bahwa tanah adalah sumber kehidupan, kampung masih memiliki masa depan. As long as there are young people willing to return, hands willing to open land, bodies willing to step into the rice fields, people willing to learn from elders, cameras recording memory, mapalus being brought back to life, and a belief that land is a source of life, the village still has a future.
Dan masa depan itu tidak datang dari jauh. Ia sedang ditanam, sedikit demi sedikit, oleh Pemuda Adat di tanah mereka sendiri. And that future does not come from far away. It is being planted, little by little, by Indigenous Youth on their own land.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar