KUMA Tawaang Produksi Buku Belajar Bahasa Tontemboan

Buku untuk anak-anak di Sekolah Adat dan Sekolah Formal

Melalui buku bergambar dan cerita, KUMA Tawaang mempertemukan anak-anak dengan bahasa, alam, serta sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan.

WUWUK, MINAHASA SELATAN — KUMA Tawaang meyakini bahwa penguasaan terhadap sistem pengetahuan Masyarakat Adat merupakan dasar bagi Masyarakat Adat untuk berdaulat atas wilayah adatnya, membangun kemandirian ekonomi, serta mencapai kehidupan yang bahagia dan sejahtera.

Kedaulatan atas wilayah adat tidak cukup ditandai oleh keberadaan Masyarakat Adat di atas tanah leluhurnya. Masyarakat juga perlu mengetahui sejarah wilayahnya, mengenal bahasa dan nama-nama tempatnya, memahami tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya, serta menguasai cara mengolah, memelihara, dan menjaga alam berdasarkan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tanpa pengetahuan tersebut, Masyarakat Adat dapat tetap tinggal di wilayahnya sendiri, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk memahami, mengelola, mempertahankan, dan menentukan masa depan wilayah tersebut.

Beberapa bulan ini, selesai berkebun, kami (baca: KUMA Tawaang) santai tipis-tipis. Di atas meja pasti ada Cap Tikus. Kami bercerita tentang cerita-cerita tua Minahasa dalam Bahasa Tontemboan dan mulai mendokumentasikannya. Ada yang bercerita- ada yang mendengar. Saya merekam dan mencatat. Kami ingin membuktikan bahwa dari dulu tempat Paelepan adalah salah satu ruang bagi orang Minahasa untuk berpengetahuan dan mencipta karya pengetahuan baru.

Dari Paelepan itu, lahirlah dua buku ini yang khusus ditujukan untuk anak-anak. Dari judul, bisa dibayangkan apa isinya. Buku ini akan dicetak dan dibagikan ke Sekolah Adat dan Sekolah Formal. Uang dari hasil kami berkebun dan Ru’kup akan digunakan untuk mencetak kedua buku ini. Anak-anak Masyarakat Adat yang belajar dan bergaul bersama kami memiliki kesempatan yang sangat berharga. Mereka belajar langsung dari para tetua, dari bahasa yang masih digunakan sehari-hari, dari kebun, hutan, sungai, dan berbagai praktik budaya yang tetap hidup di tengah komunitas. Kesempatan seperti ini tidak selalu dimiliki oleh anak-anak yang bersekolah di sekolah formal. Padahal, mereka juga memiliki hak yang sama untuk mengenal bahasa ibu, adat, dan tradisi yang menjadi bagian dari identitas mereka. Atas dasar itulah, dua buku ini disusun. Kami berharap buku-buku ini dapat menjadi sumber belajar yang membantu menghadirkan pengetahuan Masyarakat Adat ke ruang-ruang pendidikan, baik di sekolah maupun di rumah. Dengan demikian, anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pembelajaran adat, tetap dapat mengenal, mempelajari, dan mencintai pengetahuan dan warisan budaya mereka sendiri sejak usia dini. Buku ini sebagai bentuk kepedulian dari Pendidikan Adat terhadap Pendidikan Formal. Sebagai Hadiah dari Sekolah Adat untuk Sekolah Formal.

Pemikiran inilah yang menjadi dasar KUMA Tawaang menyusun dua buku untuk anak-anak, yaitu Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan dan Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak: Fabel, Dongeng Alam, dan Kisah Bijak dari Minahasa.

Kedua buku ini dikembangkan sebagai bagian dari usaha menjaga keberlanjutan sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan. Proses penyusunannya berangkat dari pengetahuan yang masih hidup di tengah komunitas dan melibatkan berbagai generasi dengan pengalaman serta peran yang berbeda.

Disusun secara kolektif dan partisipatoris

Kedua buku disusun secara kolektif dan partisipatoris oleh Tim KUMA Tawaang melalui kerja bersama para tetua, Kelompok Perempuan Adat, Kelompok Pemuda Adat, dan anggota komunitas lainnya.

Tumpuan utama penyusunan buku adalah cerita lisan, ingatan, pengalaman hidup, serta pengetahuan bahasa Tontemboan yang masih digunakan dan dipelihara di tengah masyarakat. Pengetahuan yang hidup menjadi sumber utama dalam menentukan kosakata, makna, konteks, dan cerita yang dimasukkan ke dalam buku.

Sumber-sumber tertulis, seperti kamus, arsip, dan hasil penelitian, digunakan sebagai bahan pendukung dan pembanding. Sumber tertulis tidak ditempatkan sebagai otoritas yang lebih tinggi daripada pengetahuan para penutur dan pengalaman Masyarakat Adat.

Apabila terdapat perbedaan makna atau penafsiran, Tim KUMA Tawaang mengutamakan penjelasan penutur dan pemegang pengetahuan Tontemboan. Sumber tertulis digunakan untuk membantu proses pemeriksaan, bukan untuk menggantikan ingatan dan pengetahuan yang masih hidup di tengah komunitas.

Para tetua membagikan kosakata, cerita, ingatan, dan pengetahuan yang mereka terima dari generasi sebelumnya. Perempuan Adat membawa pengetahuan yang hidup dalam keluarga, pengolahan pangan, kebun, tumbuhan, pendidikan anak, dan kegiatan sehari-hari.

Pemuda Adat terlibat dalam pencatatan, penyusunan, dokumentasi, ilustrasi, desain, dan pengembangan cara penyajian agar pengetahuan tersebut dapat dipahami dan disukai oleh anak-anak masa kini.

Proses penyusunan buku menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Para tetua tidak sekadar ditempatkan sebagai narasumber, sementara pemuda tidak sekadar menjadi pencatat. Semua orang terlibat dalam pertukaran pengetahuan. Mereka bercerita, bertanya, memeriksa kembali ingatan, dan saling melengkapi. Dalam proses tersebut, setiap orang dapat menjadi guru sekaligus pembelajar.

Mengenal bahasa melalui alam sekitar

Pada sampul buku Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan, dua anak digambarkan sedang bermain dan belajar di tengah kebun. Di sekitar mereka terdapat padi, pisang, kelapa, bunga, burung, kepiting, dan berbagai hewan lainnya. Seekor yaki hitam tampak bergelantungan pada dahan pohon.

Pemandangan alam Minahasa menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal bahasa Tontemboan melalui tumbuhan dan hewan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Pohon aren diperkenalkan dengan nama a’kël. Kelapa disebut po’po’, padi disebut wene’, sedangkan pisang disebut punti’. Setiap kata disandingkan dengan gambar agar anak-anak dapat menghubungkan bahasa dengan tumbuhan dan hewan yang mereka temukan di halaman rumah, kebun, sawah, sungai, dan lingkungan kampung.

Pembelajaran dimulai melalui nama hewan dan tumbuhan karena bahasa Tontemboan tumbuh bersama alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Nama tumbuhan, hewan, sungai, batu, gunung, kebun, dan kampung bukan sekadar penanda. Di dalam nama-nama tersebut tersimpan pengetahuan mengenai ciri, kegunaan, sejarah, serta hubungan manusia dengan wilayah hidupnya.

Belajar bahasa Tontemboan karena itu tidak cukup dengan menghafalkan terjemahan kata. Anak-anak juga perlu mengenal benda, tempat, pengalaman, dan hubungan yang melahirkan kata tersebut.

Ketika seorang anak mempelajari kata a’kël, misalnya, ia tidak berhenti pada pengetahuan bahwa kata tersebut berarti pohon aren. Anak dapat diajak mencari pohon aren, mengetahui tempat tumbuhnya, mengenal bagian-bagiannya, memahami kegunaannya bagi masyarakat, serta belajar dari orang-orang yang bekerja dan hidup bersama pohon tersebut.

Dari satu kata, proses belajar dapat berkembang menjadi percakapan mengenai alam, pangan, pekerjaan, sejarah, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.

Cerita tua sebagai ruang belajar

Buku Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak menghadirkan kembali cerita-cerita lisan Tontemboan dalam bahasa yang lebih mudah dibaca dan dipahami oleh anak-anak Sekolah Dasar.

Burung, hewan, pohon, sungai, hutan, kebun, batu, dan manusia hadir sebagai bagian dari dunia cerita yang menyimpan pengetahuan mengenai kehidupan Masyarakat Adat Minahasa.

Cerita-cerita tersebut tidak ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu atau hiburan bagi anak-anak. Di dalamnya terdapat cara masyarakat memahami hubungan manusia dengan alam, kehidupan bersama, tanggung jawab terhadap sesama, serta akibat dari tindakan yang mengabaikan keseimbangan kehidupan.

Melalui cerita tentang burung, pohon, sungai, atau hewan, anak-anak belajar bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk yang mempunyai tempat dalam kehidupan. Manusia hidup bersama makhluk lain dan bergantung pada tanah, air, tumbuhan, hutan, udara, serta seluruh lingkungan tempatnya bertumbuh.

Cerita lisan merupakan salah satu cara Masyarakat Adat menyampaikan pengetahuan tanpa memisahkannya dari pengalaman hidup. Anak-anak tidak hanya menerima perintah mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mereka diajak memahami hubungan sebab dan akibat melalui perjalanan tokoh, pilihan tindakan, dan perubahan yang terjadi di dalam cerita.

Melalui cerita, anak-anak belajar mengenal alam dan cara menjaganya. Mereka juga belajar memahami kedudukannya sebagai bagian dari keluarga, komunitas, wilayah hidup, dan kehidupan bersama makhluk-makhluk lain.

Ketika sebuah cerita berhenti dituturkan, yang hilang bukan hanya kisah. Kata-kata, nama tempat, pengetahuan tentang alam, ingatan keluarga, dan cara masyarakat memahami dunia dapat ikut menghilang. Karena itu, pewarisan cerita lisan menjadi bagian penting dari keberlanjutan sistem pengetahuan Masyarakat Adat.

Berawal sebagai kelompok ekonomi

KUMA Tawaang didirikan sebagai kelompok penguatan ekonomi masyarakat. Kegiatannya bergerak dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai usaha yang ditujukan untuk memperkuat kemandirian Masyarakat Adat di Wuwuk.

Namun, KUMA Tawaang tidak menempatkan ekonomi sebagai satu-satunya dasar gerakan. Kegiatan ekonomi harus tumbuh dari sistem pengetahuan Masyarakat Adat dan diarahkan untuk memperkuat kehidupan bersama.

Ketua KUMA Tawaang, Masri Sumondakh, menjelaskan bahwa pertanian, peternakan, dan perikanan tidak dapat dijalankan tanpa pengetahuan mengenai tanah, air, musim, tumbuhan, hewan, pangan, serta hubungan sosial di dalam masyarakat.

Menurut Masri, ekonomi dibutuhkan agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu, sistem pengetahuan Masyarakat Adat memberikan arah mengenai bagaimana tanah digunakan, bagaimana alam dijaga, bagaimana hasil usaha dikelola, dan bagaimana manfaat ekonomi dapat dirasakan bersama.

Masyarakat perlu mengetahui apa yang terdapat di dalam wilayahnya, memahami sejarahnya, menguasai cara mengelolanya, dan mampu menjaganya bagi generasi berikutnya. Dari pengetahuan itulah dapat dibangun kemandirian ekonomi yang tidak tercerabut dari wilayah, kebudayaan, dan kehidupan bersama.

Kemandirian ekonomi tidak sekadar berarti kemampuan menghasilkan uang. Kemandirian juga berarti masyarakat mampu memenuhi kebutuhannya, mengelola wilayahnya, mengambil keputusan bersama, dan memastikan sumber-sumber kehidupan tetap tersedia bagi generasi yang akan datang.

Kebahagiaan dan kesejahteraan pun tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan. Keduanya berhubungan dengan kemampuan masyarakat untuk hidup di wilayahnya sendiri, menggunakan bahasanya, menjalankan pengetahuannya, menikmati hasil kerja bersama, dan mewariskan kehidupan yang layak kepada anak-anak.

Hasil kerja bersama ikut membiayai buku

Hubungan antara kegiatan ekonomi dan pewarisan pengetahuan terlihat dalam proses produksi kedua buku tersebut.

Sebagian pendapatan KUMA Tawaang dari hasil berkebun, penjualan babi dan ikan, serta Ru’kup disisihkan untuk membiayai produksi buku bagi anak-anak TK dan Sekolah Dasar.

Menurut Masri Sumondakh, hasil kegiatan ekonomi tidak seluruhnya digunakan kembali sebagai modal usaha. Sebagiannya perlu dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan bersama, termasuk pendidikan anak-anak, penguatan bahasa, kebudayaan, dan pewarisan sistem pengetahuan Masyarakat Adat.

Dana tersebut digunakan untuk mendukung penyusunan isi, pembuatan ilustrasi, desain, dan pencetakan buku.

Keputusan ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi KUMA Tawaang tidak berhenti pada proses menanam, memelihara, memanen, menjual, dan memperoleh pendapatan. Hasil kerja bersama juga digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dipakai oleh masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Hasil kebun, babi, dan ikan tidak berakhir sebagai uang. Sebagiannya berubah menjadi halaman-halaman buku yang akan digunakan oleh anak-anak untuk mengenal bahasa Tontemboan, nama tumbuhan dan hewan, cerita lisan, serta hubungan Masyarakat Adat dengan alam.

Penggunaan pendapatan kelompok untuk memproduksi buku juga menjadi bagian dari usaha membangun kemandirian. KUMA Tawaang menggunakan sumber daya dan hasil kerja bersama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kebudayaan masyarakat tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.

Kegiatan ekonomi menyediakan sumber daya. Sistem pengetahuan Masyarakat Adat memberi arah mengenai bagaimana sumber daya tersebut digunakan.

KUMA Tawaang sebagai Sekolah Adat

Meskipun didirikan sebagai kelompok ekonomi, dalam perkembangannya KUMA Tawaang juga menjalankan peran sebagai Sekolah Adat.

Peran tersebut tumbuh dari kegiatan sehari-hari dalam pertanian, peternakan, perikanan, kebudayaan, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.

Sekolah Adat KUMA Tawaang tidak berdiri seperti sekolah formal dengan ruang kelas, pembagian tingkatan usia, dan jadwal pelajaran yang kaku. Sekolah Adat hadir sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat bahasa, sejarah, kebudayaan, dan sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan.

Pertanian tidak sekadar menjadi kegiatan menanam dan menghasilkan pangan. Di dalamnya terdapat proses belajar mengenai tanah, benih, musim, air, cuaca, hama, tumbuhan, dan kerja bersama.

Peternakan dan perikanan juga menjadi ruang untuk memahami kehidupan hewan, sumber air, lingkungan, pangan, kesehatan, serta tanggung jawab manusia dalam memelihara makhluk lain.

Sekolah Adat tidak hanya ditujukan kepada anak-anak dan pemuda. Orang dewasa dan para tetua juga menjadi bagian dari proses belajar. Setiap orang dapat menjadi guru sekaligus murid berdasarkan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan pertanyaan yang dimilikinya.

Anak-anak belajar dari orang tua mengenai bahasa dan cerita. Pemuda belajar dari petani mengenai tanah dan musim. Orang tua belajar dari generasi muda mengenai dokumentasi, media, dan teknologi. Para tetua membagikan ingatan mereka sambil terus mempelajari perubahan yang terjadi di lingkungan dan masyarakat.

Pengetahuan tidak bergerak hanya dari generasi tua kepada generasi muda. Pengetahuan bergerak ke berbagai arah. Ia dibagikan, diperiksa kembali, diuji melalui pengalaman, dan diteruskan dalam bentuk yang dapat dipahami generasi berikutnya.

Pertanyaan seorang anak dapat membuat orang tua kembali mengingat sebuah kata. Keterampilan seorang pemuda dapat membantu tetua merekam cerita. Pengalaman seorang petani dapat membantu komunitas memahami perubahan musim.

Semua generasi terus belajar.

Semesta adalah sekolah

Cara belajar KUMA Tawaang dirangkum dalam gagasan Universe is University, yang dapat dimaknai sebagai “Semesta adalah sekolah atau universitas.”

Dalam Sekolah Adat, manusia bukan satu-satunya guru. Tanah, air, tumbuhan, hewan, kebun, sungai, hutan, dan seluruh semesta ikut membentuk pengetahuan.

Alam bukan sekadar kumpulan sumber daya yang tersedia untuk dimanfaatkan manusia. Alam adalah ruang hidup yang mengajarkan manusia tentang musim, kesuburan, keterhubungan, keseimbangan, dan akibat dari setiap tindakan.

Tanah mengajarkan cara menanam, merawat, dan memulihkan kehidupan. Air menunjukkan bahwa kehidupan di satu tempat selalu berhubungan dengan kehidupan di tempat lain. Tumbuhan dan hewan membantu masyarakat membaca keadaan kebun, perubahan musim, dan kesehatan lingkungan.

Burung dapat membantu masyarakat mengenali waktu dan perubahan keadaan alam. Serangga membantu manusia membaca kesehatan tanaman. Sungai memperlihatkan hubungan antara hulu dan hilir. Hutan mengajarkan bahwa kehidupan terbentuk melalui hubungan berbagai makhluk, bukan oleh satu jenis kehidupan saja.

Angin, hujan, matahari, batu, tanah, air, tumbuhan, dan hewan tidak mengajar melalui penjelasan seperti manusia. Untuk belajar dari mereka, masyarakat memerlukan perhatian, pengalaman, kesabaran, dan kemampuan membaca tanda-tanda alam.

Kemampuan tersebut tidak tumbuh hanya dengan membaca buku. Anak-anak perlu datang ke kebun, melihat tumbuhan bertumbuh, mengenali suara burung, menyentuh tanah, mendengar aliran air, dan berbicara dengan orang-orang yang memiliki pengalaman.

Buku-buku yang diproduksi KUMA Tawaang tidak dimaksudkan untuk menggantikan alam, pengalaman langsung, orang tua, tetua, atau penutur bahasa. Buku menjadi jembatan yang membawa anak-anak kembali kepada lingkungan dan masyarakat tempat pengetahuan itu hidup.

Ketika seorang anak mengenal nama tumbuhan melalui buku, proses belajarnya tidak berhenti pada gambar dan tulisan. Anak dapat diajak mencari tumbuhan tersebut di kebun, mengetahui tempat tumbuhnya, mengenal manfaatnya, dan belajar dari orang yang merawatnya.

Ketika anak membaca cerita tentang burung, sungai, atau hutan, ia dapat diajak melihat bahwa manusia hidup bersama makhluk lain dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan tersebut.

Dalam pengertian inilah semesta menjadi sekolah dan semua makhluk dapat menjadi guru.

Perempuan Adat dan pendidikan dari rumah

Lisah Rumengan dari Kelompok Perempuan Adat KUMA Tawaang melihat keluarga sebagai ruang pertama tempat anak mengenal dunia.

Di rumah, anak-anak mulai mempelajari nama makanan, tumbuhan, hewan, pekerjaan, hubungan kekeluargaan, dan cara berinteraksi dengan orang lain. Dalam proses tersebut, Perempuan Adat memiliki peran penting dalam pewarisan bahasa dan pengetahuan.

Anak-anak pertama kali belajar melalui percakapan sehari-hari bersama ibu, oma, dan anggota keluarga lainnya. Karena itu, Perempuan Adat memiliki kedudukan penting dalam menjaga agar bahasa dan pengetahuan masyarakat tidak terputus.

Banyak pengetahuan Masyarakat Adat diwariskan melalui kegiatan sehari-hari yang sering tidak disebut sebagai pendidikan. Pengetahuan mengenai bahan makanan, benih, tumbuhan, pengolahan hasil kebun, kesehatan keluarga, dan hubungan antarmanusia dipelajari melalui praktik kehidupan.

Namun, tidak semua orang tua yang ingin mengajarkan bahasa Tontemboan mengetahui bagaimana harus memulainya. Sebagian keluarga tidak lagi menggunakan bahasa Tontemboan secara aktif dalam percakapan sehari-hari.

Buku bergambar dapat membantu keluarga memulai proses belajar dari hal-hal sederhana. Orang tua dapat memulainya dari satu gambar, satu nama tumbuhan, satu nama hewan, atau satu cerita. Dari sana, anak dan orang tua dapat belajar bersama.

Anak juga dapat bertanya kepada opa, oma, atau tetua kampung mengenai kata lain dan cerita yang berhubungan dengan gambar yang ditemukan di dalam buku.

Proses belajar tersebut tidak hanya berlaku bagi anak-anak. Orang tua yang tidak lagi menguasai banyak kosakata Tontemboan dapat menggunakan buku untuk belajar kembali bersama anak-anaknya.

Pertanyaan seorang anak dapat membuat orang tua kembali mengingat, mencari, dan mempelajari pengetahuan yang mulai dilupakan. Dengan demikian, buku mengajak seluruh keluarga untuk belajar bersama.

Pemuda Adat bukan sekadar penerima warisan

Vanessa Kellah dari Kelompok Pemuda Adat KUMA Tawaang mengatakan bahwa banyak anak dan generasi muda Tontemboan saat ini tumbuh dengan bahasa Indonesia atau Melayu Manado sebagai bahasa sehari-hari.

Mereka mungkin tinggal di wilayah Tontemboan, tetapi belum tentu mengetahui nama tumbuhan, hewan, tempat, atau benda di sekitarnya dalam bahasa Tontemboan. Sebagian juga tidak lagi mengenal cerita-cerita yang dahulu diwariskan secara lisan.

Kedua buku tersebut menjadi salah satu jalan agar anak-anak kembali mengenal bahasa, cerita, dan pengetahuan kampung melalui cara yang menarik dan sesuai dengan usia mereka.

Menjaga bahasa tidak cukup dilakukan dengan menyimpan kamus, arsip, manuskrip, atau dokumentasi. Bahasa akan tetap hidup apabila digunakan dalam percakapan dan diteruskan kepada penutur baru.

KUMA Tawaang ingin agar anak-anak tidak berhenti pada kegiatan membaca. Mereka perlu mengucapkan kata-kata Tontemboan, mendengarkan cerita, mengajukan pertanyaan, dan membicarakannya kembali di rumah maupun di sekolah.

Generasi muda juga tidak boleh ditempatkan sebagai penerima pasif warisan para pendahulu. Pemuda Adat perlu mempelajari, mendokumentasikan, menggunakan, dan menyampaikan kembali pengetahuan masyarakat dalam bentuk yang dapat dipahami oleh generasi yang lebih muda.

Pemuda membawa pengetahuan dan keterampilan baru, terutama dalam penggunaan media, teknologi, desain, dokumentasi, dan penyebaran informasi. Keterampilan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat pewarisan sistem pengetahuan Masyarakat Adat, bukan menggantikannya.

Identitas sebagai orang Tontemboan tidak cukup dinyatakan melalui nama. Identitas tersebut perlu hidup dalam bahasa, pengetahuan, hubungan dengan alam, dan tindakan sehari-hari.

Hak anak-anak untuk belajar adat

Kehadiran kedua buku ini membuka jalan agar pengetahuan yang selama ini hidup di Sekolah Adat dapat digunakan pula oleh anak-anak yang belajar di sekolah formal.

Tidak semua anak memiliki kesempatan untuk berjumpa langsung dengan penutur bahasa, tetua, atau pemegang pengetahuan di dalam komunitas. Karena itu, buku dapat menjadi salah satu penghubung antara anak-anak, keluarga, sekolah, dan sumber-sumber pengetahuan yang masih hidup.

Pendidikan Adat tidak ditempatkan sebagai lawan dari Pendidikan Formal. Keduanya dapat saling mendukung agar anak-anak memperoleh pendidikan yang tidak memisahkan mereka dari bahasa, sejarah, kebudayaan, alam, dan komunitasnya sendiri.

Tersedia dalam bentuk cetak dan PDF

KUMA Tawaang akan menyediakan kedua buku dalam bentuk cetak untuk digunakan oleh satu Taman Kanak-kanak dan dua Sekolah Dasar di Wuwuk, serta dalam kegiatan belajar bersama di Sekolah Adat.

Buku cetak diharapkan dapat mendukung pembelajaran bahasa Tontemboan secara langsung di sekolah. Buku dapat digunakan dalam kegiatan belajar di kelas, membaca bersama, pengenalan lingkungan, serta kegiatan mengenal hewan, tumbuhan, dan cerita lisan yang berasal dari kehidupan masyarakat di sekitar anak-anak.

Selain edisi cetak, KUMA Tawaang akan menyediakan kedua buku dalam format PDF yang dapat diunduh oleh semua orang yang ingin menggunakannya.

Versi digital dapat dimanfaatkan oleh guru, orang tua, sekolah, komunitas, pegiat bahasa, Masyarakat Adat, serta keluarga-keluarga Tontemboan yang tinggal di luar Wuwuk.

Tautan untuk mengunduh kedua buku akan tersedia melalui blog KUMA Tawaang. Dengan menyediakan buku secara terbuka, KUMA Tawaang ingin memperluas akses terhadap bahan belajar bahasa Tontemboan dan memungkinkan buku tersebut digunakan oleh lebih banyak anak, keluarga, sekolah, dan komunitas.

Edisi cetak akan memperkuat proses belajar di sekolah-sekolah di Wuwuk. Versi PDF memungkinkan kedua buku menjangkau masyarakat di tempat lain.

Membawa bahasa kembali ke rumah, sekolah, dan kebun

KUMA Tawaang berharap buku Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan dapat digunakan oleh anak-anak di Sekolah Adat, TK, dan kelas awal Sekolah Dasar untuk mengenal kosakata melalui gambar dan kegiatan yang menyenangkan.

Buku Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak diharapkan menjadi bacaan bagi anak-anak di Sekolah Adat dan Sekolah Dasar, serta bagi keluarga, komunitas, dan sekolah yang ingin memperkenalkan kembali cerita lisan Minahasa.

Di sekolah, guru dapat menggunakan kedua buku sebagai bahan pengenalan bahasa dan lingkungan. Di rumah, orang tua dapat membacanya bersama anak. Di kampung, buku dapat mendorong anak-anak mendatangi opa, oma, tetua, dan para penutur bahasa untuk menanyakan kata, cerita, atau pengetahuan yang belum mereka pahami.

Di kebun, kata-kata yang ditemukan dalam buku dapat dipertemukan dengan benda dan makhluk yang sebenarnya. Anak-anak dapat melihat bahwa bahasa bukan hanya tulisan di atas kertas.

Bahasa hidup dalam tanah yang diinjak, tumbuhan yang dirawat, burung yang bersuara, air yang mengalir, pekerjaan masyarakat, dan percakapan sehari-hari.

Dari satu nama tumbuhan, satu nama hewan, atau satu cerita lama, sebuah percakapan dapat dimulai. Dari percakapan lahir pertanyaan. Dari pertanyaan tumbuh keinginan untuk belajar. Dari proses belajar itulah pengetahuan Masyarakat Adat terus digunakan, diperkaya, dan diwariskan.

Kedua buku ini adalah hadiah dari Sekolah Adat Wuwuk untuk anak-anak TK dan SD di Minahasa—hadiah yang lahir dari kebun, peternakan, perikanan, Ru’kup, Paelepan, cerita para tetua, dan kerja bersama Masyarakat Adat.

Semesta adalah sekolah. Semua makhluk adalah guru. Dari sistem pengetahuan itulah kedaulatan wilayah adat, kemandirian ekonomi, kebahagiaan, dan kesejahteraan Masyarakat Adat dibangun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi, pertukaran pengetahuan, kunjungan komunitas, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.

Hubungi melalui email