KUMA Tawaang Produces Tontemboan Language Learning Books
Buku untuk anak-anak di Sekolah Adat dan Sekolah FormalBooks for children in Indigenous Schools and formal schools
Melalui buku bergambar dan cerita, KUMA Tawaang mempertemukan anak-anak dengan bahasa, alam, serta sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan.Through illustrated books and stories, KUMA Tawaang brings children into contact with the Tontemboan language, the natural world, and Indigenous knowledge systems.

WUWUK, MINAHASA SELATAN — KUMA Tawaang meyakini bahwa penguasaan terhadap sistem pengetahuan Masyarakat Adat merupakan dasar bagi Masyarakat Adat untuk berdaulat atas wilayah adatnya, membangun kemandirian ekonomi, serta mencapai kehidupan yang bahagia dan sejahtera.WUWUK, SOUTH MINAHASA — KUMA Tawaang believes that a strong command of Indigenous knowledge systems is fundamental for Indigenous Peoples to exercise sovereignty over their customary territories, build economic self-reliance, and achieve lives of well-being and prosperity.

Kedaulatan atas wilayah adat tidak cukup ditandai oleh keberadaan Masyarakat Adat di atas tanah leluhurnya. Masyarakat juga perlu mengetahui sejarah wilayahnya, mengenal bahasa dan nama-nama tempatnya, memahami tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya, serta menguasai cara mengolah, memelihara, dan menjaga alam berdasarkan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.Sovereignty over customary territory is not defined simply by Indigenous Peoples remaining on their ancestral land. Communities also need to know the history of their territory, understand their language and place names, recognize the plants and animals that live there, and master ways of cultivating, caring for, and protecting nature based on knowledge passed down from generation to generation.

Tanpa pengetahuan tersebut, Masyarakat Adat dapat tetap tinggal di wilayahnya sendiri, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk memahami, mengelola, mempertahankan, dan menentukan masa depan wilayah tersebut.Without that knowledge, Indigenous Peoples may continue to live in their own territory while gradually losing the ability to understand, manage, defend, and determine the future of that territory.

Beberapa bulan ini, selesai berkebun, kami (baca: KUMA Tawaang) santai tipis-tipis. Di atas meja pasti ada Cap Tikus. Kami bercerita tentang cerita-cerita tua Minahasa dalam Bahasa Tontemboan dan mulai mendokumentasikannya. Ada yang bercerita- ada yang mendengar. Saya merekam dan mencatat. Kami ingin membuktikan bahwa dari dulu tempat Paelepan adalah salah satu ruang bagi orang Minahasa untuk berpengetahuan dan mencipta karya pengetahuan baru.Over the past few months, after working in the gardens, we — meaning KUMA Tawaang — have been taking it easy for a while. There is always Cap Tikus on the table. We talk about old Minahasa stories in Tontemboan and have begun documenting them. Some tell stories; others listen. I record and take notes. We want to show that Paelepan has long been one of the spaces where Minahasa people build knowledge and create new works of knowledge.

Dari Paelepan itu, lahirlah dua buku ini yang khusus ditujukan untuk anak-anak.From that Paelepan, these two books were born, both created especially for children.

Dari judul, bisa dibayangkan apa isinya.From the titles, one can already imagine what they contain.

Buku ini akan dicetak dan dibagikan ke Sekolah Adat dan Sekolah Formal. Uang dari hasil kami berkebun dan Ru’kup akan digunakan untuk mencetak kedua buku ini.The books will be printed and distributed to Indigenous Schools and formal schools. Money from our gardening work and Ru’kup will be used to print both books.

Anak-anak Masyarakat Adat yang belajar dan bergaul bersama kami memiliki kesempatan yang sangat berharga. Mereka belajar langsung dari para tetua, dari bahasa yang masih digunakan sehari-hari, dari kebun, hutan, sungai, dan berbagai praktik budaya yang tetap hidup di tengah komunitas. Kesempatan seperti ini tidak selalu dimiliki oleh anak-anak yang bersekolah di sekolah formal. Padahal, mereka juga memiliki hak yang sama untuk mengenal bahasa ibu, adat, dan tradisi yang menjadi bagian dari identitas mereka.Indigenous children who learn and spend time with us have a valuable opportunity. They learn directly from elders, from a language still used in daily life, from gardens, forests, rivers, and cultural practices that remain alive within the community. Children in formal schools do not always have the same opportunity. Yet they have the same right to know their mother tongue, customs, and traditions as part of their identity.

Atas dasar itulah, dua buku ini disusun. Kami berharap buku-buku ini dapat menjadi sumber belajar yang membantu menghadirkan pengetahuan Masyarakat Adat ke ruang-ruang pendidikan, baik di sekolah maupun di rumah. Dengan demikian, anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pembelajaran adat, tetap dapat mengenal, mempelajari, dan mencintai pengetahuan dan warisan budaya mereka sendiri sejak usia dini.That is why these two books were created. We hope they can become learning resources that bring Indigenous knowledge into educational spaces, both at school and at home. In this way, children who have had limited access to Indigenous learning can still come to know, study, and love their own knowledge and cultural heritage from an early age.

Buku ini sebagai bentuk kepedulian dari Pendidikan Adat terhadap Pendidikan Formal. Sebagai Hadiah dari Sekolah Adat untuk Sekolah Formal.These books are an expression of Indigenous Education’s care for Formal Education — a gift from an Indigenous School to formal schools.

Pemikiran inilah yang menjadi dasar KUMA Tawaang menyusun dua buku untuk anak-anak, yaitu Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan dan Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak: Fabel, Dongeng Alam, dan Kisah Bijak dari Minahasa .This thinking became the basis for KUMA Tawaang to develop two books for children: Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan and Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak: Fabel, Dongeng Alam, dan Kisah Bijak dari Minahasa.

Kedua buku ini dikembangkan sebagai bagian dari usaha menjaga keberlanjutan sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan. Proses penyusunannya berangkat dari pengetahuan yang masih hidup di tengah komunitas dan melibatkan berbagai generasi dengan pengalaman serta peran yang berbeda.The two books were developed as part of an effort to sustain Tontemboan Indigenous knowledge systems. Their preparation begins with knowledge that remains alive within the community and involves generations with different experiences and roles.

Disusun secara kolektif dan partisipatorisDeveloped collectively and participatorily

Kedua buku disusun secara kolektif dan partisipatoris oleh Tim KUMA Tawaang melalui kerja bersama para tetua, Kelompok Perempuan Adat, Kelompok Pemuda Adat, dan anggota komunitas lainnya.Both books were developed collectively and participatorily by the KUMA Tawaang team through collaboration with elders, the Indigenous Women’s Group, the Indigenous Youth Group, and other community members.

Tumpuan utama penyusunan buku adalah cerita lisan, ingatan, pengalaman hidup, serta pengetahuan bahasa Tontemboan yang masih digunakan dan dipelihara di tengah masyarakat. Pengetahuan yang hidup menjadi sumber utama dalam menentukan kosakata, makna, konteks, dan cerita yang dimasukkan ke dalam buku.The main foundations of the books are oral stories, memory, lived experience, and knowledge of the Tontemboan language that continues to be used and maintained within the community. Living knowledge is the primary source for determining the vocabulary, meanings, contexts, and stories included in the books.

Sumber-sumber tertulis, seperti kamus, arsip, dan hasil penelitian, digunakan sebagai bahan pendukung dan pembanding. Sumber tertulis tidak ditempatkan sebagai otoritas yang lebih tinggi daripada pengetahuan para penutur dan pengalaman Masyarakat Adat.Written sources such as dictionaries, archives, and research are used as supporting and comparative materials. Written sources are not placed above the knowledge of speakers or the lived experience of Indigenous Peoples.

Apabila terdapat perbedaan makna atau penafsiran, Tim KUMA Tawaang mengutamakan penjelasan penutur dan pemegang pengetahuan Tontemboan. Sumber tertulis digunakan untuk membantu proses pemeriksaan, bukan untuk menggantikan ingatan dan pengetahuan yang masih hidup di tengah komunitas.When meanings or interpretations differ, the KUMA Tawaang team gives priority to the explanations of Tontemboan speakers and knowledge holders. Written sources are used to support checking and comparison, not to replace memories and knowledge that remain alive within the community.

Para tetua membagikan kosakata, cerita, ingatan, dan pengetahuan yang mereka terima dari generasi sebelumnya. Perempuan Adat membawa pengetahuan yang hidup dalam keluarga, pengolahan pangan, kebun, tumbuhan, pendidikan anak, dan kegiatan sehari-hari.Elders share vocabulary, stories, memories, and knowledge received from earlier generations. Indigenous Women bring knowledge rooted in family life, food processing, gardens, plants, children’s education, and everyday activities.

Pemuda Adat terlibat dalam pencatatan, penyusunan, dokumentasi, ilustrasi, desain, dan pengembangan cara penyajian agar pengetahuan tersebut dapat dipahami dan disukai oleh anak-anak masa kini.Indigenous Youth take part in recording, compiling, documenting, illustrating, designing, and developing ways of presenting the knowledge so that it can be understood and enjoyed by children today.

Proses penyusunan buku menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Para tetua tidak sekadar ditempatkan sebagai narasumber, sementara pemuda tidak sekadar menjadi pencatat. Semua orang terlibat dalam pertukaran pengetahuan. Mereka bercerita, bertanya, memeriksa kembali ingatan, dan saling melengkapi. Dalam proses tersebut, setiap orang dapat menjadi guru sekaligus pembelajar.The process of making the books becomes an intergenerational meeting place. Elders are not treated merely as sources of information, and young people are not merely note-takers. Everyone takes part in exchanging knowledge. They tell stories, ask questions, revisit memories, and complement one another. In this process, everyone can be both a teacher and a learner.

Mengenal bahasa melalui alam sekitarLearning language through the surrounding environment

Pada sampul buku Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan, dua anak digambarkan sedang bermain dan belajar di tengah kebun. Di sekitar mereka terdapat padi, pisang, kelapa, bunga, burung, kepiting, dan berbagai hewan lainnya. Seekor yaki hitam tampak bergelantungan pada dahan pohon.On the cover of Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan, two children are shown playing and learning in a garden. Around them are rice, bananas, coconuts, flowers, birds, crabs, and various other animals. A black macaque, or yaki, hangs from a tree branch.

Pemandangan alam Minahasa menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal bahasa Tontemboan melalui tumbuhan dan hewan yang dekat dengan kehidupan mereka.The Minahasa landscape becomes an entry point for children to learn Tontemboan through plants and animals that are close to their everyday lives.

Pohon aren diperkenalkan dengan nama a’kël. Kelapa disebut po’po’, padi disebut wene’, sedangkan pisang disebut punti’. Setiap kata disandingkan dengan gambar agar anak-anak dapat menghubungkan bahasa dengan tumbuhan dan hewan yang mereka temukan di halaman rumah, kebun, sawah, sungai, dan lingkungan kampung.The sugar palm is introduced as a’kël. Coconut is po’po’, rice is wene’, and banana is punti’. Each word is paired with an image so that children can connect language with the plants and animals they encounter around their homes, gardens, rice fields, rivers, and village surroundings.

Pembelajaran dimulai melalui nama hewan dan tumbuhan karena bahasa Tontemboan tumbuh bersama alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Nama tumbuhan, hewan, sungai, batu, gunung, kebun, dan kampung bukan sekadar penanda. Di dalam nama-nama tersebut tersimpan pengetahuan mengenai ciri, kegunaan, sejarah, serta hubungan manusia dengan wilayah hidupnya.Learning begins with the names of animals and plants because the Tontemboan language has grown together with nature and the community’s daily life. The names of plants, animals, rivers, stones, mountains, gardens, and villages are more than labels. They carry knowledge about characteristics, uses, history, and human relationships with the places where people live.

Belajar bahasa Tontemboan karena itu tidak cukup dengan menghafalkan terjemahan kata. Anak-anak juga perlu mengenal benda, tempat, pengalaman, dan hubungan yang melahirkan kata tersebut.Learning Tontemboan therefore cannot stop at memorizing word translations. Children also need to encounter the objects, places, experiences, and relationships from which those words emerged.

Ketika seorang anak mempelajari kata a’kël, misalnya, ia tidak berhenti pada pengetahuan bahwa kata tersebut berarti pohon aren. Anak dapat diajak mencari pohon aren, mengetahui tempat tumbuhnya, mengenal bagian-bagiannya, memahami kegunaannya bagi masyarakat, serta belajar dari orang-orang yang bekerja dan hidup bersama pohon tersebut.When a child learns the word a’kël, for example, learning does not end with knowing that it means sugar palm. The child can be invited to find a sugar palm, learn where it grows, recognize its parts, understand how it is used by the community, and learn from people who work and live with the tree.

Dari satu kata, proses belajar dapat berkembang menjadi percakapan mengenai alam, pangan, pekerjaan, sejarah, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.From a single word, learning can grow into conversations about nature, food, work, history, economy, and community life.

Cerita tua sebagai ruang belajarOld stories as spaces for learning

Buku Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak menghadirkan kembali cerita-cerita lisan Tontemboan dalam bahasa yang lebih mudah dibaca dan dipahami oleh anak-anak Sekolah Dasar.Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak brings Tontemboan oral stories back into circulation in language that is easier for primary-school children to read and understand.

Burung, hewan, pohon, sungai, hutan, kebun, batu, dan manusia hadir sebagai bagian dari dunia cerita yang menyimpan pengetahuan mengenai kehidupan Masyarakat Adat Minahasa.Birds, animals, trees, rivers, forests, gardens, stones, and people appear within a world of stories that carries knowledge about the life of Minahasa Indigenous Peoples.

Cerita-cerita tersebut tidak ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu atau hiburan bagi anak-anak. Di dalamnya terdapat cara masyarakat memahami hubungan manusia dengan alam, kehidupan bersama, tanggung jawab terhadap sesama, serta akibat dari tindakan yang mengabaikan keseimbangan kehidupan.These stories are not treated merely as remnants of the past or as entertainment for children. They contain ways of understanding relationships between people and nature, life together, responsibility toward others, and the consequences of actions that disregard the balance of life.

Melalui cerita tentang burung, pohon, sungai, atau hewan, anak-anak belajar bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk yang mempunyai tempat dalam kehidupan. Manusia hidup bersama makhluk lain dan bergantung pada tanah, air, tumbuhan, hutan, udara, serta seluruh lingkungan tempatnya bertumbuh.Through stories about birds, trees, rivers, and animals, children learn that humans are not the only beings with a place in life. People live alongside other beings and depend on land, water, plants, forests, air, and the wider environment in which they grow.

Cerita lisan merupakan salah satu cara Masyarakat Adat menyampaikan pengetahuan tanpa memisahkannya dari pengalaman hidup. Anak-anak tidak hanya menerima perintah mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mereka diajak memahami hubungan sebab dan akibat melalui perjalanan tokoh, pilihan tindakan, dan perubahan yang terjadi di dalam cerita.Oral storytelling is one of the ways Indigenous Peoples pass on knowledge without separating it from lived experience. Children do not simply receive instructions about what they may or may not do. They are invited to understand cause and effect through the journeys of characters, the choices they make, and the changes that unfold in the stories.

Melalui cerita, anak-anak belajar mengenal alam dan cara menjaganya. Mereka juga belajar memahami kedudukannya sebagai bagian dari keluarga, komunitas, wilayah hidup, dan kehidupan bersama makhluk-makhluk lain.Through stories, children learn about nature and how to care for it. They also learn to understand themselves as part of a family, community, living territory, and shared life with other beings.

Ketika sebuah cerita berhenti dituturkan, yang hilang bukan hanya kisah. Kata-kata, nama tempat, pengetahuan tentang alam, ingatan keluarga, dan cara masyarakat memahami dunia dapat ikut menghilang. Karena itu, pewarisan cerita lisan menjadi bagian penting dari keberlanjutan sistem pengetahuan Masyarakat Adat.When a story is no longer told, more than the story itself can disappear. Words, place names, knowledge about nature, family memories, and ways of understanding the world can disappear with it. Passing on oral stories is therefore an important part of sustaining Indigenous knowledge systems.

Berawal sebagai kelompok ekonomiBeginning as an economic group

KUMA Tawaang didirikan sebagai kelompok penguatan ekonomi masyarakat. Kegiatannya bergerak dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai usaha yang ditujukan untuk memperkuat kemandirian Masyarakat Adat di Wuwuk.KUMA Tawaang was established as a group to strengthen the community economy. Its work includes agriculture, livestock, fisheries, and other initiatives intended to strengthen the self-reliance of the Wuwuk Indigenous community.

Namun, KUMA Tawaang tidak menempatkan ekonomi sebagai satu-satunya dasar gerakan. Kegiatan ekonomi harus tumbuh dari sistem pengetahuan Masyarakat Adat dan diarahkan untuk memperkuat kehidupan bersama.KUMA Tawaang, however, does not place the economy as the sole foundation of its movement. Economic activities must grow from Indigenous knowledge systems and be directed toward strengthening life together.

Ketua KUMA Tawaang, Masri Sumondakh, menjelaskan bahwa pertanian, peternakan, dan perikanan tidak dapat dijalankan tanpa pengetahuan mengenai tanah, air, musim, tumbuhan, hewan, pangan, serta hubungan sosial di dalam masyarakat.KUMA Tawaang Chair Masri Sumondakh explains that agriculture, livestock, and fisheries cannot be carried out without knowledge of land, water, seasons, plants, animals, food, and social relationships within the community.

Menurut Masri, ekonomi dibutuhkan agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu, sistem pengetahuan Masyarakat Adat memberikan arah mengenai bagaimana tanah digunakan, bagaimana alam dijaga, bagaimana hasil usaha dikelola, dan bagaimana manfaat ekonomi dapat dirasakan bersama.According to Masri, the economy is needed so that people can meet their needs. Indigenous knowledge systems, meanwhile, provide direction for how land is used, how nature is cared for, how the results of economic activities are managed, and how economic benefits can be shared.

Masyarakat perlu mengetahui apa yang terdapat di dalam wilayahnya, memahami sejarahnya, menguasai cara mengelolanya, dan mampu menjaganya bagi generasi berikutnya. Dari pengetahuan itulah dapat dibangun kemandirian ekonomi yang tidak tercerabut dari wilayah, kebudayaan, dan kehidupan bersama.Communities need to know what exists within their territory, understand its history, know how to manage it, and be able to protect it for the next generation. From that knowledge, economic self-reliance can be built without being uprooted from territory, culture, and collective life.

Kemandirian ekonomi tidak sekadar berarti kemampuan menghasilkan uang. Kemandirian juga berarti masyarakat mampu memenuhi kebutuhannya, mengelola wilayahnya, mengambil keputusan bersama, dan memastikan sumber-sumber kehidupan tetap tersedia bagi generasi yang akan datang.Economic self-reliance does not simply mean the ability to earn money. It also means that communities can meet their needs, manage their territories, make decisions together, and ensure that the sources of life remain available for future generations.

Kebahagiaan dan kesejahteraan pun tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan. Keduanya berhubungan dengan kemampuan masyarakat untuk hidup di wilayahnya sendiri, menggunakan bahasanya, menjalankan pengetahuannya, menikmati hasil kerja bersama, dan mewariskan kehidupan yang layak kepada anak-anak.Happiness and well-being are not measured only by the size of an income. They are also connected to a community’s ability to live in its own territory, use its language, practise its knowledge, enjoy the fruits of collective work, and pass a decent life on to its children.

Hasil kerja bersama ikut membiayai bukuCollective work also finances the books

Hubungan antara kegiatan ekonomi dan pewarisan pengetahuan terlihat dalam proses produksi kedua buku tersebut.The relationship between economic activity and the transmission of knowledge can be seen in the production of these two books.

Sebagian pendapatan KUMA Tawaang dari hasil berkebun, penjualan babi dan ikan, serta Ru’kup disisihkan untuk membiayai produksi buku bagi anak-anak TK dan Sekolah Dasar.Part of KUMA Tawaang’s income from gardening, the sale of pigs and fish, and Ru’kup is set aside to finance the production of books for kindergarten and primary-school children.

Menurut Masri Sumondakh, hasil kegiatan ekonomi tidak seluruhnya digunakan kembali sebagai modal usaha. Sebagiannya perlu dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan bersama, termasuk pendidikan anak-anak, penguatan bahasa, kebudayaan, dan pewarisan sistem pengetahuan Masyarakat Adat.According to Masri Sumondakh, not all income from economic activities should be returned to business capital. A portion should be returned to meet collective needs, including children’s education, strengthening language and culture, and transmitting Indigenous knowledge systems.

Dana tersebut digunakan untuk mendukung penyusunan isi, pembuatan ilustrasi, desain, dan pencetakan buku.The funds are used to support content preparation, illustration, design, and printing.

Keputusan ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi KUMA Tawaang tidak berhenti pada proses menanam, memelihara, memanen, menjual, dan memperoleh pendapatan. Hasil kerja bersama juga digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dipakai oleh masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.This decision shows that KUMA Tawaang’s economic activities do not end with planting, raising animals, harvesting, selling, and generating income. The results of collective work are also used to create something the community can use and pass on to the next generation.

Hasil kebun, babi, dan ikan tidak berakhir sebagai uang. Sebagiannya berubah menjadi halaman-halaman buku yang akan digunakan oleh anak-anak untuk mengenal bahasa Tontemboan, nama tumbuhan dan hewan, cerita lisan, serta hubungan Masyarakat Adat dengan alam.The products of gardens, pigs, and fish do not end as money. Some of them become pages in books that children will use to learn Tontemboan, the names of plants and animals, oral stories, and the relationship between Indigenous Peoples and nature.

Penggunaan pendapatan kelompok untuk memproduksi buku juga menjadi bagian dari usaha membangun kemandirian. KUMA Tawaang menggunakan sumber daya dan hasil kerja bersama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kebudayaan masyarakat tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.Using group income to produce books is also part of building self-reliance. KUMA Tawaang uses shared resources and the results of collective work to meet the community’s educational and cultural needs without depending entirely on outside support.

Kegiatan ekonomi menyediakan sumber daya. Sistem pengetahuan Masyarakat Adat memberi arah mengenai bagaimana sumber daya tersebut digunakan.Economic activities provide resources. Indigenous knowledge systems give direction to how those resources are used.

KUMA Tawaang sebagai Sekolah AdatKUMA Tawaang as an Indigenous School

Meskipun didirikan sebagai kelompok ekonomi, dalam perkembangannya KUMA Tawaang juga menjalankan peran sebagai Sekolah Adat.Although established as an economic group, KUMA Tawaang has also come to serve as an Indigenous School.

Peran tersebut tumbuh dari kegiatan sehari-hari dalam pertanian, peternakan, perikanan, kebudayaan, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.That role has grown from everyday activities in agriculture, livestock, fisheries, culture, education, publishing, and documentation.

Sekolah Adat KUMA Tawaang tidak berdiri seperti sekolah formal dengan ruang kelas, pembagian tingkatan usia, dan jadwal pelajaran yang kaku. Sekolah Adat hadir sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat bahasa, sejarah, kebudayaan, dan sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan.KUMA Tawaang’s Indigenous School does not operate like a formal school with classrooms, age-based levels, and rigid timetables. It exists as a shared learning space for strengthening the language, history, culture, and knowledge systems of Tontemboan Indigenous Peoples.

Pertanian tidak sekadar menjadi kegiatan menanam dan menghasilkan pangan. Di dalamnya terdapat proses belajar mengenai tanah, benih, musim, air, cuaca, hama, tumbuhan, dan kerja bersama.Agriculture is more than planting and producing food. It contains a learning process about soil, seeds, seasons, water, weather, pests, plants, and collective work.

Peternakan dan perikanan juga menjadi ruang untuk memahami kehidupan hewan, sumber air, lingkungan, pangan, kesehatan, serta tanggung jawab manusia dalam memelihara makhluk lain.Livestock and fisheries also become spaces for understanding animal life, water sources, the environment, food, health, and human responsibility in caring for other living beings.

Sekolah Adat tidak hanya ditujukan kepada anak-anak dan pemuda. Orang dewasa dan para tetua juga menjadi bagian dari proses belajar. Setiap orang dapat menjadi guru sekaligus murid berdasarkan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan pertanyaan yang dimilikinya.The Indigenous School is not only for children and young people. Adults and elders are also part of the learning process. Everyone can be both teacher and learner according to the knowledge, experience, skills, and questions they bring.

Anak-anak belajar dari orang tua mengenai bahasa dan cerita. Pemuda belajar dari petani mengenai tanah dan musim. Orang tua belajar dari generasi muda mengenai dokumentasi, media, dan teknologi. Para tetua membagikan ingatan mereka sambil terus mempelajari perubahan yang terjadi di lingkungan dan masyarakat.Children learn language and stories from their parents. Young people learn about land and seasons from farmers. Older people learn about documentation, media, and technology from younger generations. Elders share their memories while continuing to learn about changes in the environment and society.

Pengetahuan tidak bergerak hanya dari generasi tua kepada generasi muda. Pengetahuan bergerak ke berbagai arah. Ia dibagikan, diperiksa kembali, diuji melalui pengalaman, dan diteruskan dalam bentuk yang dapat dipahami generasi berikutnya.Knowledge does not move only from older generations to younger ones. It moves in many directions. It is shared, revisited, tested through experience, and passed on in forms that the next generation can understand.

Pertanyaan seorang anak dapat membuat orang tua kembali mengingat sebuah kata. Keterampilan seorang pemuda dapat membantu tetua merekam cerita. Pengalaman seorang petani dapat membantu komunitas memahami perubahan musim.A child’s question may cause an adult to remember a word again. A young person’s skills can help an elder record a story. A farmer’s experience can help the community understand changes in the seasons.

Semua generasi terus belajar.Every generation continues to learn.

Semesta adalah sekolahThe universe is a school

Cara belajar KUMA Tawaang dirangkum dalam gagasan Universe is University, yang dapat dimaknai sebagai “Semesta adalah sekolah atau universitas.”KUMA Tawaang’s approach to learning is expressed in the idea Universe is University, which can be understood as “the universe is a school or university.”

Dalam Sekolah Adat, manusia bukan satu-satunya guru. Tanah, air, tumbuhan, hewan, kebun, sungai, hutan, dan seluruh semesta ikut membentuk pengetahuan.In the Indigenous School, humans are not the only teachers. Land, water, plants, animals, gardens, rivers, forests, and the whole universe also shape knowledge.

Alam bukan sekadar kumpulan sumber daya yang tersedia untuk dimanfaatkan manusia. Alam adalah ruang hidup yang mengajarkan manusia tentang musim, kesuburan, keterhubungan, keseimbangan, dan akibat dari setiap tindakan.Nature is not simply a collection of resources available for human use. It is a living space that teaches people about seasons, fertility, interconnectedness, balance, and the consequences of every action.

Tanah mengajarkan cara menanam, merawat, dan memulihkan kehidupan. Air menunjukkan bahwa kehidupan di satu tempat selalu berhubungan dengan kehidupan di tempat lain. Tumbuhan dan hewan membantu masyarakat membaca keadaan kebun, perubahan musim, dan kesehatan lingkungan.Land teaches how to plant, care for, and restore life. Water shows that life in one place is always connected to life elsewhere. Plants and animals help communities read the condition of gardens, seasonal changes, and environmental health.

Burung dapat membantu masyarakat mengenali waktu dan perubahan keadaan alam. Serangga membantu manusia membaca kesehatan tanaman. Sungai memperlihatkan hubungan antara hulu dan hilir. Hutan mengajarkan bahwa kehidupan terbentuk melalui hubungan berbagai makhluk, bukan oleh satu jenis kehidupan saja.Birds can help communities recognize time and changes in natural conditions. Insects help people read the health of plants. Rivers reveal the connection between upstream and downstream. Forests teach that life is formed through relationships among many beings, not by one form of life alone.

Angin, hujan, matahari, batu, tanah, air, tumbuhan, dan hewan tidak mengajar melalui penjelasan seperti manusia. Untuk belajar dari mereka, masyarakat memerlukan perhatian, pengalaman, kesabaran, dan kemampuan membaca tanda-tanda alam.Wind, rain, sunlight, stones, soil, water, plants, and animals do not teach through explanations in the way humans do. Learning from them requires attention, experience, patience, and the ability to read signs in nature.

Kemampuan tersebut tidak tumbuh hanya dengan membaca buku. Anak-anak perlu datang ke kebun, melihat tumbuhan bertumbuh, mengenali suara burung, menyentuh tanah, mendengar aliran air, dan berbicara dengan orang-orang yang memiliki pengalaman.These abilities do not grow through reading books alone. Children need to go to gardens, watch plants grow, recognize birdsong, touch the soil, listen to flowing water, and speak with people who have experience.

Buku-buku yang diproduksi KUMA Tawaang tidak dimaksudkan untuk menggantikan alam, pengalaman langsung, orang tua, tetua, atau penutur bahasa. Buku menjadi jembatan yang membawa anak-anak kembali kepada lingkungan dan masyarakat tempat pengetahuan itu hidup.The books produced by KUMA Tawaang are not intended to replace nature, direct experience, parents, elders, or language speakers. Books are bridges that bring children back to the environment and community where knowledge lives.

Ketika seorang anak mengenal nama tumbuhan melalui buku, proses belajarnya tidak berhenti pada gambar dan tulisan. Anak dapat diajak mencari tumbuhan tersebut di kebun, mengetahui tempat tumbuhnya, mengenal manfaatnya, dan belajar dari orang yang merawatnya.When a child learns the name of a plant from a book, learning does not stop with the image and text. The child can be invited to find the plant in a garden, discover where it grows, learn its uses, and learn from the person who cares for it.

Ketika anak membaca cerita tentang burung, sungai, atau hutan, ia dapat diajak melihat bahwa manusia hidup bersama makhluk lain dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan tersebut.When children read a story about a bird, river, or forest, they can be encouraged to see that humans live alongside other beings and have responsibilities to maintain those relationships.

Dalam pengertian inilah semesta menjadi sekolah dan semua makhluk dapat menjadi guru.In this sense, the universe becomes a school and every being can become a teacher.

Perempuan Adat dan pendidikan dari rumahIndigenous Women and education from home

Lisah Rumengan dari Kelompok Perempuan Adat KUMA Tawaang melihat keluarga sebagai ruang pertama tempat anak mengenal dunia.Lisah Rumengan of KUMA Tawaang’s Indigenous Women’s Group sees the family as the first space in which a child encounters the world.

Di rumah, anak-anak mulai mempelajari nama makanan, tumbuhan, hewan, pekerjaan, hubungan kekeluargaan, dan cara berinteraksi dengan orang lain. Dalam proses tersebut, Perempuan Adat memiliki peran penting dalam pewarisan bahasa dan pengetahuan.At home, children begin learning the names of foods, plants, animals, kinds of work, family relationships, and ways of interacting with others. In this process, Indigenous Women have an important role in transmitting language and knowledge.

Anak-anak pertama kali belajar melalui percakapan sehari-hari bersama ibu, oma, dan anggota keluarga lainnya. Karena itu, Perempuan Adat memiliki kedudukan penting dalam menjaga agar bahasa dan pengetahuan masyarakat tidak terputus.Children first learn through everyday conversations with their mothers, grandmothers, and other family members. Indigenous Women therefore have an important place in ensuring that the community’s language and knowledge are not broken off from the next generation.

Banyak pengetahuan Masyarakat Adat diwariskan melalui kegiatan sehari-hari yang sering tidak disebut sebagai pendidikan. Pengetahuan mengenai bahan makanan, benih, tumbuhan, pengolahan hasil kebun, kesehatan keluarga, dan hubungan antarmanusia dipelajari melalui praktik kehidupan.Much Indigenous knowledge is passed on through daily activities that are often not described as education. Knowledge about food ingredients, seeds, plants, processing garden produce, family health, and relationships among people is learned through the practice of everyday life.

Namun, tidak semua orang tua yang ingin mengajarkan bahasa Tontemboan mengetahui bagaimana harus memulainya. Sebagian keluarga tidak lagi menggunakan bahasa Tontemboan secara aktif dalam percakapan sehari-hari.However, not every parent who wants to teach Tontemboan knows where to begin. Some families no longer use Tontemboan actively in daily conversation.

Buku bergambar dapat membantu keluarga memulai proses belajar dari hal-hal sederhana. Orang tua dapat memulainya dari satu gambar, satu nama tumbuhan, satu nama hewan, atau satu cerita. Dari sana, anak dan orang tua dapat belajar bersama.Illustrated books can help families begin learning from simple things. Parents can start with one image, one plant name, one animal name, or one story. From there, children and parents can learn together.

Anak juga dapat bertanya kepada opa, oma, atau tetua kampung mengenai kata lain dan cerita yang berhubungan dengan gambar yang ditemukan di dalam buku.Children can also ask their grandfathers, grandmothers, or village elders about other words and stories connected to the images they find in the books.

Proses belajar tersebut tidak hanya berlaku bagi anak-anak. Orang tua yang tidak lagi menguasai banyak kosakata Tontemboan dapat menggunakan buku untuk belajar kembali bersama anak-anaknya.This learning process is not only for children. Parents who no longer know much Tontemboan vocabulary can use the books to learn again together with their children.

Pertanyaan seorang anak dapat membuat orang tua kembali mengingat, mencari, dan mempelajari pengetahuan yang mulai dilupakan. Dengan demikian, buku mengajak seluruh keluarga untuk belajar bersama.A child’s question can lead parents to remember, search for, and relearn knowledge that has begun to be forgotten. In this way, the books invite the whole family to learn together.

Pemuda Adat bukan sekadar penerima warisanIndigenous Youth are more than recipients of inheritance

Vanessa Kellah dari Kelompok Pemuda Adat KUMA Tawaang mengatakan bahwa banyak anak dan generasi muda Tontemboan saat ini tumbuh dengan bahasa Indonesia atau Melayu Manado sebagai bahasa sehari-hari.Vanessa Kellah of KUMA Tawaang’s Indigenous Youth Group says that many Tontemboan children and young people today grow up using Indonesian or Manado Malay as their everyday language.

Mereka mungkin tinggal di wilayah Tontemboan, tetapi belum tentu mengetahui nama tumbuhan, hewan, tempat, atau benda di sekitarnya dalam bahasa Tontemboan. Sebagian juga tidak lagi mengenal cerita-cerita yang dahulu diwariskan secara lisan.They may live in Tontemboan territory but may not know the Tontemboan names of the plants, animals, places, or objects around them. Some also no longer know the stories that were once passed down orally.

Kedua buku tersebut menjadi salah satu jalan agar anak-anak kembali mengenal bahasa, cerita, dan pengetahuan kampung melalui cara yang menarik dan sesuai dengan usia mereka.The two books provide one pathway for children to reconnect with the language, stories, and knowledge of the village in ways that are engaging and appropriate to their age.

Menjaga bahasa tidak cukup dilakukan dengan menyimpan kamus, arsip, manuskrip, atau dokumentasi. Bahasa akan tetap hidup apabila digunakan dalam percakapan dan diteruskan kepada penutur baru.Keeping a language alive requires more than storing dictionaries, archives, manuscripts, or documentation. A language remains alive when it is used in conversation and passed on to new speakers.

KUMA Tawaang ingin agar anak-anak tidak berhenti pada kegiatan membaca. Mereka perlu mengucapkan kata-kata Tontemboan, mendengarkan cerita, mengajukan pertanyaan, dan membicarakannya kembali di rumah maupun di sekolah.KUMA Tawaang wants children to go beyond reading. They need to speak Tontemboan words aloud, listen to stories, ask questions, and talk about them again at home and at school.

Generasi muda juga tidak boleh ditempatkan sebagai penerima pasif warisan para pendahulu. Pemuda Adat perlu mempelajari, mendokumentasikan, menggunakan, dan menyampaikan kembali pengetahuan masyarakat dalam bentuk yang dapat dipahami oleh generasi yang lebih muda.Young people should not be positioned as passive recipients of what earlier generations have left behind. Indigenous Youth need to learn, document, use, and retell community knowledge in forms that younger generations can understand.

Pemuda membawa pengetahuan dan keterampilan baru, terutama dalam penggunaan media, teknologi, desain, dokumentasi, dan penyebaran informasi. Keterampilan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat pewarisan sistem pengetahuan Masyarakat Adat, bukan menggantikannya.Young people bring new knowledge and skills, particularly in media, technology, design, documentation, and communication. These skills can be used to strengthen the transmission of Indigenous knowledge systems rather than replace them.

Identitas sebagai orang Tontemboan tidak cukup dinyatakan melalui nama. Identitas tersebut perlu hidup dalam bahasa, pengetahuan, hubungan dengan alam, dan tindakan sehari-hari.Being Tontemboan cannot be expressed through a name alone. That identity needs to live in language, knowledge, relationships with nature, and everyday action.

Hak anak-anak untuk belajar adatChildren’s right to learn Indigenous knowledge

Kehadiran kedua buku ini membuka jalan agar pengetahuan yang selama ini hidup di Sekolah Adat dapat digunakan pula oleh anak-anak yang belajar di sekolah formal.The presence of these two books opens a way for knowledge that has lived within the Indigenous School to also be used by children studying in formal schools.

Tidak semua anak memiliki kesempatan untuk berjumpa langsung dengan penutur bahasa, tetua, atau pemegang pengetahuan di dalam komunitas. Karena itu, buku dapat menjadi salah satu penghubung antara anak-anak, keluarga, sekolah, dan sumber-sumber pengetahuan yang masih hidup.Not every child has the opportunity to meet language speakers, elders, or knowledge holders in the community directly. Books can therefore become one connection between children, families, schools, and living sources of knowledge.

Pendidikan Adat tidak ditempatkan sebagai lawan dari Pendidikan Formal. Keduanya dapat saling mendukung agar anak-anak memperoleh pendidikan yang tidak memisahkan mereka dari bahasa, sejarah, kebudayaan, alam, dan komunitasnya sendiri.Indigenous Education is not positioned as the opposite of Formal Education. The two can support one another so that children receive an education that does not separate them from their language, history, culture, nature, and their own community.

Tersedia dalam bentuk cetak dan PDFAvailable in print and PDF

KUMA Tawaang akan menyediakan kedua buku dalam bentuk cetak untuk digunakan oleh satu Taman Kanak-kanak dan dua Sekolah Dasar di Wuwuk, serta dalam kegiatan belajar bersama di Sekolah Adat.KUMA Tawaang will make both books available in print for use by one kindergarten and two primary schools in Wuwuk, as well as for shared learning activities in the Indigenous School.

Buku cetak diharapkan dapat mendukung pembelajaran bahasa Tontemboan secara langsung di sekolah. Buku dapat digunakan dalam kegiatan belajar di kelas, membaca bersama, pengenalan lingkungan, serta kegiatan mengenal hewan, tumbuhan, dan cerita lisan yang berasal dari kehidupan masyarakat di sekitar anak-anak.The printed books are expected to support direct Tontemboan language learning in schools. They can be used in classroom activities, shared reading, environmental learning, and activities that introduce children to animals, plants, and oral stories rooted in the life of the communities around them.

Selain edisi cetak, KUMA Tawaang akan menyediakan kedua buku dalam format PDF yang dapat diunduh oleh semua orang yang ingin menggunakannya.In addition to the printed editions, KUMA Tawaang will provide both books in PDF format for anyone who wishes to download and use them.

Versi digital dapat dimanfaatkan oleh guru, orang tua, sekolah, komunitas, pegiat bahasa, Masyarakat Adat, serta keluarga-keluarga Tontemboan yang tinggal di luar Wuwuk.The digital versions can be used by teachers, parents, schools, communities, language activists, Indigenous Peoples, and Tontemboan families living outside Wuwuk.

Tautan untuk mengunduh kedua buku akan tersedia melalui blog KUMA Tawaang. Dengan menyediakan buku secara terbuka, KUMA Tawaang ingin memperluas akses terhadap bahan belajar bahasa Tontemboan dan memungkinkan buku tersebut digunakan oleh lebih banyak anak, keluarga, sekolah, dan komunitas.Links to download both books will be available through the KUMA Tawaang blog. By making the books openly available, KUMA Tawaang aims to expand access to Tontemboan learning materials and enable more children, families, schools, and communities to use them.

Edisi cetak akan memperkuat proses belajar di sekolah-sekolah di Wuwuk. Versi PDF memungkinkan kedua buku menjangkau masyarakat di tempat lain.The printed editions will strengthen learning in schools in Wuwuk. The PDF versions will allow both books to reach communities elsewhere.

Membawa bahasa kembali ke rumah, sekolah, dan kebunBringing language back to homes, schools, and gardens

KUMA Tawaang berharap buku Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan dapat digunakan oleh anak-anak di Sekolah Adat, TK, dan kelas awal Sekolah Dasar untuk mengenal kosakata melalui gambar dan kegiatan yang menyenangkan.KUMA Tawaang hopes that Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan can be used by children in the Indigenous School, kindergarten, and the early grades of primary school to learn vocabulary through images and enjoyable activities.

Buku Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak diharapkan menjadi bacaan bagi anak-anak di Sekolah Adat dan Sekolah Dasar, serta bagi keluarga, komunitas, dan sekolah yang ingin memperkenalkan kembali cerita lisan Minahasa.Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak is intended as reading for children in the Indigenous School and primary schools, as well as for families, communities, and schools that want to reintroduce Minahasa oral stories.

Di sekolah, guru dapat menggunakan kedua buku sebagai bahan pengenalan bahasa dan lingkungan. Di rumah, orang tua dapat membacanya bersama anak. Di kampung, buku dapat mendorong anak-anak mendatangi opa, oma, tetua, dan para penutur bahasa untuk menanyakan kata, cerita, atau pengetahuan yang belum mereka pahami.At school, teachers can use the two books to introduce language and the environment. At home, parents can read them with their children. In the village, the books can encourage children to approach grandfathers, grandmothers, elders, and language speakers to ask about words, stories, or knowledge they do not yet understand.

Di kebun, kata-kata yang ditemukan dalam buku dapat dipertemukan dengan benda dan makhluk yang sebenarnya. Anak-anak dapat melihat bahwa bahasa bukan hanya tulisan di atas kertas.In the garden, words encountered in the books can be connected with real objects and living beings. Children can see that language is more than writing on paper.

Bahasa hidup dalam tanah yang diinjak, tumbuhan yang dirawat, burung yang bersuara, air yang mengalir, pekerjaan masyarakat, dan percakapan sehari-hari.Language lives in the soil beneath people’s feet, in the plants they care for, in birdsong, in flowing water, in the work of the community, and in everyday conversation.

Dari satu nama tumbuhan, satu nama hewan, atau satu cerita lama, sebuah percakapan dapat dimulai. Dari percakapan lahir pertanyaan. Dari pertanyaan tumbuh keinginan untuk belajar. Dari proses belajar itulah pengetahuan Masyarakat Adat terus digunakan, diperkaya, dan diwariskan.A conversation can begin with one plant name, one animal name, or one old story. Conversation gives rise to questions. Questions create a desire to learn. Through that process of learning, Indigenous knowledge continues to be used, enriched, and passed on.

Kedua buku ini adalah hadiah dari Sekolah Adat Wuwuk untuk anak-anak TK dan SD di Minahasa—hadiah yang lahir dari kebun, peternakan, perikanan, Ru’kup, Paelepan, cerita para tetua, dan kerja bersama Masyarakat Adat.These two books are a gift from the Wuwuk Indigenous School to kindergarten and primary-school children in Minahasa — a gift born from gardens, livestock, fisheries, Ru’kup, Paelepan, elders’ stories, and the collective work of Indigenous Peoples.

Semesta adalah sekolah. Semua makhluk adalah guru. Dari sistem pengetahuan itulah kedaulatan wilayah adat, kemandirian ekonomi, kebahagiaan, dan kesejahteraan Masyarakat Adat dibangun.The universe is a school. Every being is a teacher. From these knowledge systems, Indigenous Peoples build sovereignty over customary territory, economic self-reliance, happiness, and well-being.

KUMA Tawaang Produksi Buku Belajar Bahasa Tontemboan

KUMA Tawaang Produces Tontemboan Language Learning Books
Buku untuk anak-anak di Sekolah Adat dan Sekolah FormalBooks for children in Indigenous Schools and formal schools
Melalui buku bergambar dan cerita, KUMA Tawaang mempertemukan anak-anak dengan bahasa, alam, serta sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan.Through illustrated books and stories, KUMA Tawaang brings children into contact with the Tontemboan language, the natural world, and Indigenous knowledge systems.

WUWUK, MINAHASA SELATAN — KUMA Tawaang meyakini bahwa penguasaan terhadap sistem pengetahuan Masyarakat Adat merupakan dasar bagi Masyarakat Adat untuk berdaulat atas wilayah adatnya, membangun kemandirian ekonomi, serta mencapai kehidupan yang bahagia dan sejahtera.WUWUK, SOUTH MINAHASA — KUMA Tawaang believes that a strong command of Indigenous knowledge systems is fundamental for Indigenous Peoples to exercise sovereignty over their customary territories, build economic self-reliance, and achieve lives of well-being and prosperity.

Kedaulatan atas wilayah adat tidak cukup ditandai oleh keberadaan Masyarakat Adat di atas tanah leluhurnya. Masyarakat juga perlu mengetahui sejarah wilayahnya, mengenal bahasa dan nama-nama tempatnya, memahami tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya, serta menguasai cara mengolah, memelihara, dan menjaga alam berdasarkan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.Sovereignty over customary territory is not defined simply by Indigenous Peoples remaining on their ancestral land. Communities also need to know the history of their territory, understand their language and place names, recognize the plants and animals that live there, and master ways of cultivating, caring for, and protecting nature based on knowledge passed down from generation to generation.

Tanpa pengetahuan tersebut, Masyarakat Adat dapat tetap tinggal di wilayahnya sendiri, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk memahami, mengelola, mempertahankan, dan menentukan masa depan wilayah tersebut.Without that knowledge, Indigenous Peoples may continue to live in their own territory while gradually losing the ability to understand, manage, defend, and determine the future of that territory.

Beberapa bulan ini, selesai berkebun, kami (baca: KUMA Tawaang) santai tipis-tipis. Di atas meja pasti ada Cap Tikus. Kami bercerita tentang cerita-cerita tua Minahasa dalam Bahasa Tontemboan dan mulai mendokumentasikannya. Ada yang bercerita- ada yang mendengar. Saya merekam dan mencatat. Kami ingin membuktikan bahwa dari dulu tempat Paelepan adalah salah satu ruang bagi orang Minahasa untuk berpengetahuan dan mencipta karya pengetahuan baru.Over the past few months, after working in the gardens, we — meaning KUMA Tawaang — have been taking it easy for a while. There is always Cap Tikus on the table. We talk about old Minahasa stories in Tontemboan and have begun documenting them. Some tell stories; others listen. I record and take notes. We want to show that Paelepan has long been one of the spaces where Minahasa people build knowledge and create new works of knowledge.

Dari Paelepan itu, lahirlah dua buku ini yang khusus ditujukan untuk anak-anak.From that Paelepan, these two books were born, both created especially for children.

Dari judul, bisa dibayangkan apa isinya.From the titles, one can already imagine what they contain.

Buku ini akan dicetak dan dibagikan ke Sekolah Adat dan Sekolah Formal. Uang dari hasil kami berkebun dan Ru’kup akan digunakan untuk mencetak kedua buku ini.The books will be printed and distributed to Indigenous Schools and formal schools. Money from our gardening work and Ru’kup will be used to print both books.

Anak-anak Masyarakat Adat yang belajar dan bergaul bersama kami memiliki kesempatan yang sangat berharga. Mereka belajar langsung dari para tetua, dari bahasa yang masih digunakan sehari-hari, dari kebun, hutan, sungai, dan berbagai praktik budaya yang tetap hidup di tengah komunitas. Kesempatan seperti ini tidak selalu dimiliki oleh anak-anak yang bersekolah di sekolah formal. Padahal, mereka juga memiliki hak yang sama untuk mengenal bahasa ibu, adat, dan tradisi yang menjadi bagian dari identitas mereka.Indigenous children who learn and spend time with us have a valuable opportunity. They learn directly from elders, from a language still used in daily life, from gardens, forests, rivers, and cultural practices that remain alive within the community. Children in formal schools do not always have the same opportunity. Yet they have the same right to know their mother tongue, customs, and traditions as part of their identity.

Atas dasar itulah, dua buku ini disusun. Kami berharap buku-buku ini dapat menjadi sumber belajar yang membantu menghadirkan pengetahuan Masyarakat Adat ke ruang-ruang pendidikan, baik di sekolah maupun di rumah. Dengan demikian, anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pembelajaran adat, tetap dapat mengenal, mempelajari, dan mencintai pengetahuan dan warisan budaya mereka sendiri sejak usia dini.That is why these two books were created. We hope they can become learning resources that bring Indigenous knowledge into educational spaces, both at school and at home. In this way, children who have had limited access to Indigenous learning can still come to know, study, and love their own knowledge and cultural heritage from an early age.

Buku ini sebagai bentuk kepedulian dari Pendidikan Adat terhadap Pendidikan Formal. Sebagai Hadiah dari Sekolah Adat untuk Sekolah Formal.These books are an expression of Indigenous Education’s care for Formal Education — a gift from an Indigenous School to formal schools.

Pemikiran inilah yang menjadi dasar KUMA Tawaang menyusun dua buku untuk anak-anak, yaitu Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan dan Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak: Fabel, Dongeng Alam, dan Kisah Bijak dari Minahasa .This thinking became the basis for KUMA Tawaang to develop two books for children: Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan and Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak: Fabel, Dongeng Alam, dan Kisah Bijak dari Minahasa.

Kedua buku ini dikembangkan sebagai bagian dari usaha menjaga keberlanjutan sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan. Proses penyusunannya berangkat dari pengetahuan yang masih hidup di tengah komunitas dan melibatkan berbagai generasi dengan pengalaman serta peran yang berbeda.The two books were developed as part of an effort to sustain Tontemboan Indigenous knowledge systems. Their preparation begins with knowledge that remains alive within the community and involves generations with different experiences and roles.

Disusun secara kolektif dan partisipatorisDeveloped collectively and participatorily

Kedua buku disusun secara kolektif dan partisipatoris oleh Tim KUMA Tawaang melalui kerja bersama para tetua, Kelompok Perempuan Adat, Kelompok Pemuda Adat, dan anggota komunitas lainnya.Both books were developed collectively and participatorily by the KUMA Tawaang team through collaboration with elders, the Indigenous Women’s Group, the Indigenous Youth Group, and other community members.

Tumpuan utama penyusunan buku adalah cerita lisan, ingatan, pengalaman hidup, serta pengetahuan bahasa Tontemboan yang masih digunakan dan dipelihara di tengah masyarakat. Pengetahuan yang hidup menjadi sumber utama dalam menentukan kosakata, makna, konteks, dan cerita yang dimasukkan ke dalam buku.The main foundations of the books are oral stories, memory, lived experience, and knowledge of the Tontemboan language that continues to be used and maintained within the community. Living knowledge is the primary source for determining the vocabulary, meanings, contexts, and stories included in the books.

Sumber-sumber tertulis, seperti kamus, arsip, dan hasil penelitian, digunakan sebagai bahan pendukung dan pembanding. Sumber tertulis tidak ditempatkan sebagai otoritas yang lebih tinggi daripada pengetahuan para penutur dan pengalaman Masyarakat Adat.Written sources such as dictionaries, archives, and research are used as supporting and comparative materials. Written sources are not placed above the knowledge of speakers or the lived experience of Indigenous Peoples.

Apabila terdapat perbedaan makna atau penafsiran, Tim KUMA Tawaang mengutamakan penjelasan penutur dan pemegang pengetahuan Tontemboan. Sumber tertulis digunakan untuk membantu proses pemeriksaan, bukan untuk menggantikan ingatan dan pengetahuan yang masih hidup di tengah komunitas.When meanings or interpretations differ, the KUMA Tawaang team gives priority to the explanations of Tontemboan speakers and knowledge holders. Written sources are used to support checking and comparison, not to replace memories and knowledge that remain alive within the community.

Para tetua membagikan kosakata, cerita, ingatan, dan pengetahuan yang mereka terima dari generasi sebelumnya. Perempuan Adat membawa pengetahuan yang hidup dalam keluarga, pengolahan pangan, kebun, tumbuhan, pendidikan anak, dan kegiatan sehari-hari.Elders share vocabulary, stories, memories, and knowledge received from earlier generations. Indigenous Women bring knowledge rooted in family life, food processing, gardens, plants, children’s education, and everyday activities.

Pemuda Adat terlibat dalam pencatatan, penyusunan, dokumentasi, ilustrasi, desain, dan pengembangan cara penyajian agar pengetahuan tersebut dapat dipahami dan disukai oleh anak-anak masa kini.Indigenous Youth take part in recording, compiling, documenting, illustrating, designing, and developing ways of presenting the knowledge so that it can be understood and enjoyed by children today.

Proses penyusunan buku menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Para tetua tidak sekadar ditempatkan sebagai narasumber, sementara pemuda tidak sekadar menjadi pencatat. Semua orang terlibat dalam pertukaran pengetahuan. Mereka bercerita, bertanya, memeriksa kembali ingatan, dan saling melengkapi. Dalam proses tersebut, setiap orang dapat menjadi guru sekaligus pembelajar.The process of making the books becomes an intergenerational meeting place. Elders are not treated merely as sources of information, and young people are not merely note-takers. Everyone takes part in exchanging knowledge. They tell stories, ask questions, revisit memories, and complement one another. In this process, everyone can be both a teacher and a learner.

Mengenal bahasa melalui alam sekitarLearning language through the surrounding environment

Pada sampul buku Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan, dua anak digambarkan sedang bermain dan belajar di tengah kebun. Di sekitar mereka terdapat padi, pisang, kelapa, bunga, burung, kepiting, dan berbagai hewan lainnya. Seekor yaki hitam tampak bergelantungan pada dahan pohon.On the cover of Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan, two children are shown playing and learning in a garden. Around them are rice, bananas, coconuts, flowers, birds, crabs, and various other animals. A black macaque, or yaki, hangs from a tree branch.

Pemandangan alam Minahasa menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal bahasa Tontemboan melalui tumbuhan dan hewan yang dekat dengan kehidupan mereka.The Minahasa landscape becomes an entry point for children to learn Tontemboan through plants and animals that are close to their everyday lives.

Pohon aren diperkenalkan dengan nama a’kël. Kelapa disebut po’po’, padi disebut wene’, sedangkan pisang disebut punti’. Setiap kata disandingkan dengan gambar agar anak-anak dapat menghubungkan bahasa dengan tumbuhan dan hewan yang mereka temukan di halaman rumah, kebun, sawah, sungai, dan lingkungan kampung.The sugar palm is introduced as a’kël. Coconut is po’po’, rice is wene’, and banana is punti’. Each word is paired with an image so that children can connect language with the plants and animals they encounter around their homes, gardens, rice fields, rivers, and village surroundings.

Pembelajaran dimulai melalui nama hewan dan tumbuhan karena bahasa Tontemboan tumbuh bersama alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Nama tumbuhan, hewan, sungai, batu, gunung, kebun, dan kampung bukan sekadar penanda. Di dalam nama-nama tersebut tersimpan pengetahuan mengenai ciri, kegunaan, sejarah, serta hubungan manusia dengan wilayah hidupnya.Learning begins with the names of animals and plants because the Tontemboan language has grown together with nature and the community’s daily life. The names of plants, animals, rivers, stones, mountains, gardens, and villages are more than labels. They carry knowledge about characteristics, uses, history, and human relationships with the places where people live.

Belajar bahasa Tontemboan karena itu tidak cukup dengan menghafalkan terjemahan kata. Anak-anak juga perlu mengenal benda, tempat, pengalaman, dan hubungan yang melahirkan kata tersebut.Learning Tontemboan therefore cannot stop at memorizing word translations. Children also need to encounter the objects, places, experiences, and relationships from which those words emerged.

Ketika seorang anak mempelajari kata a’kël, misalnya, ia tidak berhenti pada pengetahuan bahwa kata tersebut berarti pohon aren. Anak dapat diajak mencari pohon aren, mengetahui tempat tumbuhnya, mengenal bagian-bagiannya, memahami kegunaannya bagi masyarakat, serta belajar dari orang-orang yang bekerja dan hidup bersama pohon tersebut.When a child learns the word a’kël, for example, learning does not end with knowing that it means sugar palm. The child can be invited to find a sugar palm, learn where it grows, recognize its parts, understand how it is used by the community, and learn from people who work and live with the tree.

Dari satu kata, proses belajar dapat berkembang menjadi percakapan mengenai alam, pangan, pekerjaan, sejarah, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.From a single word, learning can grow into conversations about nature, food, work, history, economy, and community life.

Cerita tua sebagai ruang belajarOld stories as spaces for learning

Buku Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak menghadirkan kembali cerita-cerita lisan Tontemboan dalam bahasa yang lebih mudah dibaca dan dipahami oleh anak-anak Sekolah Dasar.Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak brings Tontemboan oral stories back into circulation in language that is easier for primary-school children to read and understand.

Burung, hewan, pohon, sungai, hutan, kebun, batu, dan manusia hadir sebagai bagian dari dunia cerita yang menyimpan pengetahuan mengenai kehidupan Masyarakat Adat Minahasa.Birds, animals, trees, rivers, forests, gardens, stones, and people appear within a world of stories that carries knowledge about the life of Minahasa Indigenous Peoples.

Cerita-cerita tersebut tidak ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu atau hiburan bagi anak-anak. Di dalamnya terdapat cara masyarakat memahami hubungan manusia dengan alam, kehidupan bersama, tanggung jawab terhadap sesama, serta akibat dari tindakan yang mengabaikan keseimbangan kehidupan.These stories are not treated merely as remnants of the past or as entertainment for children. They contain ways of understanding relationships between people and nature, life together, responsibility toward others, and the consequences of actions that disregard the balance of life.

Melalui cerita tentang burung, pohon, sungai, atau hewan, anak-anak belajar bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk yang mempunyai tempat dalam kehidupan. Manusia hidup bersama makhluk lain dan bergantung pada tanah, air, tumbuhan, hutan, udara, serta seluruh lingkungan tempatnya bertumbuh.Through stories about birds, trees, rivers, and animals, children learn that humans are not the only beings with a place in life. People live alongside other beings and depend on land, water, plants, forests, air, and the wider environment in which they grow.

Cerita lisan merupakan salah satu cara Masyarakat Adat menyampaikan pengetahuan tanpa memisahkannya dari pengalaman hidup. Anak-anak tidak hanya menerima perintah mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mereka diajak memahami hubungan sebab dan akibat melalui perjalanan tokoh, pilihan tindakan, dan perubahan yang terjadi di dalam cerita.Oral storytelling is one of the ways Indigenous Peoples pass on knowledge without separating it from lived experience. Children do not simply receive instructions about what they may or may not do. They are invited to understand cause and effect through the journeys of characters, the choices they make, and the changes that unfold in the stories.

Melalui cerita, anak-anak belajar mengenal alam dan cara menjaganya. Mereka juga belajar memahami kedudukannya sebagai bagian dari keluarga, komunitas, wilayah hidup, dan kehidupan bersama makhluk-makhluk lain.Through stories, children learn about nature and how to care for it. They also learn to understand themselves as part of a family, community, living territory, and shared life with other beings.

Ketika sebuah cerita berhenti dituturkan, yang hilang bukan hanya kisah. Kata-kata, nama tempat, pengetahuan tentang alam, ingatan keluarga, dan cara masyarakat memahami dunia dapat ikut menghilang. Karena itu, pewarisan cerita lisan menjadi bagian penting dari keberlanjutan sistem pengetahuan Masyarakat Adat.When a story is no longer told, more than the story itself can disappear. Words, place names, knowledge about nature, family memories, and ways of understanding the world can disappear with it. Passing on oral stories is therefore an important part of sustaining Indigenous knowledge systems.

Berawal sebagai kelompok ekonomiBeginning as an economic group

KUMA Tawaang didirikan sebagai kelompok penguatan ekonomi masyarakat. Kegiatannya bergerak dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai usaha yang ditujukan untuk memperkuat kemandirian Masyarakat Adat di Wuwuk.KUMA Tawaang was established as a group to strengthen the community economy. Its work includes agriculture, livestock, fisheries, and other initiatives intended to strengthen the self-reliance of the Wuwuk Indigenous community.

Namun, KUMA Tawaang tidak menempatkan ekonomi sebagai satu-satunya dasar gerakan. Kegiatan ekonomi harus tumbuh dari sistem pengetahuan Masyarakat Adat dan diarahkan untuk memperkuat kehidupan bersama.KUMA Tawaang, however, does not place the economy as the sole foundation of its movement. Economic activities must grow from Indigenous knowledge systems and be directed toward strengthening life together.

Ketua KUMA Tawaang, Masri Sumondakh, menjelaskan bahwa pertanian, peternakan, dan perikanan tidak dapat dijalankan tanpa pengetahuan mengenai tanah, air, musim, tumbuhan, hewan, pangan, serta hubungan sosial di dalam masyarakat.KUMA Tawaang Chair Masri Sumondakh explains that agriculture, livestock, and fisheries cannot be carried out without knowledge of land, water, seasons, plants, animals, food, and social relationships within the community.

Menurut Masri, ekonomi dibutuhkan agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu, sistem pengetahuan Masyarakat Adat memberikan arah mengenai bagaimana tanah digunakan, bagaimana alam dijaga, bagaimana hasil usaha dikelola, dan bagaimana manfaat ekonomi dapat dirasakan bersama.According to Masri, the economy is needed so that people can meet their needs. Indigenous knowledge systems, meanwhile, provide direction for how land is used, how nature is cared for, how the results of economic activities are managed, and how economic benefits can be shared.

Masyarakat perlu mengetahui apa yang terdapat di dalam wilayahnya, memahami sejarahnya, menguasai cara mengelolanya, dan mampu menjaganya bagi generasi berikutnya. Dari pengetahuan itulah dapat dibangun kemandirian ekonomi yang tidak tercerabut dari wilayah, kebudayaan, dan kehidupan bersama.Communities need to know what exists within their territory, understand its history, know how to manage it, and be able to protect it for the next generation. From that knowledge, economic self-reliance can be built without being uprooted from territory, culture, and collective life.

Kemandirian ekonomi tidak sekadar berarti kemampuan menghasilkan uang. Kemandirian juga berarti masyarakat mampu memenuhi kebutuhannya, mengelola wilayahnya, mengambil keputusan bersama, dan memastikan sumber-sumber kehidupan tetap tersedia bagi generasi yang akan datang.Economic self-reliance does not simply mean the ability to earn money. It also means that communities can meet their needs, manage their territories, make decisions together, and ensure that the sources of life remain available for future generations.

Kebahagiaan dan kesejahteraan pun tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan. Keduanya berhubungan dengan kemampuan masyarakat untuk hidup di wilayahnya sendiri, menggunakan bahasanya, menjalankan pengetahuannya, menikmati hasil kerja bersama, dan mewariskan kehidupan yang layak kepada anak-anak.Happiness and well-being are not measured only by the size of an income. They are also connected to a community’s ability to live in its own territory, use its language, practise its knowledge, enjoy the fruits of collective work, and pass a decent life on to its children.

Hasil kerja bersama ikut membiayai bukuCollective work also finances the books

Hubungan antara kegiatan ekonomi dan pewarisan pengetahuan terlihat dalam proses produksi kedua buku tersebut.The relationship between economic activity and the transmission of knowledge can be seen in the production of these two books.

Sebagian pendapatan KUMA Tawaang dari hasil berkebun, penjualan babi dan ikan, serta Ru’kup disisihkan untuk membiayai produksi buku bagi anak-anak TK dan Sekolah Dasar.Part of KUMA Tawaang’s income from gardening, the sale of pigs and fish, and Ru’kup is set aside to finance the production of books for kindergarten and primary-school children.

Menurut Masri Sumondakh, hasil kegiatan ekonomi tidak seluruhnya digunakan kembali sebagai modal usaha. Sebagiannya perlu dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan bersama, termasuk pendidikan anak-anak, penguatan bahasa, kebudayaan, dan pewarisan sistem pengetahuan Masyarakat Adat.According to Masri Sumondakh, not all income from economic activities should be returned to business capital. A portion should be returned to meet collective needs, including children’s education, strengthening language and culture, and transmitting Indigenous knowledge systems.

Dana tersebut digunakan untuk mendukung penyusunan isi, pembuatan ilustrasi, desain, dan pencetakan buku.The funds are used to support content preparation, illustration, design, and printing.

Keputusan ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi KUMA Tawaang tidak berhenti pada proses menanam, memelihara, memanen, menjual, dan memperoleh pendapatan. Hasil kerja bersama juga digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dipakai oleh masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.This decision shows that KUMA Tawaang’s economic activities do not end with planting, raising animals, harvesting, selling, and generating income. The results of collective work are also used to create something the community can use and pass on to the next generation.

Hasil kebun, babi, dan ikan tidak berakhir sebagai uang. Sebagiannya berubah menjadi halaman-halaman buku yang akan digunakan oleh anak-anak untuk mengenal bahasa Tontemboan, nama tumbuhan dan hewan, cerita lisan, serta hubungan Masyarakat Adat dengan alam.The products of gardens, pigs, and fish do not end as money. Some of them become pages in books that children will use to learn Tontemboan, the names of plants and animals, oral stories, and the relationship between Indigenous Peoples and nature.

Penggunaan pendapatan kelompok untuk memproduksi buku juga menjadi bagian dari usaha membangun kemandirian. KUMA Tawaang menggunakan sumber daya dan hasil kerja bersama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kebudayaan masyarakat tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.Using group income to produce books is also part of building self-reliance. KUMA Tawaang uses shared resources and the results of collective work to meet the community’s educational and cultural needs without depending entirely on outside support.

Kegiatan ekonomi menyediakan sumber daya. Sistem pengetahuan Masyarakat Adat memberi arah mengenai bagaimana sumber daya tersebut digunakan.Economic activities provide resources. Indigenous knowledge systems give direction to how those resources are used.

KUMA Tawaang sebagai Sekolah AdatKUMA Tawaang as an Indigenous School

Meskipun didirikan sebagai kelompok ekonomi, dalam perkembangannya KUMA Tawaang juga menjalankan peran sebagai Sekolah Adat.Although established as an economic group, KUMA Tawaang has also come to serve as an Indigenous School.

Peran tersebut tumbuh dari kegiatan sehari-hari dalam pertanian, peternakan, perikanan, kebudayaan, pendidikan, publikasi, dan dokumentasi.That role has grown from everyday activities in agriculture, livestock, fisheries, culture, education, publishing, and documentation.

Sekolah Adat KUMA Tawaang tidak berdiri seperti sekolah formal dengan ruang kelas, pembagian tingkatan usia, dan jadwal pelajaran yang kaku. Sekolah Adat hadir sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat bahasa, sejarah, kebudayaan, dan sistem pengetahuan Masyarakat Adat Tontemboan.KUMA Tawaang’s Indigenous School does not operate like a formal school with classrooms, age-based levels, and rigid timetables. It exists as a shared learning space for strengthening the language, history, culture, and knowledge systems of Tontemboan Indigenous Peoples.

Pertanian tidak sekadar menjadi kegiatan menanam dan menghasilkan pangan. Di dalamnya terdapat proses belajar mengenai tanah, benih, musim, air, cuaca, hama, tumbuhan, dan kerja bersama.Agriculture is more than planting and producing food. It contains a learning process about soil, seeds, seasons, water, weather, pests, plants, and collective work.

Peternakan dan perikanan juga menjadi ruang untuk memahami kehidupan hewan, sumber air, lingkungan, pangan, kesehatan, serta tanggung jawab manusia dalam memelihara makhluk lain.Livestock and fisheries also become spaces for understanding animal life, water sources, the environment, food, health, and human responsibility in caring for other living beings.

Sekolah Adat tidak hanya ditujukan kepada anak-anak dan pemuda. Orang dewasa dan para tetua juga menjadi bagian dari proses belajar. Setiap orang dapat menjadi guru sekaligus murid berdasarkan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan pertanyaan yang dimilikinya.The Indigenous School is not only for children and young people. Adults and elders are also part of the learning process. Everyone can be both teacher and learner according to the knowledge, experience, skills, and questions they bring.

Anak-anak belajar dari orang tua mengenai bahasa dan cerita. Pemuda belajar dari petani mengenai tanah dan musim. Orang tua belajar dari generasi muda mengenai dokumentasi, media, dan teknologi. Para tetua membagikan ingatan mereka sambil terus mempelajari perubahan yang terjadi di lingkungan dan masyarakat.Children learn language and stories from their parents. Young people learn about land and seasons from farmers. Older people learn about documentation, media, and technology from younger generations. Elders share their memories while continuing to learn about changes in the environment and society.

Pengetahuan tidak bergerak hanya dari generasi tua kepada generasi muda. Pengetahuan bergerak ke berbagai arah. Ia dibagikan, diperiksa kembali, diuji melalui pengalaman, dan diteruskan dalam bentuk yang dapat dipahami generasi berikutnya.Knowledge does not move only from older generations to younger ones. It moves in many directions. It is shared, revisited, tested through experience, and passed on in forms that the next generation can understand.

Pertanyaan seorang anak dapat membuat orang tua kembali mengingat sebuah kata. Keterampilan seorang pemuda dapat membantu tetua merekam cerita. Pengalaman seorang petani dapat membantu komunitas memahami perubahan musim.A child’s question may cause an adult to remember a word again. A young person’s skills can help an elder record a story. A farmer’s experience can help the community understand changes in the seasons.

Semua generasi terus belajar.Every generation continues to learn.

Semesta adalah sekolahThe universe is a school

Cara belajar KUMA Tawaang dirangkum dalam gagasan Universe is University, yang dapat dimaknai sebagai “Semesta adalah sekolah atau universitas.”KUMA Tawaang’s approach to learning is expressed in the idea Universe is University, which can be understood as “the universe is a school or university.”

Dalam Sekolah Adat, manusia bukan satu-satunya guru. Tanah, air, tumbuhan, hewan, kebun, sungai, hutan, dan seluruh semesta ikut membentuk pengetahuan.In the Indigenous School, humans are not the only teachers. Land, water, plants, animals, gardens, rivers, forests, and the whole universe also shape knowledge.

Alam bukan sekadar kumpulan sumber daya yang tersedia untuk dimanfaatkan manusia. Alam adalah ruang hidup yang mengajarkan manusia tentang musim, kesuburan, keterhubungan, keseimbangan, dan akibat dari setiap tindakan.Nature is not simply a collection of resources available for human use. It is a living space that teaches people about seasons, fertility, interconnectedness, balance, and the consequences of every action.

Tanah mengajarkan cara menanam, merawat, dan memulihkan kehidupan. Air menunjukkan bahwa kehidupan di satu tempat selalu berhubungan dengan kehidupan di tempat lain. Tumbuhan dan hewan membantu masyarakat membaca keadaan kebun, perubahan musim, dan kesehatan lingkungan.Land teaches how to plant, care for, and restore life. Water shows that life in one place is always connected to life elsewhere. Plants and animals help communities read the condition of gardens, seasonal changes, and environmental health.

Burung dapat membantu masyarakat mengenali waktu dan perubahan keadaan alam. Serangga membantu manusia membaca kesehatan tanaman. Sungai memperlihatkan hubungan antara hulu dan hilir. Hutan mengajarkan bahwa kehidupan terbentuk melalui hubungan berbagai makhluk, bukan oleh satu jenis kehidupan saja.Birds can help communities recognize time and changes in natural conditions. Insects help people read the health of plants. Rivers reveal the connection between upstream and downstream. Forests teach that life is formed through relationships among many beings, not by one form of life alone.

Angin, hujan, matahari, batu, tanah, air, tumbuhan, dan hewan tidak mengajar melalui penjelasan seperti manusia. Untuk belajar dari mereka, masyarakat memerlukan perhatian, pengalaman, kesabaran, dan kemampuan membaca tanda-tanda alam.Wind, rain, sunlight, stones, soil, water, plants, and animals do not teach through explanations in the way humans do. Learning from them requires attention, experience, patience, and the ability to read signs in nature.

Kemampuan tersebut tidak tumbuh hanya dengan membaca buku. Anak-anak perlu datang ke kebun, melihat tumbuhan bertumbuh, mengenali suara burung, menyentuh tanah, mendengar aliran air, dan berbicara dengan orang-orang yang memiliki pengalaman.These abilities do not grow through reading books alone. Children need to go to gardens, watch plants grow, recognize birdsong, touch the soil, listen to flowing water, and speak with people who have experience.

Buku-buku yang diproduksi KUMA Tawaang tidak dimaksudkan untuk menggantikan alam, pengalaman langsung, orang tua, tetua, atau penutur bahasa. Buku menjadi jembatan yang membawa anak-anak kembali kepada lingkungan dan masyarakat tempat pengetahuan itu hidup.The books produced by KUMA Tawaang are not intended to replace nature, direct experience, parents, elders, or language speakers. Books are bridges that bring children back to the environment and community where knowledge lives.

Ketika seorang anak mengenal nama tumbuhan melalui buku, proses belajarnya tidak berhenti pada gambar dan tulisan. Anak dapat diajak mencari tumbuhan tersebut di kebun, mengetahui tempat tumbuhnya, mengenal manfaatnya, dan belajar dari orang yang merawatnya.When a child learns the name of a plant from a book, learning does not stop with the image and text. The child can be invited to find the plant in a garden, discover where it grows, learn its uses, and learn from the person who cares for it.

Ketika anak membaca cerita tentang burung, sungai, atau hutan, ia dapat diajak melihat bahwa manusia hidup bersama makhluk lain dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan tersebut.When children read a story about a bird, river, or forest, they can be encouraged to see that humans live alongside other beings and have responsibilities to maintain those relationships.

Dalam pengertian inilah semesta menjadi sekolah dan semua makhluk dapat menjadi guru.In this sense, the universe becomes a school and every being can become a teacher.

Perempuan Adat dan pendidikan dari rumahIndigenous Women and education from home

Lisah Rumengan dari Kelompok Perempuan Adat KUMA Tawaang melihat keluarga sebagai ruang pertama tempat anak mengenal dunia.Lisah Rumengan of KUMA Tawaang’s Indigenous Women’s Group sees the family as the first space in which a child encounters the world.

Di rumah, anak-anak mulai mempelajari nama makanan, tumbuhan, hewan, pekerjaan, hubungan kekeluargaan, dan cara berinteraksi dengan orang lain. Dalam proses tersebut, Perempuan Adat memiliki peran penting dalam pewarisan bahasa dan pengetahuan.At home, children begin learning the names of foods, plants, animals, kinds of work, family relationships, and ways of interacting with others. In this process, Indigenous Women have an important role in transmitting language and knowledge.

Anak-anak pertama kali belajar melalui percakapan sehari-hari bersama ibu, oma, dan anggota keluarga lainnya. Karena itu, Perempuan Adat memiliki kedudukan penting dalam menjaga agar bahasa dan pengetahuan masyarakat tidak terputus.Children first learn through everyday conversations with their mothers, grandmothers, and other family members. Indigenous Women therefore have an important place in ensuring that the community’s language and knowledge are not broken off from the next generation.

Banyak pengetahuan Masyarakat Adat diwariskan melalui kegiatan sehari-hari yang sering tidak disebut sebagai pendidikan. Pengetahuan mengenai bahan makanan, benih, tumbuhan, pengolahan hasil kebun, kesehatan keluarga, dan hubungan antarmanusia dipelajari melalui praktik kehidupan.Much Indigenous knowledge is passed on through daily activities that are often not described as education. Knowledge about food ingredients, seeds, plants, processing garden produce, family health, and relationships among people is learned through the practice of everyday life.

Namun, tidak semua orang tua yang ingin mengajarkan bahasa Tontemboan mengetahui bagaimana harus memulainya. Sebagian keluarga tidak lagi menggunakan bahasa Tontemboan secara aktif dalam percakapan sehari-hari.However, not every parent who wants to teach Tontemboan knows where to begin. Some families no longer use Tontemboan actively in daily conversation.

Buku bergambar dapat membantu keluarga memulai proses belajar dari hal-hal sederhana. Orang tua dapat memulainya dari satu gambar, satu nama tumbuhan, satu nama hewan, atau satu cerita. Dari sana, anak dan orang tua dapat belajar bersama.Illustrated books can help families begin learning from simple things. Parents can start with one image, one plant name, one animal name, or one story. From there, children and parents can learn together.

Anak juga dapat bertanya kepada opa, oma, atau tetua kampung mengenai kata lain dan cerita yang berhubungan dengan gambar yang ditemukan di dalam buku.Children can also ask their grandfathers, grandmothers, or village elders about other words and stories connected to the images they find in the books.

Proses belajar tersebut tidak hanya berlaku bagi anak-anak. Orang tua yang tidak lagi menguasai banyak kosakata Tontemboan dapat menggunakan buku untuk belajar kembali bersama anak-anaknya.This learning process is not only for children. Parents who no longer know much Tontemboan vocabulary can use the books to learn again together with their children.

Pertanyaan seorang anak dapat membuat orang tua kembali mengingat, mencari, dan mempelajari pengetahuan yang mulai dilupakan. Dengan demikian, buku mengajak seluruh keluarga untuk belajar bersama.A child’s question can lead parents to remember, search for, and relearn knowledge that has begun to be forgotten. In this way, the books invite the whole family to learn together.

Pemuda Adat bukan sekadar penerima warisanIndigenous Youth are more than recipients of inheritance

Vanessa Kellah dari Kelompok Pemuda Adat KUMA Tawaang mengatakan bahwa banyak anak dan generasi muda Tontemboan saat ini tumbuh dengan bahasa Indonesia atau Melayu Manado sebagai bahasa sehari-hari.Vanessa Kellah of KUMA Tawaang’s Indigenous Youth Group says that many Tontemboan children and young people today grow up using Indonesian or Manado Malay as their everyday language.

Mereka mungkin tinggal di wilayah Tontemboan, tetapi belum tentu mengetahui nama tumbuhan, hewan, tempat, atau benda di sekitarnya dalam bahasa Tontemboan. Sebagian juga tidak lagi mengenal cerita-cerita yang dahulu diwariskan secara lisan.They may live in Tontemboan territory but may not know the Tontemboan names of the plants, animals, places, or objects around them. Some also no longer know the stories that were once passed down orally.

Kedua buku tersebut menjadi salah satu jalan agar anak-anak kembali mengenal bahasa, cerita, dan pengetahuan kampung melalui cara yang menarik dan sesuai dengan usia mereka.The two books provide one pathway for children to reconnect with the language, stories, and knowledge of the village in ways that are engaging and appropriate to their age.

Menjaga bahasa tidak cukup dilakukan dengan menyimpan kamus, arsip, manuskrip, atau dokumentasi. Bahasa akan tetap hidup apabila digunakan dalam percakapan dan diteruskan kepada penutur baru.Keeping a language alive requires more than storing dictionaries, archives, manuscripts, or documentation. A language remains alive when it is used in conversation and passed on to new speakers.

KUMA Tawaang ingin agar anak-anak tidak berhenti pada kegiatan membaca. Mereka perlu mengucapkan kata-kata Tontemboan, mendengarkan cerita, mengajukan pertanyaan, dan membicarakannya kembali di rumah maupun di sekolah.KUMA Tawaang wants children to go beyond reading. They need to speak Tontemboan words aloud, listen to stories, ask questions, and talk about them again at home and at school.

Generasi muda juga tidak boleh ditempatkan sebagai penerima pasif warisan para pendahulu. Pemuda Adat perlu mempelajari, mendokumentasikan, menggunakan, dan menyampaikan kembali pengetahuan masyarakat dalam bentuk yang dapat dipahami oleh generasi yang lebih muda.Young people should not be positioned as passive recipients of what earlier generations have left behind. Indigenous Youth need to learn, document, use, and retell community knowledge in forms that younger generations can understand.

Pemuda membawa pengetahuan dan keterampilan baru, terutama dalam penggunaan media, teknologi, desain, dokumentasi, dan penyebaran informasi. Keterampilan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat pewarisan sistem pengetahuan Masyarakat Adat, bukan menggantikannya.Young people bring new knowledge and skills, particularly in media, technology, design, documentation, and communication. These skills can be used to strengthen the transmission of Indigenous knowledge systems rather than replace them.

Identitas sebagai orang Tontemboan tidak cukup dinyatakan melalui nama. Identitas tersebut perlu hidup dalam bahasa, pengetahuan, hubungan dengan alam, dan tindakan sehari-hari.Being Tontemboan cannot be expressed through a name alone. That identity needs to live in language, knowledge, relationships with nature, and everyday action.

Hak anak-anak untuk belajar adatChildren’s right to learn Indigenous knowledge

Kehadiran kedua buku ini membuka jalan agar pengetahuan yang selama ini hidup di Sekolah Adat dapat digunakan pula oleh anak-anak yang belajar di sekolah formal.The presence of these two books opens a way for knowledge that has lived within the Indigenous School to also be used by children studying in formal schools.

Tidak semua anak memiliki kesempatan untuk berjumpa langsung dengan penutur bahasa, tetua, atau pemegang pengetahuan di dalam komunitas. Karena itu, buku dapat menjadi salah satu penghubung antara anak-anak, keluarga, sekolah, dan sumber-sumber pengetahuan yang masih hidup.Not every child has the opportunity to meet language speakers, elders, or knowledge holders in the community directly. Books can therefore become one connection between children, families, schools, and living sources of knowledge.

Pendidikan Adat tidak ditempatkan sebagai lawan dari Pendidikan Formal. Keduanya dapat saling mendukung agar anak-anak memperoleh pendidikan yang tidak memisahkan mereka dari bahasa, sejarah, kebudayaan, alam, dan komunitasnya sendiri.Indigenous Education is not positioned as the opposite of Formal Education. The two can support one another so that children receive an education that does not separate them from their language, history, culture, nature, and their own community.

Tersedia dalam bentuk cetak dan PDFAvailable in print and PDF

KUMA Tawaang akan menyediakan kedua buku dalam bentuk cetak untuk digunakan oleh satu Taman Kanak-kanak dan dua Sekolah Dasar di Wuwuk, serta dalam kegiatan belajar bersama di Sekolah Adat.KUMA Tawaang will make both books available in print for use by one kindergarten and two primary schools in Wuwuk, as well as for shared learning activities in the Indigenous School.

Buku cetak diharapkan dapat mendukung pembelajaran bahasa Tontemboan secara langsung di sekolah. Buku dapat digunakan dalam kegiatan belajar di kelas, membaca bersama, pengenalan lingkungan, serta kegiatan mengenal hewan, tumbuhan, dan cerita lisan yang berasal dari kehidupan masyarakat di sekitar anak-anak.The printed books are expected to support direct Tontemboan language learning in schools. They can be used in classroom activities, shared reading, environmental learning, and activities that introduce children to animals, plants, and oral stories rooted in the life of the communities around them.

Selain edisi cetak, KUMA Tawaang akan menyediakan kedua buku dalam format PDF yang dapat diunduh oleh semua orang yang ingin menggunakannya.In addition to the printed editions, KUMA Tawaang will provide both books in PDF format for anyone who wishes to download and use them.

Versi digital dapat dimanfaatkan oleh guru, orang tua, sekolah, komunitas, pegiat bahasa, Masyarakat Adat, serta keluarga-keluarga Tontemboan yang tinggal di luar Wuwuk.The digital versions can be used by teachers, parents, schools, communities, language activists, Indigenous Peoples, and Tontemboan families living outside Wuwuk.

Tautan untuk mengunduh kedua buku akan tersedia melalui blog KUMA Tawaang. Dengan menyediakan buku secara terbuka, KUMA Tawaang ingin memperluas akses terhadap bahan belajar bahasa Tontemboan dan memungkinkan buku tersebut digunakan oleh lebih banyak anak, keluarga, sekolah, dan komunitas.Links to download both books will be available through the KUMA Tawaang blog. By making the books openly available, KUMA Tawaang aims to expand access to Tontemboan learning materials and enable more children, families, schools, and communities to use them.

Edisi cetak akan memperkuat proses belajar di sekolah-sekolah di Wuwuk. Versi PDF memungkinkan kedua buku menjangkau masyarakat di tempat lain.The printed editions will strengthen learning in schools in Wuwuk. The PDF versions will allow both books to reach communities elsewhere.

Membawa bahasa kembali ke rumah, sekolah, dan kebunBringing language back to homes, schools, and gardens

KUMA Tawaang berharap buku Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan dapat digunakan oleh anak-anak di Sekolah Adat, TK, dan kelas awal Sekolah Dasar untuk mengenal kosakata melalui gambar dan kegiatan yang menyenangkan.KUMA Tawaang hopes that Ayo Mengenal Hewan dan Tumbuhan dalam Bahasa Tontemboan can be used by children in the Indigenous School, kindergarten, and the early grades of primary school to learn vocabulary through images and enjoyable activities.

Buku Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak diharapkan menjadi bacaan bagi anak-anak di Sekolah Adat dan Sekolah Dasar, serta bagi keluarga, komunitas, dan sekolah yang ingin memperkenalkan kembali cerita lisan Minahasa.Cerita Tua Tontemboan untuk Anak-Anak is intended as reading for children in the Indigenous School and primary schools, as well as for families, communities, and schools that want to reintroduce Minahasa oral stories.

Di sekolah, guru dapat menggunakan kedua buku sebagai bahan pengenalan bahasa dan lingkungan. Di rumah, orang tua dapat membacanya bersama anak. Di kampung, buku dapat mendorong anak-anak mendatangi opa, oma, tetua, dan para penutur bahasa untuk menanyakan kata, cerita, atau pengetahuan yang belum mereka pahami.At school, teachers can use the two books to introduce language and the environment. At home, parents can read them with their children. In the village, the books can encourage children to approach grandfathers, grandmothers, elders, and language speakers to ask about words, stories, or knowledge they do not yet understand.

Di kebun, kata-kata yang ditemukan dalam buku dapat dipertemukan dengan benda dan makhluk yang sebenarnya. Anak-anak dapat melihat bahwa bahasa bukan hanya tulisan di atas kertas.In the garden, words encountered in the books can be connected with real objects and living beings. Children can see that language is more than writing on paper.

Bahasa hidup dalam tanah yang diinjak, tumbuhan yang dirawat, burung yang bersuara, air yang mengalir, pekerjaan masyarakat, dan percakapan sehari-hari.Language lives in the soil beneath people’s feet, in the plants they care for, in birdsong, in flowing water, in the work of the community, and in everyday conversation.

Dari satu nama tumbuhan, satu nama hewan, atau satu cerita lama, sebuah percakapan dapat dimulai. Dari percakapan lahir pertanyaan. Dari pertanyaan tumbuh keinginan untuk belajar. Dari proses belajar itulah pengetahuan Masyarakat Adat terus digunakan, diperkaya, dan diwariskan.A conversation can begin with one plant name, one animal name, or one old story. Conversation gives rise to questions. Questions create a desire to learn. Through that process of learning, Indigenous knowledge continues to be used, enriched, and passed on.

Kedua buku ini adalah hadiah dari Sekolah Adat Wuwuk untuk anak-anak TK dan SD di Minahasa—hadiah yang lahir dari kebun, peternakan, perikanan, Ru’kup, Paelepan, cerita para tetua, dan kerja bersama Masyarakat Adat.These two books are a gift from the Wuwuk Indigenous School to kindergarten and primary-school children in Minahasa — a gift born from gardens, livestock, fisheries, Ru’kup, Paelepan, elders’ stories, and the collective work of Indigenous Peoples.

Semesta adalah sekolah. Semua makhluk adalah guru. Dari sistem pengetahuan itulah kedaulatan wilayah adat, kemandirian ekonomi, kebahagiaan, dan kesejahteraan Masyarakat Adat dibangun.The universe is a school. Every being is a teacher. From these knowledge systems, Indigenous Peoples build sovereignty over customary territory, economic self-reliance, happiness, and well-being.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.Let us work from the village, for the future.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi yang menghormati hak Masyarakat Adat, keputusan komunitas, pengetahuan, wilayah adat, dan pembagian peran yang adil.Contact KUMA Tawaang for collaboration that respects Indigenous rights, community decisions, knowledge, customary territory, and fair roles.

Buka halaman kontakOpen contact page