Deliberation and Access to Funding: Strengthening the Work KUMA Tawaang Has Already Begun

Wuwuk, 12 Agustus 2026 — Perempuan Adat, tetua, Pemuda Adat, dan anggota KUMA Tawaang duduk bersama dalam musyawarah untuk membicarakan kesempatan mengakses dukungan pendanaan bagi kegiatan KUMA yang sudah berjalan.

Bagi KUMA Tawaang, musyawarah bukan hanya pertemuan sebelum suatu kegiatan dilakukan. Musyawarah merupakan cara KUMA mengambil keputusan bersama. Kebutuhan kelompok, kegiatan yang perlu diperkuat, pembagian tanggung jawab, penggunaan dukungan, sampai pengelolaan hasil dibicarakan bersama.

Karena itu, keterlibatan Perempuan Adat, tetua, dan Pemuda Adat menjadi penting. Musyawarah memberi ruang bagi pengalaman para tetua, pengetahuan dan peran Perempuan Adat, serta gagasan dan keterlibatan Pemuda Adat untuk bertemu sebelum keputusan diambil.

Musyawarah untuk membicarakan akses pendanaan

Salah satu hal yang dibicarakan dalam musyawarah 12 Agustus adalah kesempatan untuk memasukkan proposal kepada Dana Nusantara melalui Pengurus Wilayah AMAN Sulawesi Utara.

KUMA mendapat kesempatan untuk mencoba mengajukan usulan yang dapat memperkuat kegiatan yang selama ini sudah dikerjakan anggota. Karena itu, pembicaraan mengenai pendanaan dimulai dari pertanyaan tentang apa yang memang dibutuhkan KUMA, bukan dari pertanyaan tentang kegiatan apa yang harus dibuat karena tersedia dana.

Dukungan digunakan untuk memperkuat apa yang KUMA sudah lakukan.

Sebelum proposal tersebut disusun, KUMA sudah bekerja. Anggota telah mengelola sawah dan ladang, memelihara ternak, membudidayakan ikan, serta menjalankan berbagai bentuk kerja bersama di kampung.

Karena itu, proposal yang dimasukkan kepada Dana Nusantara bukan titik awal keberadaan KUMA Tawaang. Proposal tersebut merupakan salah satu upaya untuk mencari dukungan bagi pekerjaan yang telah lebih dahulu tumbuh dari komunitas.

Penguatan Perempuan Adat dan Pemuda Adat

Arah penting lain yang dibicarakan adalah penguatan peran Perempuan Adat dan Pemuda Adat. Bagi KUMA, keduanya tidak hanya ditempatkan sebagai peserta atau penerima manfaat kegiatan.

Perempuan Adat perlu memiliki ruang untuk ikut menentukan keputusan, memimpin kegiatan, mengelola pekerjaan, dan meneruskan pengetahuan yang berhubungan dengan pangan, tanah, benih, air, musim, serta kehidupan komunitas.

Pemuda Adat juga perlu memperoleh tanggung jawab nyata. Keterlibatan mereka tidak hanya sebagai tenaga tambahan, tetapi juga dalam pengelolaan kegiatan, pencatatan, penggunaan teknologi, dokumentasi, perikanan, peternakan, serta proses belajar langsung dari para tetua, Perempuan Adat, petani, dan anggota komunitas lainnya.

Dengan cara itu, musyawarah juga menjadi ruang regenerasi. Pengetahuan tidak hanya dibicarakan, tetapi diteruskan melalui tanggung jawab dan pekerjaan nyata.

Percaya pada gagasan Pendanaan Langsung

KUMA Tawaang terbuka untuk mencoba mengakses Dana Nusantara karena percaya pada gagasan Pendanaan Langsung atau Direct Funding kepada komunitas.

Bagi KUMA Tawaang, gagasan Pendanaan Langsung penting apabila benar-benar memberikan ruang kepada komunitas untuk menentukan kebutuhannya sendiri, mengambil keputusan melalui musyawarah, menyusun rencana, menjalankan kegiatan, dan mengelola dukungan berdasarkan keputusan komunitas.

Dukungan dari luar seharusnya tidak dimulai dengan program yang sudah ditentukan terlebih dahulu, kemudian komunitas hanya diminta menjalankannya. Dukungan seharusnya melihat apa yang sudah dilakukan komunitas dan apa yang sudah diputuskan bersama, lalu membantu memperkuat pekerjaan tersebut.

Karena itu, terbuka terhadap pendanaan tidak berarti KUMA Tawaang bergantung pada pendanaan. Dukungan dapat membantu menyediakan kebutuhan yang belum tersedia, memperkuat usaha yang sudah berjalan, dan memperbesar ruang bagi Perempuan Adat serta Pemuda Adat untuk mengambil tanggung jawab dalam ekonomi komunitas.

Namun keputusan mengenai apa yang perlu dilakukan tetap harus berada pada komunitas.

Lolos atau tidak, KUMA Tawaang tetap ada

Proposal kepada Dana Nusantara melalui Pengurus Wilayah AMAN Sulawesi Utara sudah dimasukkan. Sampai saat ini belum ada perkembangan lebih lanjut mengenai usulan tersebut.

Bagi KUMA Tawaang, hal itu tidak menghentikan pekerjaan yang sudah berjalan. Diterima atau tidaknya proposal bukan penentu keberadaan KUMA Tawaang.

KUMA Tawaang tidak ada karena ada proyek. KUMA Tawaang tidak bekerja karena ada proposal. Ada dukungan atau belum ada dukungan, KUMA Tawaang tetap ada dan terus mengada melalui kerja bersama di kampung.

Jika dukungan diperoleh, dukungan itu akan digunakan untuk memperkuat kegiatan yang sudah dibicarakan dan diputuskan melalui musyawarah. Jika dukungan belum tersedia, anggota tetap menjalankan pekerjaan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Di sinilah musyawarah menjadi penting. KUMA Tawaang menentukan kebutuhannya terlebih dahulu, baru kemudian membicarakan bagaimana kebutuhan tersebut dapat diperkuat.

KUMA Tawaang berharap prinsip Pendanaan Langsung benar-benar diwujudkan dalam praktik: dukungan sampai kepada komunitas, keputusan tetap berada pada komunitas, Perempuan Adat dan Pemuda Adat semakin kuat, dan pendanaan digunakan untuk memperkuat apa yang komunitas sudah lakukan.

Bagi KUMA Tawaang, proses itu tidak dimulai dari proposal. Ia dimulai dari musyawarah, lalu dikerjakan bersama.

Wuwuk, 12 August 2026 — Indigenous Women, elders, Indigenous Youth, and other members of KUMA Tawaang sat together in deliberation to discuss opportunities to access funding support for work that KUMA has already been carrying out.

For KUMA Tawaang, deliberation is not simply a meeting held before an activity begins. It is the way KUMA makes collective decisions. The group discusses its needs, the activities that need strengthening, the division of responsibilities, the use of support, and the management of results together.

This is why the participation of Indigenous Women, elders, and Indigenous Youth matters. Deliberation creates a space where the experience of elders, the knowledge and roles of Indigenous Women, and the ideas and participation of Indigenous Youth can meet before decisions are made.

Deliberating access to funding

One of the issues discussed during the 12 August meeting was the opportunity to submit a proposal to Dana Nusantara through the North Sulawesi Regional Chapter of AMAN.

KUMA Tawaang was given an opportunity to try submitting a proposal that could strengthen activities its members were already carrying out. The discussion about funding therefore began with what KUMA genuinely needs, rather than with the question of what new activities should be created simply because funding might be available.

Support is meant to strengthen what KUMA Tawaang is already doing.

Before the proposal was prepared, KUMA Tawaang was already working. Members were managing rice fields and dryland farms, raising livestock, farming fish, and carrying out different forms of collective work in the village.

The proposal submitted to Dana Nusantara is therefore not the starting point of KUMA Tawaang. It is one effort to seek support for work that had already grown from within the community.

Strengthening Indigenous Women and Indigenous Youth

Another important direction discussed by KUMA Tawaang is the strengthening of Indigenous Women and Indigenous Youth. KUMA Tawaang does not see them simply as participants or beneficiaries of activities.

Indigenous Women need space to participate in decision-making, lead activities, manage work, and transmit knowledge related to food, land, seeds, water, seasons, and community life.

Indigenous Youth also need real responsibilities. Their participation is not limited to providing additional labour. It includes managing activities, keeping records, using technology, documenting community work, participating in fisheries and livestock activities, and learning directly from elders, Indigenous Women, farmers, and other community members.

In this way, deliberation also becomes a space for regeneration. Knowledge is not only discussed; it is passed on through responsibility and direct practice.

Believing in the idea of Direct Funding

KUMA Tawaang is open to seeking support from Dana Nusantara because it believes in the idea of Direct Funding to communities.

For KUMA, Direct Funding is meaningful when communities genuinely have the space to identify their own needs, make decisions through deliberation, prepare their plans, carry out their work, and manage support according to community decisions.

External support should not begin with a programme designed elsewhere and then handed to a community to implement. Support should first recognise what people are already doing and what they have collectively decided, and then help strengthen that work.

Being open to funding therefore does not mean that KUMA Tawaang depends on funding. Support can help provide resources that are not yet available, strengthen existing livelihoods, and expand the space for Indigenous Women and Indigenous Youth to take responsibility within the community economy.

Decisions about what needs to be done, however, must remain with the community.

Whether the proposal succeeds or not, KUMA remains

The proposal to Dana Nusantara through the North Sulawesi Regional Chapter of AMAN has been submitted. There has been no further development regarding the proposal so far.

For KUMA Tawaang, this does not stop the work that is already underway. Whether or not the proposal is approved does not determine KUMA's existence.

KUMA does not exist because there is a project. KUMA Tawaang does not work because there is a proposal. With or without external support, KUMA Tawaang continues to exist and take shape through collective work in the village.

If support becomes available, it will be used to strengthen activities that have already been discussed and decided through deliberation. If support has not yet arrived, members will continue working with the resources they have.

This is why deliberation matters. KUMA Tawaang first determines what the community needs, and only then discusses how those needs might be strengthened.

KUMA Tawaang hopes that the principle of Direct Funding will genuinely be realised in practice: support reaches communities, decisions remain with communities, Indigenous Women and Indigenous Youth become stronger, and funding strengthens what communities are already doing.

For KUMA Tawaang, the process does not begin with a proposal. It begins with deliberation, followed by collective work.

Musyawarah dan Akses Pendanaan: Memperkuat Kerja KUMA Tawaang yang Sudah Berjalan

Deliberation and Access to Funding: Strengthening the Work KUMA Tawaang Has Already Begun

Wuwuk, 12 Agustus 2026 — Perempuan Adat, tetua, Pemuda Adat, dan anggota KUMA Tawaang duduk bersama dalam musyawarah untuk membicarakan kesempatan mengakses dukungan pendanaan bagi kegiatan KUMA yang sudah berjalan.

Bagi KUMA Tawaang, musyawarah bukan hanya pertemuan sebelum suatu kegiatan dilakukan. Musyawarah merupakan cara KUMA mengambil keputusan bersama. Kebutuhan kelompok, kegiatan yang perlu diperkuat, pembagian tanggung jawab, penggunaan dukungan, sampai pengelolaan hasil dibicarakan bersama.

Karena itu, keterlibatan Perempuan Adat, tetua, dan Pemuda Adat menjadi penting. Musyawarah memberi ruang bagi pengalaman para tetua, pengetahuan dan peran Perempuan Adat, serta gagasan dan keterlibatan Pemuda Adat untuk bertemu sebelum keputusan diambil.

Musyawarah untuk membicarakan akses pendanaan

Salah satu hal yang dibicarakan dalam musyawarah 12 Agustus adalah kesempatan untuk memasukkan proposal kepada Dana Nusantara melalui Pengurus Wilayah AMAN Sulawesi Utara.

KUMA mendapat kesempatan untuk mencoba mengajukan usulan yang dapat memperkuat kegiatan yang selama ini sudah dikerjakan anggota. Karena itu, pembicaraan mengenai pendanaan dimulai dari pertanyaan tentang apa yang memang dibutuhkan KUMA, bukan dari pertanyaan tentang kegiatan apa yang harus dibuat karena tersedia dana.

Dukungan digunakan untuk memperkuat apa yang KUMA sudah lakukan.

Sebelum proposal tersebut disusun, KUMA sudah bekerja. Anggota telah mengelola sawah dan ladang, memelihara ternak, membudidayakan ikan, serta menjalankan berbagai bentuk kerja bersama di kampung.

Karena itu, proposal yang dimasukkan kepada Dana Nusantara bukan titik awal keberadaan KUMA Tawaang. Proposal tersebut merupakan salah satu upaya untuk mencari dukungan bagi pekerjaan yang telah lebih dahulu tumbuh dari komunitas.

Penguatan Perempuan Adat dan Pemuda Adat

Arah penting lain yang dibicarakan adalah penguatan peran Perempuan Adat dan Pemuda Adat. Bagi KUMA, keduanya tidak hanya ditempatkan sebagai peserta atau penerima manfaat kegiatan.

Perempuan Adat perlu memiliki ruang untuk ikut menentukan keputusan, memimpin kegiatan, mengelola pekerjaan, dan meneruskan pengetahuan yang berhubungan dengan pangan, tanah, benih, air, musim, serta kehidupan komunitas.

Pemuda Adat juga perlu memperoleh tanggung jawab nyata. Keterlibatan mereka tidak hanya sebagai tenaga tambahan, tetapi juga dalam pengelolaan kegiatan, pencatatan, penggunaan teknologi, dokumentasi, perikanan, peternakan, serta proses belajar langsung dari para tetua, Perempuan Adat, petani, dan anggota komunitas lainnya.

Dengan cara itu, musyawarah juga menjadi ruang regenerasi. Pengetahuan tidak hanya dibicarakan, tetapi diteruskan melalui tanggung jawab dan pekerjaan nyata.

Percaya pada gagasan Pendanaan Langsung

KUMA Tawaang terbuka untuk mencoba mengakses Dana Nusantara karena percaya pada gagasan Pendanaan Langsung atau Direct Funding kepada komunitas.

Bagi KUMA Tawaang, gagasan Pendanaan Langsung penting apabila benar-benar memberikan ruang kepada komunitas untuk menentukan kebutuhannya sendiri, mengambil keputusan melalui musyawarah, menyusun rencana, menjalankan kegiatan, dan mengelola dukungan berdasarkan keputusan komunitas.

Dukungan dari luar seharusnya tidak dimulai dengan program yang sudah ditentukan terlebih dahulu, kemudian komunitas hanya diminta menjalankannya. Dukungan seharusnya melihat apa yang sudah dilakukan komunitas dan apa yang sudah diputuskan bersama, lalu membantu memperkuat pekerjaan tersebut.

Karena itu, terbuka terhadap pendanaan tidak berarti KUMA Tawaang bergantung pada pendanaan. Dukungan dapat membantu menyediakan kebutuhan yang belum tersedia, memperkuat usaha yang sudah berjalan, dan memperbesar ruang bagi Perempuan Adat serta Pemuda Adat untuk mengambil tanggung jawab dalam ekonomi komunitas.

Namun keputusan mengenai apa yang perlu dilakukan tetap harus berada pada komunitas.

Lolos atau tidak, KUMA Tawaang tetap ada

Proposal kepada Dana Nusantara melalui Pengurus Wilayah AMAN Sulawesi Utara sudah dimasukkan. Sampai saat ini belum ada perkembangan lebih lanjut mengenai usulan tersebut.

Bagi KUMA Tawaang, hal itu tidak menghentikan pekerjaan yang sudah berjalan. Diterima atau tidaknya proposal bukan penentu keberadaan KUMA Tawaang.

KUMA Tawaang tidak ada karena ada proyek. KUMA Tawaang tidak bekerja karena ada proposal. Ada dukungan atau belum ada dukungan, KUMA Tawaang tetap ada dan terus mengada melalui kerja bersama di kampung.

Jika dukungan diperoleh, dukungan itu akan digunakan untuk memperkuat kegiatan yang sudah dibicarakan dan diputuskan melalui musyawarah. Jika dukungan belum tersedia, anggota tetap menjalankan pekerjaan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Di sinilah musyawarah menjadi penting. KUMA Tawaang menentukan kebutuhannya terlebih dahulu, baru kemudian membicarakan bagaimana kebutuhan tersebut dapat diperkuat.

KUMA Tawaang berharap prinsip Pendanaan Langsung benar-benar diwujudkan dalam praktik: dukungan sampai kepada komunitas, keputusan tetap berada pada komunitas, Perempuan Adat dan Pemuda Adat semakin kuat, dan pendanaan digunakan untuk memperkuat apa yang komunitas sudah lakukan.

Bagi KUMA Tawaang, proses itu tidak dimulai dari proposal. Ia dimulai dari musyawarah, lalu dikerjakan bersama.

Wuwuk, 12 August 2026 — Indigenous Women, elders, Indigenous Youth, and other members of KUMA Tawaang sat together in deliberation to discuss opportunities to access funding support for work that KUMA has already been carrying out.

For KUMA Tawaang, deliberation is not simply a meeting held before an activity begins. It is the way KUMA makes collective decisions. The group discusses its needs, the activities that need strengthening, the division of responsibilities, the use of support, and the management of results together.

This is why the participation of Indigenous Women, elders, and Indigenous Youth matters. Deliberation creates a space where the experience of elders, the knowledge and roles of Indigenous Women, and the ideas and participation of Indigenous Youth can meet before decisions are made.

Deliberating access to funding

One of the issues discussed during the 12 August meeting was the opportunity to submit a proposal to Dana Nusantara through the North Sulawesi Regional Chapter of AMAN.

KUMA Tawaang was given an opportunity to try submitting a proposal that could strengthen activities its members were already carrying out. The discussion about funding therefore began with what KUMA genuinely needs, rather than with the question of what new activities should be created simply because funding might be available.

Support is meant to strengthen what KUMA Tawaang is already doing.

Before the proposal was prepared, KUMA Tawaang was already working. Members were managing rice fields and dryland farms, raising livestock, farming fish, and carrying out different forms of collective work in the village.

The proposal submitted to Dana Nusantara is therefore not the starting point of KUMA Tawaang. It is one effort to seek support for work that had already grown from within the community.

Strengthening Indigenous Women and Indigenous Youth

Another important direction discussed by KUMA Tawaang is the strengthening of Indigenous Women and Indigenous Youth. KUMA Tawaang does not see them simply as participants or beneficiaries of activities.

Indigenous Women need space to participate in decision-making, lead activities, manage work, and transmit knowledge related to food, land, seeds, water, seasons, and community life.

Indigenous Youth also need real responsibilities. Their participation is not limited to providing additional labour. It includes managing activities, keeping records, using technology, documenting community work, participating in fisheries and livestock activities, and learning directly from elders, Indigenous Women, farmers, and other community members.

In this way, deliberation also becomes a space for regeneration. Knowledge is not only discussed; it is passed on through responsibility and direct practice.

Believing in the idea of Direct Funding

KUMA Tawaang is open to seeking support from Dana Nusantara because it believes in the idea of Direct Funding to communities.

For KUMA, Direct Funding is meaningful when communities genuinely have the space to identify their own needs, make decisions through deliberation, prepare their plans, carry out their work, and manage support according to community decisions.

External support should not begin with a programme designed elsewhere and then handed to a community to implement. Support should first recognise what people are already doing and what they have collectively decided, and then help strengthen that work.

Being open to funding therefore does not mean that KUMA Tawaang depends on funding. Support can help provide resources that are not yet available, strengthen existing livelihoods, and expand the space for Indigenous Women and Indigenous Youth to take responsibility within the community economy.

Decisions about what needs to be done, however, must remain with the community.

Whether the proposal succeeds or not, KUMA remains

The proposal to Dana Nusantara through the North Sulawesi Regional Chapter of AMAN has been submitted. There has been no further development regarding the proposal so far.

For KUMA Tawaang, this does not stop the work that is already underway. Whether or not the proposal is approved does not determine KUMA's existence.

KUMA does not exist because there is a project. KUMA Tawaang does not work because there is a proposal. With or without external support, KUMA Tawaang continues to exist and take shape through collective work in the village.

If support becomes available, it will be used to strengthen activities that have already been discussed and decided through deliberation. If support has not yet arrived, members will continue working with the resources they have.

This is why deliberation matters. KUMA Tawaang first determines what the community needs, and only then discusses how those needs might be strengthened.

KUMA Tawaang hopes that the principle of Direct Funding will genuinely be realised in practice: support reaches communities, decisions remain with communities, Indigenous Women and Indigenous Youth become stronger, and funding strengthens what communities are already doing.

For KUMA Tawaang, the process does not begin with a proposal. It begins with deliberation, followed by collective work.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari bekerja dari kampung, untuk masa depan.Let us work from the village, for the future.

Hubungi KUMA Tawaang untuk kolaborasi yang menghormati hak Masyarakat Adat, keputusan komunitas, pengetahuan, wilayah adat, dan pembagian peran yang adil.Contact KUMA Tawaang for collaboration that respects Indigenous rights, community decisions, knowledge, customary territory, and fair roles.

Buka halaman kontakOpen contact page